Rabu, 13 November 2019

Tidak Melakukan Haji, Namun Ia Dicatat Sebagai Orang Berhaji Karena Amalan Ini

Pada suatu masa ketika Abdullah bin Mubarak berhaji, ia tertidur di Mesjidil Haram. Dia bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit lalu yang satu berkata kepada yang lain, “berapa banyak orang yang berhaji pada tahun ini?”

Jawab yang lain, “Enam ratus ribu.”

Lalu ia bertanya lagi, “Berapa banyak yang diterima?” Jawabnya. 

“Tidak seorangpun yang hajinya diterima, hanya ada seorang tukang sepatu dari Damsyik bernama Muaffaq, dia tidak dapat berhaji tetapi diterima hajinya sehingga semua yang haji pada tahun ini diterima berkat hajinya Muaffaq.”

Ketia Abdullah bin Mubarak mendengar percakapannya itu, maka terbangunlah ia dari tidurnya, dan langsung berangkat ke Damsyik menca,ri orang yang bernama Muaffaq itu sehingga ia sampai ke rumahnya. Dan ketika diketuk pintunya, keluarlah lelaki dan segera ia bertanya namanya. Jawab orang itu, “Muaffaq” Lalu abdullah bin Mubarok bertanya padanya, “kebaikan apakah yang telah engkau lakukan sehingga mencapai derajat yang sedemikian itu?” 

Jawab Muaffaq, “Tadinya aku hendak berhaji tetapi gagal karena keadaanku, tetapi aku mendadak mendapat uang tiga ratus dirham dari pekerjaanku membuat dan menempel sepatu, lalu aku berniat haji pada tahun ini sementara istriku sedang hamil, maka suatu hari dia mencium bau makanandari rumah tetanggaku dan ingin makanan itu, maka aku pergi ke rumah tetanggaku dan menyampaikan tujuanku yang sebenarnya kepada wanita tetanggaku itu.

Jawab tetanggaku, “Aku terpaksa membuka rahasiaku, sebenarnya anak-anak yatimku sudah tiga hari tanpa makanan, karena itu aku keluar mencari makanan untuk mereka. Tiba-tiba aku mendapat bangkai himar disuatu tempat , lalu aku potong sebagiannya dan membawanya pulang untuk dimasak, maka makanan ini halal bagi kami dan haram untuk makanan kamu.”

Ketika Abdullah bin Mubarak mendengar jawaban itu, aku segera kembali ke rumah dan mengambil uang tiga ratus dirham dan kuserahkan kepada tetanggaku tadi seraya berpesan agar tersebut dibelanjakan untuk anak-anak yatim binaanya.

“Sebenarnya hajiku adalah di depan pintu rumahku.” Kata Muaffaq lagi.

Demikianlah cerita yang berkesan bahwa membantu tetangg yang kelaparan amat besar pahalaya apalagi di dalamnya terdapat anak-anak yatim. Dalam cerita ini pula kita belajar bagaimana kita mendahulukan kepentingan orang lain dibanding kepentingan pribadi amat dicintai Allah Swt.


umber :Dikutip dari buku yang berjudul Akhlak Anak Islami penulis Qomari, S.Pd

Minggu, 10 November 2019

Anak Bisa Menjadi Sebab Musibah, Jika Orangtua Meremehkan Hal Ini

Dari berbagai buku yang telah saya baca tentang pendidikan anak, hampir di awal bab selalu diawali dengan pernikahan yang ideal. Itu artinya, pendidikan pertama dan utama dibentuk dari kedua orangtua.

Dalam berbagai penelitian pun sebagaimana disebutkan Junaedy Alfan, seorang Peneliti dan Praktisi Pendidikan berbasis Adab & IT, beliau mengungkapkan bahwa dalam berbagai penelitian didapatkan kesimpulan bahwa rumah adalah tempat pendidikan yg paling efektif dan memiliki porsi paling dominan dalam membentuk karakter seseorang. Seperti apa model anak tergantung seperti apa pola pendidikan di rumah oleh orang tuanya khususnya bagaimana ibunya.

Beliau menjelasan pula, bahwa para Ibu dari ummatus salaf telah membuktikan peran itu dalam melahirkan imam imam besar yg kita kenal sepanjang zaman.

