Selasa, 31 Oktober 2017

Tuhan Kirimkan Aku Hujan

Menahan tangis
Selalunya membuat sesak didada
Seakan semuanya goyah
Ingin berteriak kencang
Ingin menangis sekeras mungkin

Tuhan
Aku mengikhlaskan semuanya
Aku telah mengusahakan yang terbaik, jika memang sperti ini
Kan kuterima semua ketentuanmu

Kaupun tau tuhan
Aku sungguh lemah
Aku tak berdaya melawan takdirmu
Aku hanya mampu mengusahaknnya

Tuhan
Jika memang belum kau izinkan
Apa yang menjadi impianku
Izinkan aku meminta kali ini tuhan

Kirimkan aku hujan
Aku ingin menagis keras
Bukan karena tak menerima takdirmu
Sungguh

Aku ingin hujan
Karenanya aku dapat menangis kencang dan tak ada yang mendengar suara tangisku

Tuhan
Kirimkan aku hujan
Biarkan aku menangis
Mengeluarkan suaraku yang selama ini tercekat
Bairkan langit menemaniku menangis
Aku ingin tak ada orang yang melihat tangisku

Tuhan
Kirimkan aku hujan
Biarkan hanya hujan yang tau kesedihanku
Biarkan hujan menghapusnya
Aku hanya ingin hujan saat ini

Senin, 30 Oktober 2017

Akulah Pembunuhnya

Waktu sudah menunjukkan pukul tiga belas, matahari siang itu sangat menyengat membuat ubun-ubun serasa mendidih.

Seorang wanita sedang memegang sebilah pisau berlumuran darah. Adalah aku wanita itu, didepanku tergeletak seorang pria tak bernafas berlumuran darah.

Aku adalah seorang wanita yang baru setahun lalu menyelesaikan studiku di salah satu perguruan tinggi swasta. Usiaku sekarang memasuki dua puluh dua tahun, masa dimana semangat seorang pemuda menggebu. Katanya.

Aku adalah mantan aktivis sekaligus ketua di salah satu lembaga dakwa di kampusku dulu. Banyak orang yang mencurigai organisasi kami diluar sana, sebagai lembaga dakwah garis keras.

Ya... itulah persepsi mereka

Semua bukti mengarah kepadaku, aku ditangkap dibawa ke kantor polisi bersama dengan si mayat.

"Apa pendapatmu tentang lelaki yang terbunuh itu?" Tanya salah seorang petugas kepolisian.

"Sa....sa..sa..." aku tak mampu berkata, kerudung yang aku kenakan telah basah oleh keringat dingin. "Ya Allah, bagaimana ini?" Tangisku

"La haula wala kuata illa billah" Seruku sambil menangis tersedu-sedu

"Hei kamu kenapa nak? Kamu kenapa menangis" Seru seorang perempuan dari balik pintu

Aku terbagun dari tempat tidur dan mendapati suara mama dan suara tangisku masih sempat kudengar.

"Ehh....Anu mah, saya cuma mimpi ko mah, mama tidak usah kaget gitu, tidak apa-apa mah, cuma mimpi!" Seruku kepada mama berusaha tenang.

Aku mengusap air mataku yang masih berbekas.

Aku segera menenangkan mama, aku khawatir mama khawatir terhadapku, karena yang aku tau mama hampir tiap hari puasa kalau ada anaknya yang kenapa-napa.

Aku melirik jam di handphoneku, sekitar pukul tiga belas siang. Buku catatan harian, buku bacaan, pulpen dan.... ya! "Aku ternyata ketiduran saat membaca tadi" Gumamku dalam hati.

Itu dia buku yang berjudul "Ali Sang Pembela Rasululullah" aku membacanya setelah sholat Dzuhur,  buku itu aku pinjam dari perpustakaan umum Kota Palopo sebelum pulang ke rumah.

Sub judul yang barusan aku baca sebelum tertidur memang membuatku menitikan air mata saat membacanya.

Dikisahkan, Pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib, terjadi suatu peristiwa pembunuhan sebagaiman dalam mimpiku di atas.

Singkat cerita, saat seorang yang berdiri itu di bawa ke hadapan khalifah Ali.

"Apa pendapatmu tentang lelaki yang teebunuh dihadapanmu itu?" Tanya Khalifah kepada tersangka "Saya telah membunuhnya" jawabnya dengan tenang.

Karena sudah mengaku hukumanpun dijatuhkan, tapi datang seorang pemuda yang tergesa-gesa.

"Hentikan! Hadapkan kembali ia kepada Khalifah Ali! Akulah pembunuhnya!" serunya.

Orang-orang menjadi heran karena pemuda itu, tersangka dan pemuda yang mengaku pembunuhnya pun di hadapkan kembali kepada Khalifah Ali.

"Tukang jagal itu bukan pembunuhnya. Akulah pembunuhnya!" ulang orang itu di hadapan Khalifah Ali.

"Lalu mengapa engkau mengaku sebagai pembunuhnya?" tanya Khalifah kepada tukang jagal.

"Saya terpaksa mengaku sebagai pembunuhnya, karena orang-orang menemukan saya tengah menggenggam pisau disamping mayat yang tergeletak itu.

Bukti-bukti sangat kuat bahwa itu adalah saya, padahal tidaklah seperti itu. Saya tengah menyembelih seekor domba, tiba-tiba keinginan saya buang air kecil tidak tertahankan. Saya segera ke tempat itu masih mengenggam pisau. Saya sangat kaget melihat mayat itu tergeletak dan saat itu orang-orang melihat saya." jawabnya polos

Khalifah Ali berfikir sejenak, kemudian memanggil Hasan putranya untuk dimintai pendapat.

Hasan berkata "Meskipun lelaki yang ke dua lah yang membunuhnya, ia telah menyelamatkan jiwa tukang jagal itu. Allah berfirman, "Barang siapa menghidupkan (menyelamatkan hidup) sebuah jiwa, maka seakan-akan telah menghidupkan (menyelamatkan hidup) semua orang."

Akhirnya pembunuh sebenarnya, yakni laki-laki ke dua yang datang belakangan dibebaskan dan hanya dikenai diyat (ganti rugi) untuk keluarga korban.

Sedangkan tukang jagal yang dituduh membunuh dibebaskan, ia sangat gembira tidak jadi dihukum.

MaashaAllah, sungguh cerdas Hasan bin Abi Thalib, ia dapat memberikan keadilan bagi pembunuh yang bertobat dan mengakui kesalahannya.

Ini dikarenakan pembunuh tersebut telah jujur. Padahal pembunuh tersebut bisa saja tidak diketahui perbuatannya karena ada tukang jagal yang tampak terbukti bersalah.

Beginilah rasanya, jika dituduh melakukan makar, dituduh melakukan pemberontakan, dituduh melakukan tindak kejahatan, sementara bukan kita pelakunya. Namun apa daya diri tak mampu mengelak karena tak mampu memberi kesaksian.

