Sabtu, 18 Mei 2019

Jika Memang Harus Berbalik Arah


Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintangan untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak pernah ku membalas...ibu...ibu
Ingin kudekap dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas
Ibu....ibu

Sahabat rahimakumullah, membaca lirik ini akan membuat kita refleks mengenang masa kecil dulu saat lagu ini begitu populer yang dinyanyikan oleh Iwan Fals bukan?
Lirik ini bukan hanya relevan dengan jaman dulu, bahkan sampai sekarang rasanya apa pun perjuangan kita pada ibu tidak akan mampu membalas jasa-jasanya

Saya teringat dengan seorang ibu yang anaknya penghafal Quran tapi anaknya ini buta. Lalu sang ibu mengungkapkan sebuah harapan kepada anaknya bahwa ia ingin sekali melihat anaknya bisa melihat sebagaimana anak-anak yang lain. Bisa melihat keindahan dunia, bisa memandang wajah ibunya. Bukan hanya itu, sang ibu sempat berfikir untuk memberikan matanya pada sang anak agar anaknya bisa melihat. Sayang sang dokter mengatakan bahwa kelainan pada mata anaknya itu bukan pada matanya tapi pada sarafnya. Sehingga meskipun mata sang ibu di donorkan tetap tidak akan berpengaruh apa-apa.

Demikianlah kasih sayang seorang ibu. Meski tidak seprti lirik di atas, tapi itu cukup menjadi sebuah perumpamaan hati seorang ibu. Andaikan kebahagiaan sang anak hanya akan terwujud meski harus melewati ribuan kilo, itu yang akan sang ibu lakukan.

Maha Besar Allah, yang telah memberikan kita karunia seorang ibu. Yang hatinya begitu tulus, cintanya begitu luas, sayangnya tak bertepi. MaaysaAllah.
Maka wajar saja, jika baginda nabi sampai mengatakan bahwa ibumu, ibumu, ibumu, lalu ayahmu. Betapa agung kedudukan seorang ibu karena ia memiliki hati yang juga begitu agung.
Maka sahabat, sudah sepantasnya kita sebagai anak membahagiakan dan tidak menyakiti hati ibu kita. Menyakiti ini berbagai bentuk, mulai dari ter ringan sampai yang paling berat.

Pertama, berkata ah saja pada orang tua terlebih kepada ibu itu tidak dibenarkan. Ini adalah bentuk menyakiti hati orang tua yang mungkin paling ringan menurut ukuran manusia, tapi si sisi Allah amat berat. Berhati-hatilah

Kedua, tidak memuliakannya. Di era milenial ini, handphone begitu bersahabat dengan manusia, dan yang paling memilukan adalah ketika seorang anak sudah keasyikan dengan hp nya, terkadang tidak memperdulikan pekerjaan orang tuanya. Naudzubillah.

Ketiga, menjerumuskannya ke dalam api neraka. Naudzubillah mindzalik. Inilah bentuk kedurhakaan seorang anak pada orang tua yang kebanyakam tidak disadari namun sangat banyak terjadi. Dan ingat pertanggung jawabannya di hadapan Allah amat berat.

Apa itu?

Yakni menjadi anak yang tidak taat syariat islam. Anak adalah titipan dari Allah kepada orang tua, jika orang yang ditempati menitipkan barang tidak amanah. Merusak atau sampai menghilangkan. Pasti siapa pun akan merasa kecewa dengan sikap orang yang tersebut bukan? Demikian juga dengan anak. Anak adalah titipan dari Allah, anak bukan milik orang tua sepenuhnya. Ia hanya titipan. Jika orang tua tidak amanah dialah yang akan mendapat sangksi dan dialah yang harus bertanggung jawab atas titipan tersebut. Demikian juga anak.

Oleh karenanya, seorang anak wanita yang tidak menutup aurat sama halnya ia menjerumuskan kedua orang tuanya ke dalam api neraka. Demikian juga, seorang anak pria maupun wanita yang waktunya tidak digunakan dalam kebaikan maka ia akan dimintai pertanggung jawaban demikian juga kedua orang tuanya.
Terkadang orang tua sudah menasehati, tapi si anak tidak mengindahkan. Naudzubillah. Jadi pasa saat kapan kita ini mau mendengar dan mau berbakti pada orang tua? Kita ini sedang mempersiapkan uang sebanyak apa sih untuk diberikan kepada mereka sehingga kita merasa berhak untuk menunda berbakti dan taat kepada mereka?