Siapa yang mengajarkan Imam syafi’i kecil umur tujuh tahun sudah hapal alquran dan membawa hijrah ke Mekah untuk belajar berbagai disiplin Ilmu?

Siapa yang memandikan imam malik kecil pagi-pagi dan memakaikan pakaian lalu menyuruhnya pergi belajar adab dan ilmu kepada gurunya?

Siapa yang mendorong dan membawa imam Bukhari kecil ke Mekah untuk belajar hadis?

Siapa yang menghabiskan harta yang banyak untuk pendidikan guru imam Malik Rabi’atur Ra’yi?

Mereka adalah wanita janda, ibu imam Syafi’i, ibu imam Ahmad, Ibu Imam Bukhari, ibu Rabi’atur Ra’yi ditinggal suami berjihad sejak hamil sampai tua baru ketemu.

Demikianlah dahsyat, penting dan besarnya pengaruh seorang calon ibu dan ibu dalam membentuk karakter dan kesuksesan anak-anaknya.

Bukan hanya itu, orantua adalah faktor besar yang menyebabkan terjadinya kenakalan pada anak. Karenanya hendaknya seorang ibu dan calon ibu memperhatikan perannya kelak dalam memikul amanah dan melaksanakan tanggung jawab terhadap orang yang harus ia pelihara dan didik.

Dalam sebuah syair dikatakan,
Ibu adalah sekolah yang jika engkau
Telah mempersiapkannya
Berarti engkau telah mempersiapkan
Suatu bangsa yang mempunyai akar-akar
Yang baik.

Bukankah baginda Nabi berpesan, ibu adalah seorang pemimpin di dalam rumah suaminya dan ia bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya.

Tanggung jawab rumah dan keluarga bukan hanya peran seorang bapak seorang diri. Ibu dan bapak harusnya bekerja bersama dan saling tolong menolong dalam menyiapkan generasi dan menididik anak-anak.

Karena itu, jika ibu lebih mementingkan karirnya dan seorang bapak meremehkan tanggung jawab mengarahkan dan mendidik anak, maka anaknya tidak berbeda dengan anak yatim. Bahkan DR Nashih Ulwan mengatakan bahwa anak yang yang kedua orangtuanya seperti ini akan menghasilkan anak yang menjadi sebab kerusakan umat. Naudzubillah, bukankah ini adalah musibah.

Benarlah kata seorang penyair
Bukanlah anak yatim itu anak yang
Kedua orangtuanya telah selesai
Mengandung derita hidup (mati)
dan meninggalkannya sebagai anak yang hina
Tetapi anak yatim itu adalah yang mendapatkan seorang ibu yang menelantarkannya atau seorang bapak yang sibuk (tidak menghiraukannya)

Betapa ngerinya dan malunya kita sebagai seorang ibu atau bapak yang masih sehat, namun anak-anak kita tidak ada bedanya dengan anak yatim.

Semoga kita semua dimampukan menjadi umat yang kokoh dalam membangun peradaban, menebar ilmu. Semoga kita bisa menjadi orangtua dan pendidik yang mampu berjalan di atas jalan yang lurus dalam mendidik anak. Sehingga kelak kita bisa menyaksikan anak-anak dan generasi kita bagaikan malaikat dalam hal kejernihan jiwa dan ketaatan pada perintah rabbnya. Serta mereka menjadi teladan bagi orang lain dalam setiap kemuliaan.

Rabu, 06 November 2019

Inilah Penyebab Kesuksesan Menghilang Dan Masalah Berdatangan

Kesuksesan dan Kebahagiaan adalah dua hal yang hampir seluruh manusia impikan dalam hidupnya. Meski entah bagaimana cara mereka mewujudkannya. Setiap orang dalam mewujudkan kebahagiaannya tentulah berbeda-beda disebabkan defenisi mereka tentang bahagia kebanyakan memang berbeda.

Namun semua tentu sepakat, bahwa bahagia adalah sebuah rasa nyaman, ketenangan jiwa dan juga rasa damai.

Betapa banyak orang yang hidup berkecukupan soal harta, namun hidupnya tak bahagia. Merasa bahwa hidupnya tertekan dan penuh masalah. Betapa banyak orang yang sibuk mengejar bahagia dengan mengorbankan waktu, tenaga fikiran tapi malah merasa hidup tidak maju, masalah terus berdatangan, usagha tak kunjung membaik, sekolah banyak hambatan, atau sudah sarjana tapi tak dapat kerjaan dan sebagainya.

