Kamis, 30 November 2017

Upah Guru Mengaji

Beberapa orang mempersoalkan sistem pengajaran mengaji sekarang. Tidak sedikit yang mengucilkan guru mengaji yang dibayar.

Saya sangat heran dengan mereka orang-orang yang rela mengeluarkan uang puluhan juta demi gelar yang ingin di raihnya di dunia ini. Namun merasa berat untuk ilmu agama yang jadi bekal di yaumil akhir.

Naudzubillah. Saya akan mengutip beberapa penjelasan dari buku dan juga sumber-sumber lain yang saya yakini mengenai upah seorang guru mengaji.

Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya upah yang paling benar kalian terima adalah Kitabullah.” (HR. Bukhori)

Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa jumhur ulama telah berdalil dengan hadits ini didalam membolehkan mengambil bayaran dari mengajarkan Al Qur’an.

Imam ash Shon’ani mengatakan bahwa Jumhur ulama, Malik dan Syafi’i membolehkan mengambil upah dari mengajarkan Al Qur’an baik orang yang belajarnya adalah anak kecil atau orang dewasa seandainya hal itu dapat membantu si pengajar didalam penagajarannya berdasarkan hadits diatas. Hal ini diperkuat lagi dengan apa yang disebutkan didalam bab nikah dimana Rasulullah saw pernah memerintahkan seseorang untuk mengajarkan istrinya Al Qur’an sebagai mahar baginya. (Subul as Salam juz III hal 155)

Sementara itu sebagian ulama yang lainnya, seperti Ahmad bin Hambal, Abu Hanifah dan al Hadawiyah tidak membolehkn pengambilan upah dari pengajaran Al Qur’an berdasarkan apa yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab berkata,”Aku telah mengajarkan seseorang Al Qur’an kemudian dia menghadiahiku sebuah busur (panah). Maka aku pun mengungkapkan hal ini kepada Nabi shallallahu alaihi wassalam dan beliau bersabda.

”Apabila engkau mengambilnya berarti engkau telah mengambil sebuah busur dari neraka.” Lalu aku pun mengembalikannya.” (HR. Ibnu Majah, Abu daud)

Sementara itu para ulama belakangan pada umumnya membolehkan pengambilan upah dari mengajarkan Al Qur’an dikarenakan darurat yaitu kekhawatiran akan hilangnya Al Qur’an di tengah-tengah kaum muslimin.

#Day12
#Squad3

Jangan Keblinger

Katanya penduduk negeri ini mayoritas adalah muslim. Sudah benarkah demikian?

Dalam shalatpun katanya kita menghadapkan wajah, hidup dan mati hanya untuk Allah pencipta semesta alam.

Pun dalam setiap aktivitas, kerja mencari penghidupan hanya untuk mempermudah bersedekah kepada sesama agar mendapat ridha Ilahi.

Mencari rezeki katanya agar tidak termasuk orang yang dibenci rosul yakni meminta-minta. Setiap apa yang kita lakukan mengakui lewat lisan hanya untuk Allah.

Dalam aplikasi apakah juga demikian membenarkan?
Orang-orang yang demikian sering kita temui di lingkungan kita.

Tak usah jauh, kadang diri pribadipun demikian. Namun yang lebih parahnya jika seperti co toh saudara kita yang satu ini, namanya adalah Riaseng (nama samaran)

Saat di ajak ikut kajian islam "Maaf yah kak, saya tidak bisa hari ahad, hari ahad biasanya di isi liburan keluarga."

"Trus bisanya hari apa kalau begitu,?"

"Kurang tau, karena senin sampai sabtu itu sibuk kuliah dan kerja!" Jawabnya dengan nada datar.

Nah ini contoh orang yang belum ada niat, atau seseorang yang inging belajar tapi setegah-setegah.

[Mbak saya mau belajar privat mengaji] katanya lewat pesan pribadi.

[Alhamdulillah, hari apa maunya Mbak, nanti saya luangkan waktu] Dengan senangnya menjawab.

Dan cuma dibaca.

Lama menunggu, hari pertama tak ada jawaban, hari kedua pun belum ada balasan. Hari ke tiga berlalu masih saja sama. Dalam hati menggumam ada apa gerangan?

[Mbak saya tak ada waktu mbak, saya kalau habis dari kampus sudah capek dan mana tugas mengoreksi tugas mahasiswa numpuk] sambil masang emot sedih.

[Biar saya yang ke rumah mbak kalau begitu, bagaimana mbak?]

Dindong....seminggu berlalu tak ada kepastian.

Ngenes amat hidup saya, ngenes menyaksikan orang-orang yang dikasi hati malah milih mati, mau belajar tapi setengah hati. Mau pintar tapi tak mau belajar. Mau diajar tapi tak mau belajar.

Duuh, emang dunia kebali kayaknya....tapi dunia mah nggak kebalik, kayaknya orang-orangnya yang pada keblinger.

Bukannya hari ini kita masih terbangun karena Allah masih memberi waktu di dunia, memberi waktu untuk hidup agar dapat menghapuskan dosa dan meperbanyak ibadah.