Bahkan berucap pun akan menambah masalah. Itulah yang mereka dan aku rasakan dalam kehidupan ini. Dunia bag neraka bagi kami, bagi sebahagian orang yang ingin melihat banyak orang berbahagia di kehidupan setelah ini

Duhai sungguh besar harapanku, kelak bahkan hari ini masih ada orang yang seadil Hasan dan Sejujur Sang Pembunuh

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah tersebut. Mampu memberi kehidupan kepada banyak orang

#30DWC9
#Squad9
#Figters
#Day20
#MuslimahPenaPeradaban

Minggu, 29 Oktober 2017

Tak Sekedar Angan

Jangan salah kaprah dengan istilah membenahi diri dan mempersiapkan  diri menjadi pribadi yang baik

Tak bisa dipungkiri banyak orang yang memperbaiki penampilannya ataupun sikapnya agar terlihat baik dan juga agar mendapat pasangan yang baik kelak

Memang ini bukanlah sesuatu yang salah, namun meluruskan kembali niat haruslah diperhatikan

"Banyak orang yang baik, tapi malah menikah dengan yang tidak baik!, Banyak orang yang tidak baik, malah menikahnya dengan yang baik-baik"

Itulah kalimat yang sering muncul dikalangan ibu-ibu atau kaula muda, mereka terlalu sibuk dengan siapa mereka akan berpasangan

Mungkin akan lebih baik, jika kata dengan siapa? ini diganti dengan kata, karena siapa?

Bukan dengan siapa kita akan menikah, tapi karena siapa?

Tengoklah cara orang-orang hebat ini mencintai, mereka mencintai bukan karena rasa cinta pada cinta itu sendiri. Tapi ada jalan cinta yang lain di sana

Jika seseorang mampu menemukan jalan itu maka ia akan mampu mencinta seperti cinta Fatimah dan Ali

Juga seperti sempurnanya cinta Khadijah dengan Rasulullah, Muhammad Shallalau alaihi wa sallam

Juga mencontoh cara hebat mencintai ala Asiyah wanita mulia, cantik nan elok akhlaknya yang bersuamikan Fir'aun

Atau juga jalan cinta nabi Nuh yang kelak dikhianati oleh Anak dan istrinya

MaashaAllah
Bagaimanapun kitalah yang akan sepenuhnya bertanggung atas diri kita.

Dari mereka kita belajar
Sebuah cinta yang kokoh seperti pohon, akarnya terhujam semakin dalam dan merambat, batangnya tegak tak tergoyahkan, buahnya semakin menjumbai

Dan untuk mencapai itu
Tak hanya sekedar angan
Tak mentok pada kata
Ada usaha, belajar, mengkaji dan tentunya banyak membaca kisah para sahabat dan shahabiyah
Karena dengannya (Islam)
Manisnya iman akan terasa

#30DWC9
#Squad9
#Day19
#MuslimahPenaPeradaban

Sabtu, 28 Oktober 2017

Kriteria Spesial

Kadang seorang wanita atau pria menunda dan belum mau menikah karena kriteria yang mereka cari belum ketemu

Atau tak jarang mereka sibuk menghayalkan, "Kalau yang aku dapat nanti begini, aku bagaiamana yah,? kalau jodohku nanti seperti ini aku bisa begini ngak yah?"

Atau misalnya, "semoga nanti yang aku nikahi seperti kriteriaku, kalau tidak aku bisa gawat aktifitas ini dan itu bisa ribet"

Yah... dalam menentukan masa depan, setiap orang punya cara dan pilihannya masing-masing.

Seseorang tidak bisa selalu sama dengan yang kita anggap baik. Demikian juga sebaliknya, mungkin menurut sebagian orang harus seprti ini malah menurut kita tidak harus seperti itu

.........

Seperti misalnya teman saya yang satu ini, saat ngobrol santai tadi siang. Entahlah kami membahas perihal kapurung (Makanan khas Kota Palopo), eh malah sampai ke pembahasan seputar pernikahan. 


Entahlah, obrolan memang selalu unik, apalagi ngobrol sama teman sebaya. Yah jadilah semuanya melebar kemana-mana.

"Saya selalu khawatir ukhti masalah ini, kalau ukhti sendiri punya standar seperti apa?"Aku tertawa kecil melihat temanku bertanya serius diselingi senyuman rada malu-malu di bibirnya.

"Kalau saya ukh, saya bahkan tak berani menyebut nama seseorang dalam doa dan sujudku"

"Bukan karena kita tak mencintai, justru karena sangat mencintainya. Bukan karena kita tak berharap, justru saya sangat mengharapnya, tapi cinta dan harapan seharusnya sepenuhnya saya serahkan kepadaNya" Jawabku

"Itulah ukh, saya malah tidak ada keriteria apapun yang spesial, karena saya serahkan masalah ini pada ahlinya.Tapi bukan berarti saya menyalahkan orang yang memasang keriteria ini dan itu, karena itu hak mereka."

Tak ada kriteria yang spesial, harus ini dan itu. Cukup dipertemukan dengan lelaki yang baik bagiku dunia dan akhirat.
.
"Tentu jika kita sudah mempercayakan yang terbaik kepada Allah, InshaAllah yang datang kelak mengetuk pintu rumahku kita adalah yang terbaik menurut Allah, aku inshaAllah yakin itu, sebagaimana yakinku kepada Allah."

" Aku yakin sekali Ia hanya akan menggerakkan orang pilihanNya yang memang baik menurutNya untukku, entah ia baik dimataku atau tidak, aku hanya akan memandang sebagaimana pandangan Allah kepadanya yakni pandangan keyakinan, dialah jawaban atas doaku selama ini" aku kembali menjelaskan ke temanku yang terdiam seperti menyimpan banyak tanya atas jawabanku.

.......

Tengoklah bunda Asiyah yang merupakan manusia mulia, Asiyah merupakan contoh terbaik sebuah kesabaran dan keteguhan bahkan doanya diabadikan Alquran dalam surah At-Tahrim ayat 11, ketika penyiksaan bertubi-tubi ia terima dari suaminya.

Wanita shalihah, cantik, penyayang, sabar dan kokoh keimanannya, namun yang terbaik menurut Allah baginya adalah bersuamikan Fir'aun yang amat kasar dan senantiasa menyiksanya agar mengakui suaminya (Fir'uan) sebagai tuhan.

Asiyah diuji keteguhan dan kesabarannya lewat suaminya, Itulah rahasia Allah.

Allah tahu yang baik bagi hambanya. Sekalipin menurut akal manusia itu buruk.

Dengan kesabaran dan keteguhannya menghadapi penderitaan dalam rumah tangga ia dibalas dengan surga.

Bahkan tak berlebihan, jika baginda nabi Muhammad shallalahu alaihi wassalam menyuruh kaum wanita muslim menjadikan wanita yang satu ini sebagai contoh dan teladan terbaik.

.

Pun begitu dengan nabi Nuh, seorang yang diberi predikat nabi dan memiliki keutamaan di sisi Allah SWT
.

Lagi-lagi, yang terbaik menurut Allah kadang diluar nalar manusia, siapa sangka isteri nabi Nuh adalah salah seorang wanita yang kelak akan menentang perjuangannya.

.

Selalu ada hikmah dibalik kejadian. Al Quran adalah hikmah yang denganya adalah petunjuk bagi kita agar dapat mengambil pelajaran

Serahkan segalanya kepada Allah sang pemilik kekusaan, sambil berikhtiar.

