Senin, 11 Desember 2017

Pulanglah Ukhti

Dan para sahabat pun telah berpulang kepangkuan rabbnya.
Menari indah bersama bayang
Keindahan hidup nan abadi.

Saat bayang semu mengitari sekelilingnya
Mereka memilih berdarah dan berhijrah
Demi agama sang junjunganNya.

[Pulanglah ukhti! Kembalilah ke rumahmu jangan kau nodai iffahmu sebagai muslimah, tempatmu bukan dijalan. Menuntut keadilan dan menyeru di depan umum!]

Sekali lagi nada itu berulang masuk dalam sebuah jaringan pribadi. Diam sudah lidah ini melihat mereka menghujat kami, dalam hati mungkin mereka belum tahu maksud kami. Atau mereka pura-pura dan bahkan tak mau tahu.

Ah, betapapun saya tak ada hak untuk menebak dan menghukumi apa yang ada dalam hati mereka yang berkata demikian.

Menanggapi hal itu, saya hanya ingin menyampaikan sebuah kisah dalam mihrab Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, adalah Ummu Aiman Ibunda yang mengasuh Rasul sepeninggal Aminah. Ummu Aiman mengumumkan dirinya masuk islam sejak awal dakwah dan menjadi muslimah yang baik.

Ummu Aiman ikut hijrah bersama Rasul dengan berjalan kaki, berpuasa, dan bangun malam. Meski sudah lanjut usia ia tak ingin ketinggalan untuk bergabung dengan para pahlawan islam dalam berperang meninggikan kalimat Allah SWT.

Merasakan banyak penyiksaan dan penindasan kaum musyrikin karena keislamannya yang begitu dini,  Ummu Aiman tak goyah sedikitpun.

Ummu Aiman dalam kesempatan lain dalam perang Uhud bersama Nabi Muhammad, dan berperan bersama para wanita lainnya, dalam menyediakan air minum dan mengobati prajurit yang terluka. Tak hanya itu ia juga hadir dalam perang Khaibar bersama Rasulullah Shallahi alaihi wa sallam, dan memberi bantuan sekuat tenaga.

Kisah seorang wanita suci nan mulia, yang diberi keistimewaan yakni diberi air oleh Allah dari langit dalam sebuah kisah perjalanan hijrahnya.

Saya belajar dari kisah heroik wanita seperti mereka. Bahwa meskinya kita berkontribusi meskipun kemampuan dan kesanggupan ini lemah.

Jangan kita rela dengan hal yang buruk, bahkan senantiasa berusaha untuk pertambahan kebaikan dan meminimalisir keburukan.

Saya kejalan sebagai bentuk (titik keberpihakanm) dan arah-arah tujuan, yang tak ingin hidup terombang-ambing tanpa arah tujuan dan tak berbuat dengan pasti.

Sekali lagi kita diajarkan agar mengacuhkan orang yang menghalangi semangat juang dan keislaman kita, tetaplah teguh menjalani. Tak usah hiraukan mereka yang tak ingin berjuang menyeru kebaikan karena mereka itu orang pengecut yang gagal dan menginginkanmu seperti mereka.

Sekali lagi, kami muslimah ikut turun kejalan karena kami khawatir bahwa Allah akan mempertanyakan atas apa yang telah diri kami perbuat di dunia ini dalam membela agama kami ini.

Kami pun ingin punya hujjah dihadapanNya kelak saat ditanya kemana kami saat agama, ulama, umara, dan kitab suci kami dihina. Kami ingin berbuat untuk menyeru kepada-Nya.

Tak malukah kalian kepada kisah seekor semut yang mengangkat tempayan berisi air untuk memadamkan api yang akan membakar Nabi Ibrahim?

Air itu sedikitpun tak ada bandingannya dengan api yang berkobar. Tapi sang semut ingin memperlihatkan keberpihakannya.

#Day16
#squad3
#Palestinatercinta
#Islamrahmatanlilalamin
#belaislam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mendidik Anak Usia Dini

Terkadang saya mendengar perkataan orang tua yang mengatakan otak anak saya belum siap menempuh pendidikan dan belajar. Padahal ...