Tahukah sobat, di antara sebab utamanya adalah tak adanya ridha orangtua. Atau karena ada murka orangtua. Sebagaimana dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa, murka Allah terletak pada murka orangtua.

Bukankah yang memudahkan urusan, memberikan rezeki, menurunkan hujan, memperjalankan awan, menumbuhkan biji-bijian dan segala yang terjadi dalam kehidupan ini adalah kehendak Allah?

Oleh karena itu, bila Allah murka disebabkan orangtua tidak senang, orangtua murka dan hatinya tergores maka sangat potensial menjadikan rahmat dan taufik Allah tertunda.

Dan ini adalah sebuah masalah, yang menyebabkan kesuksesan menghilang. Kesedihan akrab menemani dan kebahagiaan berpamitan. Yaah, hidup ini penuh masalah bila durhaka pada orang tua.

Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang berbakti pada orangtua. Anak yang senantiasa mendoakan kebaikan dan didoakan kebaikan oleh orangtua kita.

Ternyata Inilah Pemberian Terbaik Dari Seorang Ayah Kepada Anaknya

Siapa yang tak kenal dengan sosok ayah. Peran dan posisinya dalam keluarga hampir diketahui semua orang. Ayah adalah lelaki yang merupakan pasangan dari seorang wanita atau ibu yang melahirkan seseorang.
Semua orang tentulah mengetahui bahwa sebuah keluarga tentu dipimpin oleh seorang yang bernama ayah.

Ayah memiliki tanggung jawab besar dalam membawa dan membentuk keluarga yang dibangun. Bukan hanya menjadi suami yang bertanggung jawab pada istri, namun juga ialah yang selalu memperhatikan kebutuhan rumah tangga sang istri.

Namun tak hanya sekedar itu, orang tualah yang bertanggung jawab penuh dalam mempersiapkan kematangan berfikir anak-anaknya dan juga membentuk karakter sang anak. Mengapa demikian?
Karena anaklah yang kelak akan meneruskan apa yang telah keluarga rancang dalam kehidupan sebuah keluarga, masyarakat dan negara.

Jika demikian bukankah pendapat yang mengatakan anak adalah investasi terbaik orang tua, bisa dibenarkan?

Oleh karenannya, orang tua terlebih kepala keluarga atau seorang ayah hendaklah senantiasa memperhatikan dan juga mempersiapkan anak menjadi bekal terbaik, dengan memperhatian karakter dan pola pikir anak-anaknya dalam memandang masa depan.

Sehingga dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa tidak ada pemberian yang paling baik dari seorang ayah kepada anaknya daripada pendidikan yang baik.

Memberikan kendaraan dan hunian mewah serta puluhan penjaga keamanaan bagi anak, tidak akan membawa perbaikan apa-apa bagi anak bila pemberian terbaik berupa pendidikan terbaik ini terabaikan

Marilah kita memperhatikan pendidikan anak-anak kita, sehingga kelak ia bisa menjadi kebanggan dan menjadi bekal terbaik, bukan hanya di dunia tapi terlebih do akhirat kelak. Aamiin

Rabu, 30 Oktober 2019

Aku Sudah Siap Nikah???



Nikah jangan asal nikah.

Maksudnya, nikahnya karena merasa sudah mau aja. Tapi sudah dipersiapkan sejauh mana?

Sudah siapkah jadi ibu?
Sudah siap jadi menantu?

Jangan-jangan hanya karena korban sinetron jadi kebaperan pengen nikah.

Ohh no! Nikah itu bagi aku sama kayak pakai hijab.
Tahu atau tidak tahu ilmunya, kalau sudah waktunya nikah, yah nikah. Sudah harus hijab yah wajib berhijab.

Tapi, jangan sampai karena cuma ikut-ikutan, jadinya pake khimar dan jilbab tapi malah tidak pakai mihna (alias pakaian dalam rumah), maksudnya pakai baju kurung tapi paha dan betis ke mana-mana. Penyebabnya bisa jadi karena tidak belajar ilmunya, sehingga dianggap enteng atau malah cuma ikut-ikutan.