#30DWC9
#Squad9
#Day18
#MuslimahPenaPeradaban


Jumat, 27 Oktober 2017

Waktuku, Waktumu

Seperti saat Aku mengenang kebersamaan dengan teman kecilku, tempatku bermain, tempatku belajar, tempatku menimba ilmu

Tentang sahabat
Tentang masa lalu
Masa dimana Aku menambal kesenangan dan kepahitan
Menjadi sebuah proses dalam perjuangan
Tentang masa.
Masa yang takkan kembali

Sperti saat ini
Dimana hati hanya dapat mengenang, mengingat,
menangisi, bahkan....
Menyesali masa itu
Masa yang telah terlewat

Aku tersadar
Hatiku meringis
Tenggorokanku tercekat
Tak terasa air mata berlinang

Bukan karena cengeng
Sungguh bukan.
Hatiku mungkin ditakdirkan sulit melupakan, hingga berimbas pada linangan air mata dipipiku
Selalunya seperti itu

Pasti....
Pasti akan tiba, waktuku
Dan waktumu

Saat dunia nyata, surga, neraka yang seolah cerita
Akan tiba saatnya
Surga dan neraka itu nyata, dan dunia tinggal cerita, kenangan, masa lalu.

Akan tiba saatnya
Saat kita hanya mampu mengenang, atau mungkin akan menangisi dunia (masa lalu) kita yang tinggal cerita

Maka siapkan bekal
Lakukan yang terbaik
Yang mampu kau lakukan
Karena sejatinya kau takkan mampu mengembalikan apa yang telah kau sesali

Waktuku, Waktumu
Bisa saja berhenti
Kapan saja
Dimana saja
Dan menimpa siapa saja

#30DWC9
#Squad9
#Day17
#MuslimahPenaPeradaban
#EkaShalihahAamiin...

Kamis, 26 Oktober 2017

Pala jokka-jokka

Bapak selalu mengulang sebuah pepatah dari nenek saat sesuatu momen ia alami

Tergiang dan terekam jelas dibenak kami anak-anaknya, saat Bapak tersenyum lalu mengeluarkan mantranya

"Pala jokka-jokka
Teppala tuda-tudang
Pala tuda-tudang
Teppala leu-leu" kata bapak di ikuti kalimat "Begitu nak!" di akhri kalimatnya sambil menyunggingkan senyum

Sebuah kalimat sederhana namun serat akan makna

Aku bahkan kesulitan menerjemahkannya. Tapi karena Aku orang Bugis, mudah bagiku memahami maksudnya

Aku berangkat dari rumah jam 10 pagi tadi, Alhamdulillah tiba jam 12 kurang lebih di Kota Palopo. Aku langsung tepar, meluruskan punggung di dalam kamar. Jam 12:12 Adzan sudah berkumandang, Akupun bergegas sholat lalu kemudian menyusun rencana kegiatan hari ini.

Setiap hari harus ada kegiatan, harus ada rencana. Dan hari inipun sekalipun lelah, setidaknya aktifitas harus jalan.

Selesai sholat Aku membuat list aktifitas harian di memo handphone.

Dalam hati sempat bergeming, "Apa saya istirahat saja yah?" Bisikky dalam hati

Tanganku yang bagian kanan memang serasa terkilir akibat bawa motor, rasanya pegel. Tapi

"Tidak apa-palah saya tetap ingin beraktifitas hari ini" Jawabku

Setelah pulang dari BANK Aku melanjutkan ke list berikutnya, silaturahim ke rumah salah satu teman akhwat, rasanya sudah lama tidak berjumpa. Agenda ke perpustakaan hari ini Aku batalkan karena sudah agak sore

Pukul empat belas lewat tiga puluh menit, Aku berangkat dengan ditemani beberapa akhwat menuju rumah ukhti Nurfah di dekat Islamic Center.

Kami dipersilahkan masuk dan disuguhi makanan. Ya! Kebetulan hari ini adalah wisuda ukhti Nurfah.

Saat Aku bersiap pulang ke rumah kontrakan, tiba-tiba salah seorang guru kami Ummu Faiz muncul dari balik pintu

"Assalamualaikum" Seru Ummu Faiz

"Waalaikumussalam, silahkan masuk" Jawab kami serentak

Karena kedatangan bliau akhirnya Aku menunda pulang dan memilih sholat di rumah ukhti Nurfan dan melanjutkan ngobrol santai dengan ummu Faiz, maklum kami baru berjumpa setelah beberapa bulan

Kamipun mengobrol santai dan bercerita masa-masa saat Aku masih mengajar mengaji anak-anak bliau pada masa kuliah dulu, juga diselingi obrolan-obrolan yang lain.

Bliau menyarankan agar Aku tinggal di Palopo, juga bliau memberikan masukan banyak kepada sore tadi, tentang bisnis, tentang pegajian, tentang kerjaan tentang masa depanku. Alhamdulillah

Niat awalnya hanya silaturahim ke satu orang, ternyata Allah beri yang lebih.

Silaturahim jalan, Ikut menghadiri syukuran wisuda juga iya dan plus dapat masukan dari seorang ustadzah. Alhamdulillah

Rasa syukurku  harusnya semakin banyak, jika saja Aku memilih beristirahat di rumah, pegel di badanku memang mungkin akan hilang, Tapi pilihanku untuk berjalan membuat hatiku kembali bersyukur, itu yang lebih indah. Alhamdulillah

Inilah yang mungkin Bapak maksud....
"Pala jokka-jokka
Teppala tuda-tudang
Pala tuda-tudang
Teppala leu-leu"

Semoga Bermanfaat
Setidaknya

#30DWC9
#Squad9
#Day16
#MuslimahPenaPeradaban

Rabu, 25 Oktober 2017

Hitam Legam

Siang itu matahari di atas kepala membuat tempat yang tandus bertambah panas oleh terik matahari.

Seorang budak hitam legam dari habasyah terbaring tanpa daya. Ia bertelanjang dada, di badannya hanya ada celana yang ia kenakan. Nafasnya sesak, matanya ia tutup karena tak mampu menatap matahari yang bersinar, ia menyunggingkan mulutnya seolah menahan panasnya udara padang pasir dan beratnya bongkahan batu besar yang menindihnya.

Keringat dari pori-pori kulitnya yang legam itu mulai bercucuran keluar.

Bilal bin rabbah namanya, ia adalah seorang budak

Jlak....jlak....jlak
Cambukan bertubi-tubi yang ia terima membuat kulit dan dagingnya tercabut, darahpun menyembur dengan terangkatnya cambukan yang dilayangkan oleh tuannya, Umayyah bik Khalaf.

Tak banyak yang tuannya minta. Ia hanya ingin budaknya ini kembali menyembah tuhan nenek moyang mereka. Bukan keyakinan yang Bilal percaya sekarang. Hanya satu, Bilal harus mengakui kembali agama nenek moyangnya

"Ahadun....Ahad" tukas Bilal dalam ringkihannya

Ketika cambukan semakin menderanya, Bilal hanya menjawab dengan satu kata "Ahad". Cambukan Umayyah tidak membuatnya goyah sedikitpun.

Seorang budak, hitam, dan kedudukannya sangat rendah dimata manusia, namun Keimanannya yang baru seumuran jagung mampu membuatnya bertahan dan mempertahankan agamanya. Terik matahari, tindihan batu, cambukan dan kepahitan yang ia terima semakin memperkuat keimanannya, seolah tak goyah sedikitpun.

Kekuatan apakah yang membuatnya sedemikian kokoh?

Menulusuri kisah keimanan para sahabat membuat kita tertegun. Begitu kokoh dan kuat keimanan mereka.

Mampukah kita mengambil langkah membela dan memperjuangkan keyakinan sekuat mereka?