Ingatkah engaku pada kisah seorang pemuda yang pernah berkata sepeti ini, "Sungguh aku ini laksana onta penganggkut barang yang hina bagi ibuku. 

Jika ibuku menarik tali kekangnya dengan sangat keras maka aku tidak pernah mengeluh karena lelah melayaninya"

Kemudian pemuda itu mengatakan, "Wahai Ibnu Umar apakah menurutmu aku telah mampu membalas jasanya kepadaku?"

Lalu Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘anhuma menjawab, "Tidak, (engkau belum sanggup membalas jasanya) walaupun cuma satu rintihan tarikan nafasnya saat melahirkanmu"
SubhanaAllah.

Sahabat, jika kita telah menyadari bahwa melakukan dan merendahkan diri di hadapan orang tua kita tak mampu membalas jasa mereka. Lalu atas apa kita mendurhakai mereka.
Bahkan meski segunung emas yang kita berikan kepada mereka. Itu tidak akan mampu membalas jasa mereka.

Kita tahu, di dunia ini kedua orang tua kita rela melakukan apa saja demi kebahagiaan kita, lalu apa lagi alasan kita tidak ingin membahagiakan mereka juga. Setidaknya kita jangan menjadi anak yang justru menjerumuskan kedua orang tua yang telah merawat, membesarkan dan menyayangi kita di dunia ini justru kita jerumuskan ke dalam api neraka karena ulah anaknya ini.

Yuk sahabat kita menjadi anak yang membanggakan untuk kedua orang tua kita baik di dunia maupun di akhirat kelak. Jika memang sudah terlanjur jadi anak yang kurang baik, insyaAllah tidak ada kata terlambat selagi Allah masih memberi nafas. Jika memang berbalik arah itu diperkukan, kenapa langkah itu tidak kita ambil demi kebaikan. Yuuk hijrah, demi melihat senyum indah kedua orang tua kita di syurga kelak. Aamiin. Wallahu a'lam bishawab


00.00 14, Ramadhan 1440 H

Senin, 21 Januari 2019

MOTOR dan DAKWAH

Dulu
.
.
.
Motor Bapak bahkan hanya menyentuhnya saja aku tidak berani.

Tapi Alhamdulillah sekarang mau di bawa perjalanan sejauh apa pun dan ke mana pun Alhmadulillah Bapak ijinkan.

Alhmdulillah bapak ada dua motor pribadi jadi kalau motornya yang satu aku pakai, bapak biasanya ngalah pakai motor yang satu lagi.

Kendaraan ini adalah titipan dari Allah. Dia lebih tahu apa yg akan terjadi nanti makanya Allah siapkan motor ini sebagai ganti kalau motor biruku lagi manja-manja di rumah.

Masih lekat banget di ingatan aku, saat masih awal-awal selesai kuliah dan mulai dakwah di kampung.

Jarak tempuh tempatku dengan tempat ngisi kajian adik-adik SMK itu kurang lebih 70 sampai 80 menit dan sebelum berangkat bapak selalu bertanya, tepatnya menginterogasi

Mau ke mana? Padahal sudah tahu mau ke mana sebenarnya. Dan selalunya pasti berekspresi berat untuk mengijinkanku keluar.

Dan alhamdulillah sekarang bliau berbanding terbalik banget dengam dulu. Kalau dulu di tanya-tanya, Alhmdulillah sekarang ke mana pun aku pergi bapak hanya mendoakanku agar selamat dan bisa berhati-hati.

Bapak sangat percaya denganku ke mana pun aku pergi. Dengan teman mana pun.

Itu terjadi tidak serta merta tentunya yah dear. Ada proses. Interaksi dan akhlak islam yang kita terapkan dalam kehidupan kita yg membuat ortu menaruh kepercayaan pada kita.

Dengan sabar menghadapi segala bentuk interogasi dari orang tua.

Jika pun hari ini orang tua belum menerima perjuangan kita. Kembalikan ke kita, mungkin cara penyampaian kita yang mesti di perbaiki lagi.