Sama halnya menikah yah sobat. Kalau sudah waktunya menikah, menikahlah. Tapi jangan lupakan untuk belajar dan terus belajar ilmu membina dan membangun rumah tangga ✊🏻

Jadi, buat kamu yang Allah karuniahi waktu muda. Keluarga dan amanah, bisa jadi Allah sedang ingin melihat kita belajar banyak hal. Jangan sibuk baper aja. Terus sajalah belajar. Jangan bilang aku kapan nikah? Atau aku sudah siap nikah. Atau malah nikah tapi tak mau belajar.

Sungguh kelak kita akan menyesal atas waktu yang terbuang  sia-sia. Atas waktu yang telah kita lewati dengan kekosongan tanpa belajar dan berdzikir pada Allah.

Betapa wanita bisa bergembira dengan adanya kabar dari nabi yang secara jelas menyatakan bahwa, "Wanita sebenarnya tak susah jika ingin masuk surga" cukup bagi mereka mendirikan shalat lima waktunya, melaksanakan puasa wajibnya, dan yang terakhir adalah taat pada suaminya. Jika tiga hal itu sudah terpenuhi, maka mereka dipersilahkan masuk surga dari pitu mana saja yang ia suka.

Namun perlu diketahui bahwa nabi juga pernah menangis ketika mengenang perjalanan isra'nya, beliau diperlihatkan neraka dengan segala macam bentuk adzabnya sekaligus penghuninya. Ketika beliau ditanya tentang siapa penghuni tempat yang paling mengerikan itu, beliau menjawab bahwa mayoritas penghuninya adalah kaum wanita.

Bukan hanya itu, kehadiran wanita dalam rumah tangga harusnya bisa menjadikan rumah ibarat dan terasa surga. Mengapa? Karena keindahan surga digambarkan dengan adanya sosok wanita bidadari yang menawan.

Sehingga, rumah tangga yang isinya wanita yang seperti memiliki sifat penghuni surga akan membawa suasana surga dalam rumahnya.

Karena itu, mestilah terus belajar. Lalu bisikkanlah ke bumi bahwa anda siap menikah. Jika diijabah dan diberkahi, maka yang ada di langit di atas arasy akan mendengar dan memperkenankannya

Larompong
30 Oktober 2019

Rabu, 04 September 2019

Surat Terbuka 05 September_Sebuah Kelahiran Hidup dan Pamit

05-09-1995_05-09-2019

Hari ini special
Istimewa
Kadonya langsung dari Allah SWT

Sebuah kelahiran dan kejadian tidak terjadi begitu saja
Semua hal
Semua peristiwa hidup dan kehidupan
Tidak berlaku sebuah kebetulan

Allah Swt. telah merencanakan hidup ini begitu baik, meski harus diawali dan dilewati dengan air mata sejatinya memang demikian sebuah proses kelahiran

Terlahir dengan perjuangan dan rasa sakit, tak masalah. Asal kita dapat memastikan kehidupan kita membawa tawa dan bahagia untuk mereka yang hidup berdampingan dengan kita

Ahh... dunia berputar begitu cepat
Proses lahir yang menyakitkan ternyata segera berlalu, lalu berjalanlah roda kehidupan yang terasa panjang namun sejatinya hanya hitungan siang dan malam. Di depan sana kita pun harus sadar ada kehidupan selanjutnya yang menunggu, maka diri kita pasti akan berpamitan dengan dunia

Sedih memang, meninggalkan apa yang sudah terbiasa bersama kita
Namun ada yang merindukan jua di sana
Surga rindu bagi mereka yang bertakwa
Pemilik surga rindu bagi mereka yang beriman
Kekasih pemilik surga rindu bagi mereka yang senantiasa menjalankan sunnah dan ajarannya

Lahir Hidup dan Pamit
Sebuah rangkaian hidup yang tak bisa kita pilah, lalu pilih hanya yang kita mau.