Kisah ini memberi gambaran bahwa semakin genting sebuah tekanan semakin dekat sebuah pertolongan dan kemenangan.

Tahukah kita.
Apa yang terjadi kemudian saat bilal semakin di dera dengan cambukan di tengah teriknya matahari di padang pasir?

Yah! Pertolongan itu datang melalui perantara manusia yang lain.
Dan ia di angkat derajatnya di sisi Allah SWT.

.................
Kau tak perlu risau dengan wajahmu
Kaupun tak perlu risau dengan hartamu
Dan jangan risaukan kedudukanmu
Semuanya akan sirna pada masanya

Ambillah hikmaah dan pelajaran dari seorang budak yang hitam. Ia begitu mulia disisi Robbnya
Karena keimanan dalam jiwanya
Maka yang perlu sangat kau risaukan adalah Ilmu dan Imanmu
Wahai diri....

Ya Allah
Ya Rabbana
Istiqomahkan kami dalam jalan dakwah ini
Hingga kami khusnul khatimah di jalanmu

#30DWC
#Days15
#Squad9
Kamar 23:11
#MuslimahPenaPeradaban

Selasa, 24 Oktober 2017

Perjalanan yang Menginspirasi

Beruntungnya kita di anugrahi tempat seindah ini untuk selalu bersyukur betapa maha besarnya Dia.

Tak perlu berfikir panjang untuk sekedar menjauh dari penatnya kerjaan atau macet serta hiruk pikuk kota, datanglah ke gunung, agar gunung menasehatimu.

Saat telingamu penat
Mendengar manusia mengeluh atas hidup mereka
Kau memilih untuk menjauh dari hidup yang mereka eluhkan

Aku mungkin bukan pendaki
Dan belum pernah merasakan apa yang pendaki rasakan
Namun cukup mendengar cerita sebuah maha karya yang luarbiasa ini membuatku takjub
Atas setiap kejadian
Perihal yang tuhan ciptakan

Gunung tak hanya menyimpan keindahan
Tak sekedar sebongkah tanah yang kokoh
Juga pesona yang memukau
Bukan hanya memiliki keindahan puncak dan abadinya bunga Edelweis

Namun dibalik itu semua
Ia memiliki kekuatan
Yang mampu memberikan manusia
Hikmah tentang kecilnya kita dihadapan sang pencipta

Mereka yang mencintai gunung dan
Memiliki ketertarikan mendaki
Sejatinya mereka menemukan sebuah makna
Perjalanan perasaan dan inspirasi yang tak terhingga

Saat manusia sering menyepelekan sesuatu yang sederhana
Mereka belajar menghargai yang terlihat sederhana
Ketika sepotong roti menjadi penyambung nyawa
Dan setetes air di botol menjadi begitu berharga....

Upps
Dan yang paling buat bahagia
Saat dapat hadiah ucapan dari Sang Gurunya mendaki

Ibu Sulaeha, S.Ag. M.Ag
Jazakillah sudah susah payah membawa kertas dan tetap terlihat rapih. Hehe Saya malah fokus sama kertasnya yang tidak kusut.

Trima kasih doanya....
Kapan yah mendaki juga
Ingin merasakan sensasi
Menulis di atas gunung

#30DWC
#Days14
#Squad9
#MuslimahPenaPeradaban

Sabtu, 21 Oktober 2017

Motivasi Menulis


Motivasi Menulis
Dari sinilah semua gencatan pena itu dimulai, sebuah motivasi mengapa kita menulis.

Arief B Iskandar berkata dalam bukunya yang berjudul Biarkan Jemari Menari, bahwa "Motivasi itu ibarat setumpuk sekam mengering, sementara niat ibarat kilatan api. Sekam tetaplah sekam jika tidak tersulut sepercik jilatan api"

Itulah motivasi. Semangat yang menyala dari motivasi bergantung besarnya percikan niat. Penting memulai segalanya dengan niat yang suci. Lantas niat suci yang mana yang dimaksud?

Sebelum saya memasuki pembahasan intinya, izinkan saya bercerita sedikit. Ini adalah sebuah kisah tentang latar belakang sebuah amalan.

Dikisahkan, di akhirat nanti, dipanggillah tiga orang oleh malaikat dihadapkan kepada hakim yang paling adil.

Pertama,
"Hai dermawan!, kemarilah!" Majulah sang dermawan dengan langkah tegap percaya diri. Ia yakin selama ia hidup, ia telah banyak bersedekah dengan hartanya sehingga amalannya telah cukup untuk memasukkannya ke dalam surga.

"Karena alasan apa kamu banyak bersedak dan tidak takut rugi?" Tanya malaikat penuh ketegasan.

"Saya melakukan semuanya itu hanya satu alasan, yakni karena Allah."

"Bohong!" Timpal malaikat segera
"Kamu melakukannya karena hanya ingim dikatakan oleh orang-orang sebagai orang dermawan.

Muka dermawan memerah, ia tertunduk malu. Kedok kebohongannya telah terbuka.

"Kalau demikian, masuklah kamu kedalam neraka bersama Qorun, sang hartawan yang durhaka itu!"

Sang dermawanpun diseret ke dalam neraka.

Sampailah pada orang kedua
"Untuk apa kamu mengajar ilmu kepada banyak orang?" Tanya malaikat.

"Karena Allah" Jawab ilmuan dengan singkat dan penuh keyakinan. Sayang malaikat tidak bisa dikibuli.

"Bohong!" Sergah malaikat. "Engkau mengajar ilmu kepada manusia agar engkau dikatakan orang alim"

Ilmuanpun tak sanggup lagi berkutik. Bagaimanapun malaikat mampu menerawang isi hati manusia, malaikat mampu mengetahui semua niatannya menjadi sarjana, mengejar ilmu dan mengajarkannya.

Sang ilmuanpun diseret oleh malaikat kedalam kobaran api neraka.

Tibalah giliran manusia yang ke tiga. Sama juga ia dipanggil dan ditanya oleh malaikat.

"Sejak di dunia, saya telah berjuang membela negara, bangsa dan juga agama. Hingga saya gugur dan saya menjadi syahid" Jelas sang pahlawan dihadapan malaikat.

"Bohong!" jawab malaikat "Engakau berjuang agar engkau dikatakan pahlawan, dikatakan orang besar, dan agar namamu menghiasi majalah-majalan dan koran-koran atas jasamu, engkau melakukan itu semua agar dikatakan syuhada, mujahid. Engkau tidak melakukannya karena Allah"

Sang pahlawanpun terdiam dan benar kata malaikat.

"Surga tidak bersedia menerima orang sepertimu"

Akhirnya iapun bernasib sama dengan orang yang pertama dan kedua.
.................

Jika kita berandai-andai. Bayangkan jika kita berada dihadapan malaikat untuk mempertanggung jawabkan apa yang telah kita perbuat selama di dunia ini. Maka mari kita cek kembali apa motivasi kita menulis.

Sudahkah karena Allah atau yang lainnya?

Saya yakin setiap orang punya motivasi tersendiri dalam menulis. Mari kita jawab pertanyaan di atas dalam hati kita dan jaga karena ia akan menjadi hujjah di hadapan malaikat kelak di yaumil akhir.