Jika orang tua keberatan jika kita selalu ke luar. Mungkin mengatur waktu dengan keluarga dan aktivitas di luar rumah perlu di perbaiki lagi aturannya.

Positif thinking aja. Kembalikan ke diri kita aja bahwa orang tua hanya ingin yang terbaik untuk anaknya.

Buat orang tua kita yakin bahwa kita adalah anak yang amanah dan bisa menjaga diri. Hanya itu yang ingin orang tua pastikan dari kita.

Saat menghadapi pertentangan dan segala bentuk ujian, berfikir positiflah selalu. InsyaaAllah semua perkara itu baik. Yakinlah setiap apa yang menimpa kita adalah baik dan ada proses pendewasaan di sana.

Coba andaikan dulu saat ortu menasihati, memarahi kita. Kita ikut marah-marah dan bersitegang maka akibatnya pasti berdampak sampai sekarang.

Maka tidak ada yang mesti kita lakukan kecuali dakwah dengan memperhatikan akhlak disertai ilmunya. Tentu hal ini telah Allah jelaskan agar menyampaikan islam dengan cara yang ahsan, dengan hikmah dan pengajaran.

Aku jadi teringat dengan kisah Ustdz Felix, beliau dengan orang tuanya tidak satu aqidah tapi orang tua beliau sangat mendukung dakwahnya. Bahkan di fasilitasi jika hendak pergi berdakwah.

Jadi didukung oleh ortu tidak mesti harus se arah pemikiran yah Dear. Meski se arah adalah harapan yang sangat ingin diwujudkan. Iya kan.

Tapi masalah hidayah. Allah yang beri.

Jika sudah demikian, kita kembalikan lagi bahwa, tugas kita adalah berdakwah, mengaplikasikan pemahaman islam kita, Ilmu iman dan akhlak. Aplikasikan keempatnya dalam setiap sendi kehidupan maka jangankan keluarga musuh pun akan menaruh hormat pada kita.

Iya kan.

Masih ingat dengan Abu Thalib paman Rasulullah Saw. Paman Rasul tidak mengakui Islam tapi beliau mendukung dakwah Ponakannya.

Demikianlah hebatnya islam, indahnya  pancaran iman dari Akhlak islam yang dicontohkan Baginda Nabi.

Kalau pun kita belum mampu menjadikan keluarga kita sepemahaman setidaknya mereka mengerti dengan perjuangan kita.

Maka akan berlaku sebuah kalimat.

Jangan bersama seseorang karena ia baik
Tapi jadilah baik maka seseorang akan bersama kalian.

Jangan inginkan kebaikan dari seseorang
Tapi berbuat baiklah maka akan ada kebaikan yang menjadi harapan untuk mereka jadi baik pula.

Sehingga sampailah kita pada pepatah Ustdz Salim A Fillah "Jangan Jatuh Cinta
Tapi Bangun Cinta"

Dan akhirnya saya juga punya pepatah

Jangan jatuh di jalan dakwah
Tapi dakwahlah meski berkali-kali jatuh

Karena kepercayaan itu dibangun
Kesetiaan itu dibangun
Istiqomah itu dibangun
Dan cinta itu di bangun

Special untukmu... Semoga kelak kita bersama di Jalan Cinta Para Pejuang

Aamiin.

#Muslimahpenaperadaban
#ODOPbatch1
#mengenangaja

Sabtu, 19 Januari 2019

Harga Seorang Wanita Muslimah

Dear
Ukhtiku Muslimah Sejati

Tahukah ukhti
Dirimu begitu berharga
Saking berharganya dirimu sebagai muslimah
Sebesar apa pun materi tak mampu membeli dirimu.
Tahukah ukhti
Dirimu itu tak ternilai oleh perhiasan dunia apa pun
Dan tak bisa digadai oleh materi

Dear
Ukhtiku Muslimah Sejati
Janganlah tergiur dengan angka fantastis
Karena yang demikian adalah kesenangan semu
Kebahagiaan hakiki tidak ternilai oleh materi dan tidak berhitung angka

Harga seorang muslimah tidak di ukur oleh angka-angka materi tapi penghormatan.