Maka pastikan, proses pamit nanti
Kita pamit dengan senyum
Dan giliran mereka yang menangis

Ahh...jangan, Kau jangan menangis
Nanti kita kan bertemu
Di sana

Iya... Jika jalan dan tujuan hidup kita sama
Karena itu kuingin kita satu langkah
Satu tujuan
Satu arah
Dan satu itulah yang mempertemukan kita nanti

Semoga. Aamiin

Surat terbuka untuk siapa saja

05-September-1995

Binturu, Kondongan
05-September-2019

Jumat, 26 Juli 2019

Menyikapi Para Pendosa

Kesempurnaan hanya milik Tuhan pencipta alam semesta, Allah SWT. Bahkan Rasulullah Saw pernah ditegur oleh Allah lantaran ekspresi beliau dan itu diabadikan dalam Qur'an surah Abasa. Demikianlah manusia mulia sepanjang zaman pernah melakukan kekhilafan. Apatah lagi manusia biasa.

Seorang teman bertanya pada saya. Bagaimana menyikapi seseorang yang ingin berteman, mengenal dan shareing pengetahuan dengan orang lain namun orang pertama ini kadang tak menjalankan sunnah, kadang lalai, lalu kadang melakukan kesalahan?

Baik. Manusia biasa sudah tentu tidak luput dari kesalahan. Alangkah indah hati orang yg melakukan kesalahan lalu menyadari kesalahannya. Itu artinya Allah masih mengetuk hatinya dan memberikan peluang untuk memperbaiki dirinya.

Alangkah celaka jika ada yg merasa sudah sempurna dan baik, lalu meremehkan mereka yang terlihat tak baik.

Betapa banyak kisah seorang yang kelihatannya pendosa, lalu ia diam-diam menangisi kesalahannya lalu Allah angkat derajatnya.

Biarlah saya ceritakan sebuah kisah yang disampaikan oleh Ustadz Hamid Ahmad, dari Abu Hurairah yang berkata, bahwa Rasulullah Saw pernah bercerita : Ada dua orang laki-laki bersaudara dari Bani Israil. Salah seorang dari mereka adalah pendosa, sementara yang lain adalah ahli ibadah.

Ahli ibadah itu selalu melihat saudaranya berbuat dosa dan ia selalu berkata, "Berhentilah dari berbuat dosa."

Suatu hari ia melihatnya sedang berbuat dosa, lalu ia berkata kepadanya, "Berhentilah dari berbuat dosa."

Pendosa itu berkata, "Biarkan aku bersama Rabb-ku, apakah engkau diutus untuk selalu mengawasiku?!"

Ahli ibadah berkata, " Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu," atau dia berkata "Allah tidak akan memasukkanmu di dalam surga."

Allah SWT lalu mencabut nyawa keduanya sehingga keduanya berkumpul di sisi Rabb semesta alam.

Allah kemudian bertanya kepada ahli ibadah "Apakah kamu lebih tahu dari-ku? Atau, apakah kamu mampu melakukan apa yang ada dalam kekuasaan-Ku?"

Allah lalu berkata pada pendosa, "Pergi dan masuklah kamu ke dalam surga dengan rahmat-Ku."

Dan Dia berfirman kepada para malaikat: "Bawalah ia ke neraka."

Dari kisah ini setiap muslim dan terlebih saya harusnya bisa mengambil pelajaran bahwa, seseorang masuk surga atau neraka bukan karena ia soleh atau solehah. Tapi karena rahmat dari Allah SWT.

Karenanya tidak pantas seseorang mengucilkan, membenci saudaranya.

Hanya saja. Harus kita tahu, kita semua pendosa termasuk saya, tapi kita tentu ingin masuk surganya Allah dengan rahmat Allah karenanya mari kita perbaiki diri kita. Berlomba dalam kebaikan. Kita harusnya berlomba untuk mendapat tempat terbaik di sisi Allah. Alangkah baik jika diri kita yang pendosa menyadari dosa itu lalu memperbaiki diri.

Demi Allah, Allah lebih bahagia dari taubatnya seorang hamba daripada seseorang yang bahagia menemukan kendaraan serta perbekalannya yang tadinya sempat hilang darinya

Sumber: Kisah Ini Dikutip Dari Buku Kisah Teladan Dalam Hadist Dengan Pendapat Pribadi Penulis

Tidak Melakukan Haji, Namun Ia Dicatat Sebagai Orang Berhaji Karena Amalan Ini

Pada suatu masa ketika Abdullah bin Mubarak berhaji, ia tertidur di Mesjidil Haram. Dia bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit l...