#30DWC
#Squad9
#Days11
MuslimahPenaPeradaban

Jumat, 20 Oktober 2017

Manisnya Ngejomblo

Oleh: Eka Trisnawati Anwar

Ngejomblo sejatinya adalah sebuah pilihan, sebuah pilihan keimanan. Disaat banyak kaum Adam dan Hawa diluar sana memilih pacaran sebelum halal. Kamu malah memilih tetap sendiri karena iman.

Tapi yang perlu kamu ketahui, ada dua faktor, ngejomblo itu bisa tidak meng enakkan.

Pertama: karena faktor dari luar, nah faktor dari luar ini yah, biasanya datang dari lingkungan kita

Jangan kira tak akan ada godaan kawan, saat kamu memilih sebuah pilihan maka bersiaplah dengan segala tantangannya.

Yah, setiap pilihan ada konsekuensinya masing-masing. Kamu yang ngejomblo sering dapat cemoohan,tidak gaul lah, tidak laku lah, tidak keren lah dan sacamnya keep calm aja yah, yang mengataimu kan hanya manusia.Toh Bumi dan isinya ini milik Allah.

Kalau boleh dibilang mah, sekalipun manusia dan seisinya bersatu untuk membencimu, asal Allah masih bersamamu, maka tenang saja, yang punya Bumi ini kan Allah. Sebaliknya sekalipun manusia dan seisinya menyukaimu tapi Allah memusuhimu, kamu mau kemana, Wong Dunia dan isinya milik Allah.

Kedua: Dari dalam diri kita, sebagaiman sabda nabi, didalam tubuh manusia ada segumpal darah yang bernama hati, jika ia baik maka baiklah seluruhnya, jika ia rusak maka rusaklah seluruhnya.

Seorang yang menjomblo itu tidak bisa merasakan nikmatnya menjomblo kecuali jika ia meyakini bahwa Allah adalah tuhannya, Islam adalah agamanya dan Muhammad adalah utusan Allah. Dan ini dibuktikam dengan ketundukan kepada perintah dan larangannya.

Nah agar ngejomblo terasa nikmat-nikmat aja, dan agar bapermu bisa terarahkan ketika melihat yang lain telah bersanding di pelaminan, atau ketika melihat pasutri telah menimang momongan, hati kamu yang masih jomblo bisa nikmat-nikmat aja, maka pastikan bahwa pilihan ini tidak lain karena ketundukan kepada rob semesta alam.

Semua orang normal pasti memiliki rasa ingin mencinta san dicintai. Tapi kencintaan kepada Allah haruslah lebih tinggi daripada kecintaan kepada makhluk. Catet!

Rasulullah Saw berasabda
"Tiga perkara yang dilakukan seorang muslim maka ia akan merasakan manisnya iman, yaitu menjadikan kecintaanya kepada Allah dan rosulnya lebih dari cintanya kepada selain keduanya. Tidak mencintai seorang hamba kecuali ia mencintainya karena Allah, dan benci kembali kepada kekafiran seperti bencinya masuk neraka"

Kriteria diatas ada pada diri kamu sobat?

Ingat barang siapa yang memiliki kriteria seperti ini, maka ia akan merasakan manisnya iman, manisnya hijrah, manisnya taat, dan manisnya ngejomblo, karena ngejomblo itu karena iman bukan?

Pasrah terhadap ketentuan Allah yaitu perintah dan larangannya, meskipun perkara tersebut membuat hati kita tidak rela, namun kita tetap ridha menerimanya, menjalankam dengan penuh kepasrahan, kecintaan, dan kerelaan.

Semoga kita semua istiqomah (konaisten) dengan ajaran Islam. Semoga dengan begitu, kita bisa merasakan kenikmatan dunia dan kemuliaanya. Sambil menanti kesenangan dan kemuliaan di akhirat kelak.... InshaAllah

#30DWC
#Squad9
#Days10
MuslimahPenaPeradaban

Rabu, 18 Oktober 2017

KEHILANGAN

"Maah, mama liat KTP (Kartu Tanda Penduduk)saya tidak ma?" Seru saya didalam kamar

Pagi itu mama baru selesai mandi sementara saya sedang mempersiapkan barang bawaan untuk persiapan selama enam bulan di Kota Serang, Banten mengabdi disalah satu pondok pesantren.

"Memang ada apa? KTP kamu kan hari itu sudah diambil kan seingat mama!" Mama yang didalam kamarnya berusaha menjawab dengan tenang.

Kamar saya dan Mama memang sangat sangat dekat, bahkan hanya dipisahkan oleh dinding.

"Mah itu penting Mah, buat Check in dibandara" Saya menjelaskan dengan suara memelas.

Akhirnya Mama menuju kamar saya.

"Ko bisa tidak ada? Cari lagi kalau begitu" Perintah Mama dengan nada datar.

Mamapun ikut membantu mencari KTP saya, mama membuka lemari dan mengeluarkan tas yang berisi lembaran berkas-berkas penting, mulai dari Kartu Keluarga, Ijazah sampai foto kenangan lamapun masih tersimpan rapih. Yah itulah Mama orangnya sangat telaten dalam menjaga sesuatu. Seperti telatennya menjaga hatinya hanya untuk Bapak seorang (eah)

Saya melihat .ama lebih panik dan khawatir dibanding diri saya ini. Meskipun dalam hati sangat berharap KTP itu bisa ditemukan namun saya tetap berusaha tetap tenang.

Jika dompet saya adalah orang, mungkin sudah mabok berkali-kaili dibuka tutup, tapi tetap saja hasilnya sama, tidak ada.

Tempat pencarian saya alihkan ke buku. Yah buku-buku dalam tas saya adalah teman sejati dompet saya ketika bepergian, satu persatu buku saya keluarkan kemudian membuka lembarannya dan saya jungkir balik,   (bukunya yah bukan sayanya)  tapi tetap saja hasilnya nehi....eh maksudnya nihil.

Dalam hati saya sangat khawatir dan was-was namun saya pasrahkan semoga Allah menunjukan yang terbaik.

 Akhirnya saya hentikan mencari KTP itu dan mencoba melakukan aktifitas yang lain dan tetap menyandarkan harapan saya pada Allah. Semoga saja nanti atau besok bisa ketemu. Karena seingat saya KTP itu tidak pernah saya keluarkan dari dompet.

Keesokan harinya saya bersiap-siap berangkat ke Belopa mengikuti pengajian. Saya memeriksa isi tas saya. Buku, pensil, penghapus, pulpen dan dompet sudah lengkap. Yah isi dompet, saya harus memeriksa SIM (Surat Izin Mengendarai) dan STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan) Alhamdulillah ada. Dan....

"Waah Alhamdulillah, Ya Allah akhirnya ketemu juga" seruku sendirian karena kegirangan.

Yah KTP yang kemarin saya cari ternyata terselip sibawah SIM. Pantas saja saya tidak melihatnya kemarin.

Pernahkah sobat merasakan hal yang sama saat kehilangan. Khawatir, was-was dan perasaan hati yang gundah-gulana ketika kehilangan sesuatu dan berubah seketika menjadi bahagia dan senang saat mendapati barang itu kembali?

Dari kejadian beberapa hari lalu saya teringat dengan buku yang pernah saya baca. Tapi saya lupa judul buku dan penulisnya. Tapi beberapa tulisannya masih lekat di ingatan saya, salah satunya....