Dear
Ukhtiku muslimah sejati

Betapa sedih melihat mereka yang dinilai dengan segepok materi, dinikmati setiap inci badannya, terhina, dihina, lalu ditelantarkan dan dilupakan.

Yah rabb. Ampuni kami. Ampuni saudara kami. Bukakan pintu hatinya.

Dear
Ukhtiku muslimah sejati

Materi
Itu bukan nilai diri anda
Tapi niat orang yang mendatangi ukhtilah letak nilainya.

Seberapa besar tekadnya ingin memuliakan anda di hadapan Rabbnya.
Seberapa serius ia meminta anda pada orang tua anda. Menjaga anda dengan ikatan yang halal dan seberapa baik ia memanggil anda dengan panggilan terbaik "Istriku"

Alangkah beruntung dan bahaginya anda. Jika didatangi seorang pria dengan membawa materi dengan niat untuk memuliakan Anda.

Inilah kemuliaan. Kebahagiaan, dan harga yang tak ternilai pula. Jika pun ingin membeli kebahagiaan ini dengan materi, saya jamin ia (kebahagiaan itu) tak akan anda dapatkan dengan jalan yang demikian.

"Sesungguhnya apabila seorang suami menatap istrinya dan istrinya membalas pandangannya (dengan pandangan penuh cinta kasih) maka Allah SWT. akan menatap mereka dengan pandangan kasih mesra. Dan jika suami membelai tangan istrinya, maka dosa mereka akan berguguran di sela-sela jari tengah mereka." ( HR. Miasyarah bin Ali dari Abu Said bin Al Hudri)

Ini baru memandang dan berpegangan dengan yang halal. Belum ketika mengandung, melahirkan, menyusui, mendidik plus melayani suami. Maka bisa dipastikan, materi yang segepok bagi orang-orang yang selalu mengukur segalanya dengan materi tidak apa-apanya jika dibanding balasan dari Allah SWT Sang Pemilik Kekayaan.

Ingat!
Hal ini hanya bisa ukhti dapat dengan jalan yang halal (pernikahan bukan perzinahan)

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita semua. Memberikan keistiqomahan dan meberikan karunia pasangan soleh/solehah dan soleh mensolehkan.

Aamiin

08 Januari 2019
@eka_trisnawatianwar

#muslimahpenaperadaban
#2019tetapberdakwah
#2019gantistatus
#2019gantisemua
#calonumishalihah
#nikahmuda
#penamuslimah
#yukngaji
#yukhijrah

Senin, 03 Desember 2018

MALU Versi Bapak

"Iyae linoe onrong leppal-lepanggengmi mi tu nak. Siri' mi iyala pallawa lawa linota idi tau ogi e."

Begitulah orang tuaku sangat menekankan pada anak-anaknya untuk memelihara rasa malu ini.

Dan agama Islam pun telah mengajarkan dan memandang bahwa malu ini adalah bagian dari syariat islam

"Setiap agama memiliki akhlak dan akhlak islam yakni rasa malu" ( HR. Malik)

Ibnu Mas'ud menuturkan bahwa Rasulullah saw.  pernah bersabda :

Sesungguhnya di antara kalam nubuwwah (ungkapan kenabian) pertama yang di pahami manusia adalah, "jika kamu tidak punya rasa malu, berbuatlah sesukamu!" (HR al-Bukhari).

Rasa malu ini tentu saja rasa malu kepada Allah SWT. Menurut Imam al-Badhawi, hakikat malu kepada Allah adalah memelihara diri dari segala ucapan dan tindakan yang tidak Allah ridhai.

Kebiasaan keluarga kami adalah duduk bersama saat pagi sebelum berangkat kerja dan juga saat malam kami sering duduk bersama di ruang keluarga.

Aku selalu bersemangat ketika duduk bersama Bapak di ruang keluarga yang tanpa sofa itu.

Kami duduk lesehan, sambil memerhatikan Bapak menghirup kopi hangatnya. Aku terkadang duduk di hadapan Bapak, kadang juga di sampingnya.

Suatu hari saat aku hendak berangkat menuntut ilmu ke Pulau Jawa, kali ini Bapak yang memanggilku untuk duduk di dekatnya.