Lantas bagaimana kita mengatakan telah beribadah dengan benar jika buku petunjuk hidup kita (Al-Quran) saja kita abai terhadapnya. Padahal ini adalah handbook juga peta kita berjalan di bumi ini agar melewati jalan pulang yang tidak menyesatkan.

Jangan sampai kita termasuk orang yang bahkan tidak mampu mengerjakan satu pekerjaan dengan benar dalam satu hari. Bukan karena Allah tidak memberi waktu, melainkan kita terperdaya oleh fatamorgana dunia.

Ibnu Al-Qayyim rahimahullah menuturkan dalam syairnya yang begitu indah. "Kehilangan waktu itu lebih sulit daripada kematian karena kehilangan waktu membuatmu jauh dari Allah dan hari akhir. Sementara itu, kematian membuatmu jauh dari kehidupan dunia dan penghuninya saja."

Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa menggunakan waktu kita untuk memperbaiki diri, kualitas ibadah, dan juga memanfaatkan waktu yang tinggal di penghujung ini untuk senantiasa mencari ridha Allah agar kelak kita di hari akhir tak menjadi manusia-manusia yang penuh penyesalan.

Karena penyesalan itu adanya di akhir, setiap akhir tidak akan menjadi awal kembali.

Mati tak akan bawa titel, matipun tak akan bawah sertifikat rumah, tidak akan membawa emas berlian. Tidak juga istri atau suami bahkan anak yang mau menemani tidur dikuburan, tak ada. 

Tidak juga dengan pangkat dan jabatan, tidak akan terbebas kita dari pertanyaan karena kita ahli komputer, ahli game, ahli fisika, ahli matematika. Dosen, guru, PNS semuanya akan melewati.

Kita di syariatkan untuk mencari penghidupan duni agar tak meminta-minta. Juga untuk mendukung jalannya dakwah, berinfak, dan memenuhi kebutuhan hidup.

Tapi jangan sampai keblinger dengan dunia.

Mari kita perhatikan ayat berikut:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Aku tidaklah ciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah hanya kepada-Ku“. (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah adalah tujuan UTAMA kita diciptakan. Jika demikian, pantaskan kita menyeimbangkan antara tujuan utama dengan yang lainnya?!

Bahkan dalam doa “sapu jagat” yang sangat masyhur di kalangan awam, ada isyarat untuk mendahukan kehidupan akherat:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, juga kebaikan di akhirat. Dan peliharalah kami dari siksa neraka“. (QS. Albaqoroh: 201)

Wallahu A'lam bis shawab.

Oleh: Eka Trisnawati Anwar
IG: @eka_trisnawatianwar
Blog: ekashalihah.blogspot.com

#Day8
#Squad3
#Muslimahpenaperadaban

Pilu Mereka


Oleh : Eka Trisnawati

“Pilu Mereka”

Malam selalu gelap, sejak ia diciptakan hingga saat ini.
Mataharipun masih selalu bersinar, sejak ia diciptakan, hingga detik ini  tak pernah ia menyalahi titah tuhannya.

Hari berganti, roda kehidupan terus berputar, waktupun kian menjauh, seolah tak mau tahu.

Biadab kau
Kisah yang kau torehkan
Membumi namun suara rintihann melangit menggema.

Kini terbingkai kelam itu
Tak bisa terhapus
Semakin deras cucuran darah
Terkoyak badan ringkih
Berbalut dentuman demi dentuman.

bertasbih di semesta alam
berkali-kali sudah kudapati, bahwa rasa itu begitu menikmku
tak mau berhenti.

Langit malam ta berbintang pesawat berkicauan tak berawak mencekam, menakutkan.

Gaduh, luluh, lantak semua berlarian, berhamburan
Berusaha mencari perlindungan
Namun yang ada hanya kebingungan.

adakah yang mau melirik???
aah tidak....

Saat badan menjerit, selimut, bantal, kasur empuk tak bisa mereka nikmati...

Bahkan sebilik rumahpun mereka sudah tak punya

kerjaan, jabatan, title, mobil mewah, pakaian bersih.
Mereka tak berfikir lagi akan hal itu...

Bahkan nafas mereka mungkin tak sampai senja.

Luka itu begitu dalam
Hingga langit menjadi atap
Bumi ia sulap menjadi rumah
Tangan lembutnya menjadi bantal

Dedaunan dan rumputpun
menjadi santapan pengisi perut
hingga mereka lupa bagaimana rasa sesuap nasi itu...

Disaat bersamaan mereka hanya mampu terbaring, hening, diam
Kurus, kering, tak berdaya
Melayang nafas berhenti

#Day5
#Squad3

Rabu, 29 November 2017

Darurat Bencana

Jika engkau mengutamakan akhirat maka dunia akan mengikutimu.

Bukan apa-apa. Allah mengingatkan kita agar senantiasa beribadah, menyembah dan hanya berharap pada pertolongannya.