Allahpun demikian sobat. Saat hambanya melakukan dosa  kemudian bertobat kegembiraan dan rasa senangnya melebihi kita saat kehilangan sesuatu yang sangat berharga kemudian kita menemukannya. Yah.... Allah gembira saat kita bertobat dari dosa melebihi perasaan senangnya kita saat mendapati barang berharga kita kembali.

Allah sangat suka pada hamba-Nya yang bertaubat. Sampai-sampai Allah lebih bergembira dibanding seseorang yang kehilangan hewan tunggangannya yang membawa bekalnya, lalu hewan tersebut tiba-tiba datang lagi kembali.

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik Al Anshori, pembatu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya Allah itu begitu bergembira dengan taubat hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas.” (HR. Bukhari no. 6309 dan Muslim no. 2747).

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِى ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِى وَأَنَا رَبُّكَ.أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ

Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat pada-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas (padang pasir), kemudian hewan yang ditungganginya lari meninggalkannya. Padahal di hewan tunggangannya itu ada perbekalan makan dan minumnya. Sehingga ia pun menjadi putus asa. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon dan tidur berbaring di bawah naungannya dalam keadaan hati yang telah berputus asa. Tiba-tiba ketika ia dalam keadaan seperti itu, kendaraannya tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatnya. Karena sangat gembiranya, maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia telah salah mengucapkan karena sangat gembiranya.” (HR. Muslim)

Ada beberapa pelajaran yang bisa saya petik dari kejadian tersebut.

1. Allah begitu menyayangi hamba yang bertaubat. Sungguh Allah maha penyayang

2. Harusnya kita banyak bertaubat pada Allah.

3. Pasrah pada ketentuan Allah mendatangkan kebaikan dan keberkahan. Karena laki-laki yang dikisahkan dalam hadits di atas telah berputus asa dari hilangnya hewan tunggangannya, lantas Allah pun mengembalikan hewan tunggangannya.

4. Banyak-banyaklah kita mengintrospeksi diri.

Semoga bermanfaat

#30DWC
#Day8

Bingung

Sumpah

Malam ini saya bingun mau menulis tentang apa. Seriuus

Padahal saya sudah niatkan untuk menulis dipagi hari setelah Dzikir pagi. Tapi lagi-lagi saya teralihkan mengerjakan sesuatu yang lain

Saya mandi lalu shalat dhuha dan lanjut menghafal. Setelah menghafal saya coba membaca buku tetang motivasi karena saya ingat, tanggal 20 adalah tugas saya mengisi materi lewat online dalam sebuah group kepenulisan yang saya ikuti sekarang. Materi yang akan saya bawakan judulnya "Motivasi Menulis".

Saya memang tidak terlalu sibuk keluar hari ini, jadi saya ada waktu membaca dipagi hari. Dan kebetulan saya memang sekarang adalah pengangguran. Yah maka jadilah hidup saya sekarang bergelantungan.... eh emang kelelawar bergantungan.

Tapi tenang saja. Saya masih berusaha agar impian saya bisa terwujud. Semoga suatu hari akan termujud. Saya baru saja memulainya. Eh kembali ke leptop.

Masalahnya adalah setelah saya membaca, saya mendapat ide yang kemudian saya tuangkan dalam draft, kemudian berkata "Nanti saya lanjut lagi" kebetulan saya ingin keluar.

Dan akhirnya, sampailah saya ditempat pencucian motor. Lalu saya membuka handphone....tapi ternyata lowbet dan akhirnya saya tidak bisa melanjutkan tulisan saya yang belum selesai.

Untungnya ada koran Palopo Pos yang bisa menghilangkan kejenuhan saya menunggu motor saya gilirannya dicuci.

Saat membaca koran itupun saya menemukan ide. Karena saya kebetulan membawa buku catatan dan pulpen, cepat-cepat saya mencatat ide yang ada difikiran saya. Takut kalau-kalau ide dalam kepala saya menguap karena udara yang begitu panas siang ini.

Motor selesai dicuci, waktu dzuhurpun sudah tiba, saya beraktifitas diluar sampai sore. Malamnya bercengkrama denga  teman dan melanjutkan belajar lewat online dan akhirnya tulisan pun tak kelar.

Jadilah ide saya sia-sia saja. Dan bingungpun melanda, mau menulis apa gerangan. Sementara waktu setor tulisan sudah deadline.

Akhirnya, Just do it

Menulis saja. Intinya biasakan menulis.

Sebenarnya tadi sudah terbersit ingin bolos nulis saja. Tapi hati kecil saya tidak mengizinkan, karena sekali kita melakukan sesuatu yang tidak baik. Maka pastikan akan ada ketidak baikan setelahnya.

Menulislah
Agar terbiasa
Jangan lewati sehari tanpa menulis
Karena akan berdampak pada kebiasaan

Saya berharap semangat menulis saya setahun lalu bisa kembali setelah 30 Days Writing Challenge ini.

#30DWC
#Days7
#Squad9


Selasa, 17 Oktober 2017

Memanfaatkan Momentum

Rebutlah momentum yang ada. lakukan tindakan dari sekarang. Entah itu kita sudah tua ataupun masih muda. Siapapun itu ambillah momentum perubahan dari sekarang. Ini ada kaitannya dengan tulisan saya sebelumbya dengan judul Jangan Tunggu Tua. Namun kali ini penjelasannya lebih kepada waktu, InshaAllah.

Kita mungkin familiar dengan lirik lagu ini

"Bila waktu telah memanggil
Teman sejati tinggalah amal
Bila waktu telah berhenti
Teman sejati tinggalah sepi" [Opick-Bila Waktu]

Apa hubungannya dengan memanfaatkan waktu. Karena sejatinya waktu itu sangat cepat berlalu, dan tidak akan bisa terulang kembali. Orang-orang yang proaktiflah yang mampu mengambil momentum yang ada dan mengubahnya menjadi sebuah prestasi, tentunya setelah dibekali ilmu dan iman yang kuat.

Karena kita telah didahului Ukasyah masuk surga. Manfaatkan momentum yang ada. Sebagaimana Ukasyah.

Tahukah kalian mengapa Ukasyah dijamin masuk surga? Karena ia mampu merebut dan mempergunakan momentum yang ditawatkan nabi. Diriwayatkan dalam sebuah hadist yang panjang bahwa suatu hari nabi pernah memaparkan profil manusia penghuni surga.

Ketika itu sahabat mulai kasat-kusut karena mendapat kabar itu, mereka menduga-duga siapakah kiranya yang digambarkan rosulullah.

Ketika itu nabi bertanya kepada para sahabat "Apa yang kalian bicarakan?" Maka setelah mereka memberitahukan, Nabi SAW bersabda,

"Mereka adalah orang-orang yang tudak melakukan ruqyah, tidak meminta ruqyah, tidak meramal yang buruk-buruk dan kepada robnya mereka bertawakkal."

Maka tahukah siapa yang paling gesit? Ya itulah Ukhasyah, ia bangkit dan berkata "berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku golongan mereka." Beliau bersabda " Engkau termasuk golongan mereka"

Kemudian ada lelaki lain yang bangkit dan berdiri kemudian mengulang perkataan Ukasyah. Lalu beliau menjawab "Engkau telah didahului Ukhasyah"

Yah itulah momentum, ia cepat berlalu dan sangat cepat berlalu. Fastabiqul khairat, berlomba meraih kebaikan.