Kalau Bapak sudah memanggil, apa pun yang aku lakukan bahkan shalat sekalipun aku lebih mendahulukan panggilannya apalagi hal yang sangat mendesak dan penting.

"Nak, Bapak selalu mengulang kata-kata ini ke kamu. Bahwa kita singgah di dunia ini yang jadi bekal kita salah satunya adalah rasa malu." Nada bapak begitu lembut namun tidak menghilangkan ketegasannya.

"Sama seperti nenek kamu berpesan dulu ke Bapak. Iyae linoe onrong leppal-lepanggengmi mi tu nak. Siri' mi iyala pallawa lawa linota idi tau ogi e."

"Siri atau malu ini maknanya luas nak. Pertama malu pada Allah. Malu pada Allah itu maksudnya adalah ketika tak ada yang melihat kita maka kita malu karena ada Allah yang Maha Melihat yang membuat kita malu. Itulah malu pada Allah."

"Yang kedua. Malu karena orang tua. Dimana pun kamu anakku pergi. Kamu harus selalu ingat bahwa nama bapak selalu melekat di belakang nama mu nak."

"Ingat selalu dalam hati kamu bahwa, jika kamu melakukan keburukan, yang pertama malu dan namanya tercoreng adalah nama bapak. Karena bapak bertanggung jawab pada putrinya" kata-kata Bapak ini bikin mewek dan aku pun menunduk berusaha menyembunyikan embun yang tiba-tiba jatuh di ujung mataku.

Aku masih terdiam dan Bapak melanjutkan lagi.

Ketiga nak. Malu lah pada diri sendiri. Apa pun yang kamu lakukan malu sama diri kamu sendiri. Jangan ingin terlihat pada orang lain. Tapi berusahala tampil apa adanya dan bawa diri kamu sebagaimana yang orang tua kamu ajarkan.

"Jika kamu hendak melakukan sesuatu, kembalilah bertanya kepada diri kamu sendiri bahwa apakah yang kamu lakukan itu tidak akan membuat diri kamu malu atau orang tuamu malu atau Allah malu melihat perbuatanmu."

"Jangan lakukan apa pun untuk penilaian dan pengakuan orang. Tapi lakukan hal yang ingin kamu lakukan karena kamu malu pada dirimu jika tak mencapainya"

MaasyaaAllah. Serius setiap duduk sama Bapak itu rasanya kayak nano-nano. Campur aduk.

Setiap kata yang keluar dari mulut Bapak selalu dalam dan menghujam sampai ke jantung.

Terima kasih Pah.

Papa selalu bisa jadi lelaki nomor 2 yang selalu buat aku Baper alias Bawa perubahan.

Aku sangat bersyukur Allah SWT hadiahkan Bapak di kehidupanku.

Dan aku selalu bersyukur atas setiap kekurangan Bapak. Dengan begitu aku bisa sering-sering diskusi dengan Bapak agar kami bisa saling bertukar pendapat dan bisa mempererat kedekatan kami.

Semoga Allah mampukan aku memberi hadiah terindah di surga kelak dengan mahkota kemuliaan dari Allah untuk Mamah Papah nanti.InsyaaAllah. Aamiin

Rabu, 07 November 2018

Bukan Kisah Cinta Biasa

Sobat , Seringkali saat membahas tentang sebuah gambaran rumah tangga yang penuh keharmonisan, kata-kata mesra, candaan yang membangkitkan rasa cinta dan kedekatan suami istri yang terbayang adalah rumah tangga yang masih menghitung hari, bulan dan bahkan yang baru berusia satu atau dua tahun.

Mengapa demikian, karena kabarnya ikatan pernikahan yang masih awal itu masih kuat dan belum nampak kekurangan satu sama lain.

Namun Sobat, kisah dibawah ini mampu membuat akal kita berfikir dan bertanya, apa gerangan resep yang mampu membuat pasangan suami istri yang sudah senja ini tetap romantis bahkan kata-katanya mampu mengalahkan sejuknya embun di pagi hari. duhai alangkah so sweetnya (pinjam kata-kata anak muda jaman new).

Membaca kisahnya dijamin air mata menetes dan membuat pasangan anda berfikir setelah membacanya. Silahkan baca sampai tuntas yah.

