Minggu, 18 Februari 2018

Kepergian Suami

Senja dilangit kini mulai berwarna jingga, langit biru berubah warna seolah mengisyaratkan siang kan berganti gelap

Seorang wanita separoh baya masih terlihat memandangi langit dengan tatapan kosong, wajahnya sayup dan pucat. Bibirnya seolah membaca sebuah mantra, tepatnya ia sedang berbicara sendiri

Wanita itu berusia empat puluh lima tahun ia bernama Harnita. Harnita adalah sosok bersahaja, ramah dan juga suka memberi kepada tetangga.

Setiap kali suaminya pulang kerja, Suami Harnita selalu membawa buah ataupun makanan. Harnita tak pernah lupa membagikan kepada tetangga.

Keluarga mereka sangat ramah, harmonis dan baik hati. Mungkin karena itu Kepala Desa pernah berkata kepada warga

"Seandainya disini diadakan pemilihan keluarga paling harmonis dan bahagia, maka keluarga ibumulah yang jadi pemenangnya"

***

Kak Tiya dan Musafir berlari keluar dari kamar mereka, saat itu sudah larut malam, tiba-tiba saja suara barang jatuh memecah kesunyian.

Ibu mereka, Hartina ternyata mengamuk didalam dapur. Ini pertama kalinya ibu mereka bertingkah seperti ini setelah seminggu kepergian suaminya.

Kepergian sang suami membuatnya sangat terpukul. Hampir setiap sore ia hanya duduk memandang kosong jalanan didepan rumah, sesekali ia juga mendongak ke langit dan tak terasa air mata dipipinya membasahi kulitnya yang mulai kusam karena tidak dirawat.

"Bu ayo masuk bu! Sudah hampir magrib, Aku antar ibu ke kamar yah" ajak Musafir kepada ibunya.

Hampir setiap sore Musafir memandangi ibunya yang selalu duduk termenung, memandanginya dari balik jendela kaca rumahnya untuk memastikan ibunya tidak kemana-mana.

***
Fir....Fir....Musafiiir....

Musafir baru saja akan berangkat belajar bersama teman-temannya, Suara teriakan dari balik pintu yang digedor-gedor membuat musafir kaget bukan main.

Musafir memang baru duduk dibangku Sekolah Menengah Atas kelas akhir, tapi ia sangat dewasa dan perhatian kepada orang tuanya. Ia juga anak yang berprestasi. Namun kebaikan dan prestasinya tak mampu menutupi kakinya yang pincang disebelah kiri sejak lahir, bagaimanapun ia kadang mendapat ejekan dari teman-temannya yang jail di sekolah.

"Ada apa paman? Kenapa paman Toni begitu panik?" Tanya Musafir dengan mulai oanik.

"Ibumu, Ibumu ditemukan dipinggir jembatan, sepertinya ia mencoba melompat di kali" Toni menjelaskan dengan tergesa-gesa.

Karena kejadian itu akhirnya Hartina terpaksa dikurung dalam sebuah ruangan kosong, sebenarnya Kak Tiya dan Musafir tidak tega, tapi mereka khawatir ibu mereka akan melukai diri sendiri bahkan warga jika ia dibiarkan.

#ODOP5

#Jumat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mendidik Anak Usia Dini

Terkadang saya mendengar perkataan orang tua yang mengatakan otak anak saya belum siap menempuh pendidikan dan belajar. Padahal ...