Merebut momentum untuk melakukan perbaikan. menambah aktitas positif dan bermanfaat. Karena momentum itu tidak akan terulang

#30DWC
#Squad9
#Days7
#MuslimahPenaPeradaban

Minggu, 15 Oktober 2017

Menyerah

Memasuki hari ke enam. Tantangan agar bisa bertahan untuk terus menulis dalam group 30DWC membuatku ingin menyerah saja.

Kadang ketawa sendiri melihat tingkah ibu jariku, sudah ngetik dua paragraf eh malah tekan tombol delete, jadilah tulisannya bersih dan mulai lagi dari awal. Kadang setelah menulis tiga paragraf, buka dokumen baru lagi....huuft

Banyak alasan kenapa rasa ingin menyerah itu selalu timbul. Pertama, tulisan teman-teman jauh lebih baik dari diriku yang bisa dibilang Aku anak bawang yang baru lahir kemarin sore. Kedua, kadang Aku merasa kehilangan ide.

"kengapa kamu kadang kehilangan ide?" "kengapa yang lain bisa tetap maju sementara dirimu ingin mundur?" Itulah yang kadang muncul ketika semangat ini mulai menurun. Smoga saja tidak menurun sampai tujuh turunan....eh bahas apaan sih

Jangan berkecil hati jika ingin maju dan terus berkembang. Jika sudah muncul rasa-rasa ingin menyerah dan waktu injury time makin bersahabat denganmu ketika menulis. Maka segerahlah siram dirimu yang layu denga  air motivasi agar tidak terlanjur layu dan mengering.

1. Just do it

Kamu cukup hanya lakukan saja. Masalah bagus dan tidak bagus, dibaca atau tidak dibaca, itu urusan belakang.

Kalau memang tidak bagus, ingat kau adalah pembelajar, tak ada yang praktis, mie instan aja harus di rebus dulu baru bisa dimakan.

Ingat nasihat Ali bin Abhi Thalib "Orang yang tidak pernah merasakan pahitnya perjuangan, maka ia tidak akan merasakan manisnya kebahagiaan"

Just do it (cukup lakukan saja) karena yang kau ingin bangun adalah habist.

2. Ingat kembali motivasimu saat ingin mulai menulis

_Jika kau menulis untuk terlihat lebih baik dan lebih bagus maka kau tak usah menulis, tujuanmu menulis hanya agar bisa memberi manfaat kepada orang banyak lewat penamu, bukan agar terlihat bagus dan terkenal

Ingat pepatah orang Arab " Jika tujuanmu untuk terkenal, kencingi saja sumur Zam-zam" maka pasti kau akan terkenal.

Kembalilah menulis sesuatu yang bermanfaat, bukan apa yang kau inginkan. Cukup lakukan saja.

Imam Al Ghazali pernah berkata "Orang yang cerdas, alim dan mengerti akan selalu melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang hanya melakukan sesuatu yang di inginkan.

Keep Istiqomah
#30DWC
#Squad9
#Days6

JANGAN TUNGGU TUA

Zaman now seperti sekarang ini ( ya iyalah, now kan sekarang buu, hehe lupakan) istilah dan motto anak muda sudah semakin ngalor ngidul

Dari motto "Hiduplah seperti air yang mengalir, dimana arus membawanya maka disitulah engkau bermuara" asyiik bener yah hidupnya. Untung aja kalau mengerti maksud dari pepatah tersebut , lah kalau enggak kan kasian.

Sudah motto hidupnya ngelantur artinyapun tidak dimengerti. Maka jadilah pemudah yang harusnya diusia mudanya punya mimpi yang besar, malah jadinya hidupnya tidak ada tujuan seperti air yang mengalir, kalau sungai membawanya ke kali maka pastilah hidupnya ke kali. Kalau arus sungai membawanya ke sungai yang kotor maka disitulah ia akan berlabuh.

Ada lagi yang tidak kalah nge hitznya, motto yang satu ini selalu kita dengar "Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk syurga" whiiits keren bukan? Lah siapa yang tidak menginginkan, mudanya enak-enak, santai kayak dibantai....eh maksudnya di pantai, mudanya edem tuanya lebih ayem terus matinya makin adem ayem. Siapa yang tidak mau kan yah?

Tapi pertanyaanya, "apa iya itu bisa terjadi?"

Jawabnya "Tidur aja dulu trus mimpi!" eh tau-taunya bangun ternyata yang dihadapinya adalah dunia yang nyata.

Pemuda yang dijadikan sebagai harapan penerus perjuangan bangsa, agama dan terlebih jadi harapan orang tua, tergerus dengan pergaulan yang tidak ada arah, kesenangan semata yang ada dalam benak tanpa memikirkan dampak bagi masa depannya.

Kaula muda saat ini terlalu banyak bermimpi tentang kehidupan yang nyaman dan enak tanpa mau berusaha. Dengan dalih masih muda, orang tuanya kaya, waktu masih panjang, jalani hidup apa adanya. Jadilah mereka pemudah yang hidupnya sia-sia dan bisa dipastikan masa depannya akan hancur.

Mengapa saya katakan hancur.
Coba Anda bayar saya....eh maksudnya coba kita bayangkan, kehidupan yang masa mudanya hanya untuk foya-foya tanpa memikirkan masa depan dihari depannya nanti

Maka kemungkinan besar hal-hal berikut akan menimpa orang-orang seperti di atas

Pertama: Kaget. Mereka orang-orang yang masa mudanya tidak sadar-sadar sampai usianya sudah semakin tua, makan akan kaget karena ternyata waktu terus berputar dan kini ia menjadi semakin berusia.

Kedua: Ketika berkeluarga, keluarganya tidak bahagia dan jarang bercanda riang dan tertawa lepas bersama sang istri, ini sudah banyak fakta real di lapangan.

Suami tidak punya bekal bagaimana mendidik istri, bagaimana berlaku baik terhadap istri, apa hak dan kewajiban suami terhadap istri, tak ada bekal sebelumnya. Itu yang menyebabkan emosi selalu meninggi, hal itu terjadi karena usia mudanya habis untuk bersenang-senang, waktunya tidak digunakan untuk belajar bagaimana menjadi imam yang baik dalam keluarga.

Tiga: Hidup selalu tertekan. Beras mahal, anak butuh seragam sekolah, butuh jajan, ebutuhan dapur semakin berkurang. Keluarga butuh rumah. Anak butuh kendaraan ke sekolah dan masih banyak lagi tekanan hidup dimasa-masa seperti ini.

Tapi karena waktu muda digunakan bersantai dan happy fun. Maka jadilah sebelum masa tuapun sudah sengsara hidupnya.

Empat: Penyesalan yang terlambat. Orang-orang selalu berkata bahwa "penyesalan itu selalu dibelakang". Saat kita tidak membuat perencanaan matang di usia muda, terlebih jika waktu mudanya yang produktif hanya digunakan untuk bersantai maka ia akan menyesal.

Menyesal, ketika menyadari hidupnya yang sudah semakin menua, namun bebannya semakin bertambah, sementra tenaganya tak lagi sekuat dulu. Maka yang tersisa hanya penyesalan

Kamu yang merasa masih muda, sekali lagi, yang merasa yah.... siapa saja.

Isilah hari-harimu dengan sesuatu yang positif, bisa dengan ikut ber organisasi, ikut dalam lembaga dakwah. Sibukkanlah dirimu dengan membaca, belajar, bekerja dan berdakwah.

Karena usia muda tidak akan kembali. Jangan tunggu tua untuk menjadi pribadi yang besar.