Di sebuah rumah sederhana yang asri, tinggal sepasang suami istri yang sudah memasuki usia senja.

Pasangan ini dikaruniai dua orang anak yang telah dewasa dan memiliki kehidupan sendiri yang mapan.

Sang suami merupakan seorang pensiunan, sedangkan istrinya seorang ibu rumah tangga.

Suami istri ini lebih memilih untuk tetap tinggal di rumah, padahal anak-anak mereka mengajaknya untuk pindah ke rumahnya, namun mereka menolak ketika putra-putri mereka, menawarkan untuk ikut pindah bersama mereka.

Jadilah mereka, sepasang suami istri yang hampir renta itu menghabiskan waktu mereka yang tersisa, di rumah yang telah menjadi saksi berjuta peristiwa, dalam keluarga itu.

Suatu senja ba’da Isya di sebuah masjid tak jauh dari rumah mereka, sang istri tidak menemukan sandal yang dikenakannya ke masjid tadi.

Saat sibuk mencari, suaminya datang menghampiri seraya bertanya mesra :

“Kenapa Bu?”

Istrinya menoleh sambil menjawab: “Sandal Ibu tidak ketemu, Pak”.

“Ya sudah pakai ini saja”, kata suaminya, sambil menyodorkan sandal yang dipakainya.

Walau agak ragu, sang istri tetap memakai sandal itu, dengan berat hati, karenan baginya menuruti perkataan suaminya adalah kebiasaannya.

Jarang sekali ia membantah apa yang dikatakan oleh sang suami.

Mengerti kegundahan istrinya, sang suami mengeratkan genggaman pada tangan istrinya.

“Bagaimanapun usahaku untuk berterima kasih pada kaki istriku, yang telah menopang hidupku selama puluhan tahun itu, takkan pernah setimpal terhadap apa yang telah dilakukannya".

Kaki yang selalu berlari kecil membukakan pintu untuk-ku, saat aku pulang kerja,

Kaki yang telah mengantar anak-anakku ke sekolah tanpa kenal lelah, serta kaki yang menyusuri berbagai tempat mencari berbagai kebutuhanku dan anak-anakku”.

Sang istri memandang suaminya sambil tersenyum dengan tulus, dan mereka pun mengarahkan langkah menuju rumah, tempatnya bebrbagi kebahagiaan bersama.

Karena usia yang telah lanjut dan penyakit diabetes yang dideritanya, sang istri mulai mangalami gangguan penglihatan.

Saat ia kesulitan merapikan kukunya, sang suami dengan lembut, mengambil gunting kuku dari tangan istrinya.

Jari-jari yang mulai keriput itu, dalam genggamannya mulai dirapikan, dan setelah selesai sang suami mencium jari-jari itu dengan lembut, dan bergumam :

“Terima kasih ya Bu ”.

“Tidak, Ibu yang seharusnya berterima kasih sama Bapak, telah membantu memotong kuku Ibu”, tukas sang istri tersipu malu. (Ya rabb mesra banget kan Sobat Ucer)

“Terimakasih untuk semua pekerjaan luar biasa, yang belum tentu sanggup aku lakukan.

Aku takjub, betapa luar biasanya Ibu. Aku tahu semua takkan terbalas sampai kapanpun”, kata suaminya tulus.

Dua titik bening menggantung di sudut mata sang istri.

“Bapak kok bicara begitu?

Ibu senang atas semuanya Pak, apa yang telah kita lalui bersama, adalah sesuatu yang luar biasa.

Ibu selalu bersyukur, atas semua yang dilimpahkan pada keluarga kita, baik ataupun buruk.

Semuanya dapat kita hadapi bersama”.

Hari Jum’at yang cerah, setelah beberapa hari hujan.

Siang itu, sang suami bersiap hendak menunaikan ibadah Shalat Jum’at,

Setelah berpamitan pada sang istri, ia menoleh sekali lagi pada sang istri, menatap tepat pada matanya, sebelum akhirnya melangkah pergi.

Tak ada tanda yang tak biasa di mata dan perasaan sang istri, hingga saat beberapa orang mengetuk pintu, membawa kabar yang tak pernah diduganya.

Ternyata siang itu sang suami tercinta telah menyelesaikan perjalanannya di dunia.

Ia telah pulang menghadap Sang Penciptanya, ketika sedang menjalankan ibadah Shalat Jum’at, tepatnya saat duduk membaca Tasyahud Akhir.

Masih dalam posisi duduk sempurna, dengan telunjuk ke arah Kiblat, ia menghadap Yang Maha Kuasa.

"Innaa Lillaahi Wainnaa ilaihi Rooji'uun"

“Subhanallah.... sungguh akhir perjalanan hidup yang indah”, demikian gumam para jama’ah, setelah menyadari ternyata dia telah tiada, di akhir shalat Jum'at.

Sang istri terbayang, tatapan terakhir suaminya, saat mau berangkat ke masjid.

Terselip tanya dalam hatinya, mungkinkah itu sebagai tanda perpisahan, pengganti ucapan "Selamat Tinggal ...".

Ataukah suaminya khawatir, meninggalkannya sendiri, di dunia ini. Ada gundah menggelayut di hati sang istri, walau masih ada anak-anak yang akan mengurusnya, tapi kehilangan suami yang telah didampinginya selama puluhan tahun, cukup membuatnya terguncang. Namun ia tidak mengurangi sedikitpun, keikhlasan dihatinya, yang bisa menghambat perjalanan sang suami, menghadap Sang Khalik.

Dalam do’a, dia selalu memohon kekuatan, agar dapat bertahan dan juga memohon agar suaminya ditempatkan, pada tempat yang layak.

Tak lama setelah kepergian suaminya, sang istri bermimpi bertemu dengan suaminya.

Dengan wajah yang cerah, sang suami menghampiri istrinya dan menyisir rambut sang istri, dengan lembut.

“Apa yang Bapak lakukan?", tanya istrinya senang bercampur bingung.

“Ibu harus kelihatan cantik, kita akan melakukan perjalanan panjang.

Bapak tidak bisa tanpa Ibu, bahkan setelah kehidupan di dunia ini berakhir sekalipun.

Bapak selalu butuh Ibu. Saat disuruh memilih pendamping, Bapak bingung, kemudian bilang "Pendampingnya tertinggal", Bapakpun mohon izin untuk menjemput Ibu”.

Istrinya menangis, sebelum akhirnya berkata :

“Ibu ikhlas Bapak pergi, tapi Ibu juga tidak bisa bohong, kalau Ibu takut sekali tinggal sendirian.

Kalau ada kesempatan mendampingi Bapak sekali lagi, dan untuk selamanya, tentu saja tidak akan Ibu sia-siakan."

Sang istri mengakhiri tangisannya, dan menggantinya dengan senyuman.

Senyuman indah dalam tidur panjang selamanya….

Demikian mungkin pesan indah sang Khaik, "Istri mu itu adalah 'Bajumu' dan Suamimu itu adalah 'Bajumu' pula"

Semoga bisa mempererat cinta kasih yang sejati pasutri (pasangan suami istri), ... karena Allah... aamiin.

Ya Rabb... Jadikan keluarga kami Sakinah Mawaddah wa Rahmah, wafatkan kami dalam keadaan Husnul Khatima...Aamiin.

Rabu, 24 Oktober 2018

Hidup dan Sebuah Persimpangan


Abu Bakar r.a. berkata, " Sesungguhnya iblis berdiri di depanmu, jiwa di sebelah kananmu, nafsu di sebelah kirimu, dunia di sebelah belakangmu dan semua anggota tubuhmu berada di sekitar tubuhmu. Sedangkan Allah di atasmu.
Sementara iblis terkutuk mengajakmu meninggalkan agama, jiwa mengajakmu ke arah maksiat, nafsu mengajakmu memenuhi syahwat, dunia mengajakmu supaya memilihnya dari akhirat dan anggota tubuh menagajakmu melakukan dosa. Dan Tuhan mengajakmu masuk Syurga serta mendapat keampunan-Nya, sebagaimana firmannya yang bermaksud, "....Dan Allah mengajak ke Syurga serta menuju keampunan-Nya..."
Siapa yang memenuhi ajakan iblis, maka hilang agama dari dirinya. Sesiapa yang memenuhi ajakan jiwa, maka hilang darinya nilai nyawanya. Sesiapa yang memenuhi ajakan nafsunya, maka hilanglah akal dari dirinya. Siapa yang memenuhi ajakan dunia, maka hilang akhirat dari dirinya. Dan siapa yang memenuhi ajakan anggota tubuhnya, maka hilang syurga dari dirinya.
Dan siapa yang memenuhi ajakan Allah S.W.T., maka hilang dari dirinya semua kejahatan dan ia memperolehi semua kebaikan."
Iblis adalah musuh manusia, sementara manusia adalah sasaran iblis. Oleh itu, manusia hendaklah sentiasa berwaspada sebab iblis sentiasa melihat tepat pada sasarannya.
Semoga kita enggak salah jalan karena salah milih jalan saat menemukan persimpangan yah dear