#YoungFaith
#30DWC
#Squad9
#Days5
#MuslimahPenaPeradaban

Sabtu, 14 Oktober 2017

Jangan Sibuk Baper

Hari ini saya menghadiri acara pernikahan teman saya.

Saya memasuki ruangan dimana pasangan pengantin duduk bersanding.

Saya mengambil posisi duduk di pojok ruangan sebelah kanan dimana kursi tamu wanita disiapkan.

Dari kejauhan saya memandangi teman dekat saya sewaktu SMA, senyumnya selalu tersungging, ia tampak bahagia, betapa tidak ia telah menemukan pendamping hidupnya.

Namun ada pemandangan yang berbeda di atas pelaminan, dari sekian teman saya yang menikah memang hampir kejadian ini selalu saya temukan. Dari balik kelopak mata sang Ayah terlihat embun-embun bening dipelupuk matanya, ia berusaha menahan air mata yang akan jatuh di pipinya itu, itu tampak membuatnya sesak di dada.

Ia berusah sekuat mungkin menyembunyikan kesedihan itu, namun tidak lama kemudian ia akhirnya menunduk dan mengangkat tangan untuk menyeka bulir-bulir air mata di pipinya. Entah hanya saya yang menyaksikan itu atau orang disekitar saya juga melihat.

Entah apa yang ada dikepala seorang ayah ketika melihat anak gadisnya menikah.

Ada dua kemungkinan yang membuat sang Ayah meneteskan air mata dihari bahagia putrinya.

Pertama, bisa jadi air matanya adalah tanda kebahagiaanya dan kedua, bisa jadi  ia menangis bersedih khawatir apakah lelaki yang mempersunting anaknya bisa menyayangi anak gadisnya sebagaimana ia menyayangi anaknya

Saya teringat sebuah tulisan oleh Ustadz Felix

"sayangnya ayah pada putrinya itu sepenuh jiwa tak mampu dilukiskan ataupun diwakilkan kata-kata"

bagi ayah, senyum putrinya itu penghapus murka dan letih lelah airmata putrinya jadi siksa baginya dan sedih putrinya jadi musibah

"seorang ayah punya sejuta impian untuk putrinya walau harus mengorbankan dirinya dia selalu rela

Saat putrinya ia nikahkan, dipandanginya putrinya dalam-dalam dengan tatapan mengharu biru terbayang jelas semua kenangan mulai putrinya lahir hingga saat itu

segala bentak dan tawa, segala bahagia dan kecewa, semuanya  mendadak terpampang jelas, melekat tak mau lepas, semuanya

bertahun-tahun ingatan itu menjadi satu, mendadak ayah sesalkan  tentang apa yang tak sempat ia lakukan, tentang apa yang ia lewatkan

dan saat itu dia menyadari dalam hidupnya sampai masa ini tak ada pelepasan yang lebih berat melebihi hari ini, saat anak gadisnya telah bersanding

mungkin saja seorang ayah takkan pernah siap untuk menikahkan anaknya dan tamkan pernah siap untuk melepaskan bagian dari darah juga jiwanya

bila bukan karena perintah Allah dan sunnah Rasulullah tentu selama-lamanya ia ingin bersama putrinya

tapi putrinya juga harus bercerita, harus berkeluarga dan melaksanakan ajaran ayahnya dalam realita nyata

kini tangan lelaki lain yang diridhai putrinya sedang ia genggam dan hati sang ayah masih gundah, matanya terpejam

yang ayahnya pikirkan "akankah lelaki ini tepat bagi putriku? akankah ia bisa menjaga putriku sebagaimana aku?"

yang ayahnya pikirkan "akankah lelaki ini memperlakukan putriku seperti aku? menyayanginya tanpa syarat, mengajarinya tanpa penat?"

yang ayahnya pikirkan "akankah lelaki ini menyayangi putriku seperti aku? rela berkorban seperti aku pada putriku?"

yang ayahnya pikirkan "adakah lelaki ini mencintai Allah diatas segala-galanya? adakah dia mampu mengawal putriku menuju surga Allah?"

seribu tanya berlanjut, dan mungkin tiada jawaban sebagaimana kasih seorang ayah pada putrinya, yang mungkin takkan pernah terjelaskan

bila ada yang paling berhak untuk dimintai izin akan anaknya  maka yakinlah itu jelas ayahnya, pasti ayahnya!"

Itulah sepenggal isi hati dari seorang ayah.

Dalam kebahagiaanya ia juga selipkan keresahan atas diri kita yang sudah mulai berkeluarga sekalipun.

Yang saya ingin kita semua garis bawahi

Makanya bagi para jomblo dan jomblowati jangan hanya sibuk baper (bawa perasaan)
Ketika teman SD sudah banyak yang menikah
Ketika teman SMP sudah melepas lanjangnya satu per satu
Teman SMA sudah banyak yang punya anak, bahkan sahabat seperjuangan sudah mendahului kita dalam hal pernikahan, ehh kita malah jadi laper.... eh maksudnya Baper...

Yuuk jangan sibuk bapar.

Sibukkanlah dirimu dalam taat
Sibukkan dalam perbaikan
Sibukkan dalam berbakti kepada Ayah dan Bunda
Karen mereka menghawatirkan kita dalam tangis dan senyumnya.

Kau mungkin belum dipertemukan dengan pasangan hidupmu
Karena Allah memberi waktu untuk melejitkan diri, dan menemani orang tuamu lebih sering.

Jangan sibuk baper (Bawa perasaan)
Sibuklah dalam taat dan bakti kepada orang tua

Salam Jofisah

#30DWC
#Day4
#Squad9
#MuslimahPenaPeradaban

Jumat, 13 Oktober 2017

Kekasihku Cacat bag3

Ini kali ketiganya Musafir pulang ke kampungnya untuk menengok ibunya, Hartina dan kakaknya.

Setiap tahun Musafir pulang untuk hanya melepas rindu kepada keluarga dan kampung halaman juga sahabatnya.

"Assalamualaikum, hei Musafir" seru seseorang dari depan teras rumah tempat Musafir duduk.

"Waalaikumussalam, silahkan duduk Amir, sudah lama kita tidak bertemu kawan," Jawab Musafir disertai senyum.

"Bagaimana kabar kandungan istrimu? Dengar-dengar dari kak Tiya, istrimu sekarang tengah hamil yah?" Musafir mebuka pembicaraan

"Alhamdulillah Fir, sebentar lagi Aku akan jadi Bapak seperti kawan kita Ali," mata Amir berbinar-binar menceritakan kehamilan istrinya. Ia tamoak bahagia.

"Ada kabar baik juga dari Ali, sekarang ia di promosikan jadi kepala sekolah di tempatnya mengajar!" sambung Amir

"Alhamdulillah, dia pasti punya prestasi sehingga diusulkan jadi kepala sekolah, padahal ia masih terbilang muda" Jawab Amir

"Dengar-dengar Ali memang sangat disiplin dan rajin masuk ke sekolah, oantas saja ia mendapat itu semua," Jelas Amir

"Teman kita satu ini sangat baik dalam hal ini, sudah punya istri dan anak, juga kerjaan yang bagus hehe,"

Bersambung....

Mendidik Anak Usia Dini

Terkadang saya mendengar perkataan orang tua yang mengatakan otak anak saya belum siap menempuh pendidikan dan belajar. Padahal ...