Selasa, 02 Oktober 2018

Andai Saja Perasaan Kita Saat Tiba Waktu Shalat, Sepeti Perasaan Saat Ada Tsunami dan Gempa

Beredar kabar

Bukan cuma Lanipa, semua Palopo, Bua,  Ponrang, Padang-sappa sampai Belopa..

Semua orang pada mengungsi naik gunung, bahkan jalan ke Toraja padat bahkan macet..

Banyak yang boncengan 4 bahkan ada akhwat yg boncengan 6 orang..

Kebayang.

Seandainya saja
Saat waktu shalat, orang-orang lari berbondong-bondong ke mesjid untuk shalat

Tahukah kita ganjaran bagi orang yang meninggalkan shalat

Dan siapa yang meremehkan (meninggalkan) shalat akan dihukum oleh Allah dengan lima belas siksa. Lima di dunia, dan tiga ketika mati, dan tiga di dalam kubur, dan tiga ketika keluar dari kubur.

Adapun yang di dunia ;

1.    Dicabut berkat umurnya.

2.    Dihapus tanda orang salih dari mukanya.

3.   Tiap amal yang dikerjakan tidak diberi pahala oleh Allah.

4.    Do'anya tidak dinaikkan kelangit.

5.   Tidak dapat bagian dari do'a orang-orang sholihin

Adapun hukuman yang terkena padanya ketika mati

1.    Matinya hina.

2.    Mati kelaparan.

3.    Mati haus, dan andaikan diberi air samudera dunia tidak akan puas, dan tetap haus

Adapun hukuman di dalam kubur :

1. Disempitkan kubur sehinuga hancur tulang-tulang rusuknya.

2. Dinyalakan api dalam kubur, maka ia bergelimpang dalam api, siang, malam.

3. Didatangkan padanya ular yang bernama syuja' yang buta matanya dari api (berapi) dan kukunya dari besi tiap kuku panjangnya perjalanan sehari, ia berkata pada si mayit ; " Aku syuja' al'aqra', sedang suaranya bagaikan petir yang menyambar, ia berkata : Allah telah menyuruhku memukul kamu karena meninggalkan shalat subuh hingga terbit matahari, dan memukul kamu karena meninggalkan shalat dhuhur hingga asar, dan memukul kamu karena meninggalkan shalat ashar hingga maghrib, dan memukulmu karena meninggalkan shalat maghrib hingga isya', dan memukulmu karena meninggalkan shalat isya' hingga shubuh, dan tiap ia memukul satu kali terbenamlah orang itu  kedalam tanah tujuh puluh hasta, maka ia selalu tersiksa dalam kubur hingga hari qiyamat.

Adapun hukuman yang menimpa padanya sesudah keluar dari kubur dihari qiyamat :

1.  Diberatkan hisabnya.,

2.  Allah murka padanya,

3.  Masuk dalam neraka.

Di lain riwayat :  Maka ia akan menghadap qiyamat dan dimukanya ada tiga baris tulisan :

1. Hai orang yang mengabaikan hak Allah.

2. Hai orang yang mendapat murka.

3. Allah mengabaikan kamu sebagaimana kamu didunia mengabaikan hak Allah maka hari ini kamu putus dari rahmat Allah

Jika Memang Harus Berbalik Arah

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh Lewati rintangan untuk aku anakmu Ibuku sayang masih terus berjalan Walau tapak kaki penuh darah p...