Bukan membatasi, mengekang bahkan tak mengizinkan kita untuk mencari penghidupan dunia. Terlalu sempit cara kita berfikir.

Betapa sedih melihat negeri kita hari ini darurat bencan.

Surabaya diterjang angin puting beliung, Jogjakarta terendam banjir yang tingginya sampai menenggelamkam rumah-rumah. Gunung agung meletus mengeluarkan kandungan apinya.

Belum lagi Arab negeri yang kering dan tandus telah banjir bagaikan luapan air laut.

India diliputi kabut tebal yang membuat pemandangan dari jarak dekatpun tak terlihat.

Belum lagi, mangga berbuah mengkudu, pohon besar mengeluarkan air dari dalam batanngnya, dan keanehan-keanehan lainnya.

Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kalian dustakan.

Telah banyak waktu yang Allah beri untuk memperbaiki diri agar limpahan rahmat dan keberkahan di diri dan negeri kita dengan memperbaiki diri beribadah dengan ikhlas hanya kepadanya semata.

Namun rasa aman-aman saja membuat kita abai dengan itu semua.

Hingga datang hari ini, mata-mata mulai terbelalak. Merintih, menangis, sesak dan pilu hati melihat kejadian ini.

Terlalu sombong diri kita yang Allah beri akal lalu banyak kita gunakan untuk menentang aturannya.

Pancasila di anggap lebih tinggi dari Al-Qur'an, Undang-undang lebih di junjung tinggi daripada hukum Allah. Agama di nista, Ulama di hina.

Ingat.

Sehebat apapun membangun drainase dan irgasi juga tempat pembuangan sampah. Sehebat apapun penataan kota jika k
tak taat kepada Allah.

Korupsi, minuman keras, berjudi, pacaran, menghalalkan yang diharamkan, dan mengharamkan yang di haramkan Allah. Maka tunggu dan lihatlah kuasa Allah.

Meluluh lantakkan gedung-gedung mewah, bangunan-bangunan terbaik. Menenggelamkan rumah menyapu mobil mewah, motor mewah, emas, berlian, handphone dan sesuatu yang kita bangga-banggakan selama ini.

Beruntungnya Allah masih beri waktu memperbaiki diri dan juga keluarga kita. Mengajak tetangga dan lingkungan kita. Memperbaiki diri dan juga lingkungan agar Allah memberi kasih dan rahmatnya untuk negeri ini. Karena Allah maha penyayang dan maha pengampun.

Gunakan waktu yang ada untuk berbenah, memperbaiki diri, kualitas ibadah dan hubungan terhadap sesama manusia dan makhluk Allah di bumi ini.

Smoga Allah menjauhkan kita dari adzabnya dan menjadikan kita semua khusnul khatimah. Aamiin...

#Day4
#Squad3
#30DWCjilid10

Selasa, 28 November 2017

Akan Jadi Siapa?

Akan Jadi Siapa?

Menjadi puing tak berharga
pasrah dengan keadaan, membiarkan diri terombang dalam ketidakjelasan hidup.

Ada yang memilih menjadi budak-budak setan. Adapula yang tak sadar menjadi budak-budak dunia, dan bahkan ada yang bertahan dengan budak-budak nafsu.

Melanglang buana, memangsa tubuh ringkih terbaring lemah di balik kardus-kardus bekas demi kuasa dan hidup serba berkelas.

Menjual waktu muda dengan bersantai, menggadainya dengan bercumbu dengan narkoba, bermain dengan wanita dan menyelimuti diri dengan kesenangan-kesenangan dunia yang membinasakan.

Di ufuk cakrawala
Yang bertengger di ranting-ranting ke emasan. Banyak kan kau temui kisah heroik yang bisa menjadi percikan semangat dan juga teladan. Namun tak sedikit yang tak mau tahu bahkan pula pura-pura tidak tahu.

Tentang keberanian yang terpancar dari wajah-wajah pemuda kala itu. Bagaikan tombak yang dengan kelembutannya memperlihatkan kerasnya.

Banyak sikap dan perilaku gaya Umar yang mereka hidupkan,
Panji-panji berkibar di atas menara.

Ibadah-ibadah sunnah menjadi sebuah kewajiban, jangan tanya ibadah wajibnya.
Siang harinya bagaikan malam karena berjihad dan berjuang,
malam harinya bagaikan siang karena shalat malam yang panjang.

#Day3
#Squad3
#30DWCjilid10
#Hidupternyataditangankita

Senin, 27 November 2017

Manusia Puing atau Robot

Manusia hanyalah puing-puing tak berharga di lautan lepas. Apalah artinya kita di antara seonggok mutiara di dasar laut sana.

Kepada cumi-cumi yang menggeliat lincah, kepada ikan yang memberi kehidupan bagi nelayan. Juga mberi kehidupan para nelayan. kepada rumput laut dan kerang yang jadi pengganjal perut-perut yang mulai menggempis.

Hanya saja, kita terlalu tak berharga berada ditengah keindahan yang terbentang. Menjadi penghalang bagi mata-mata yang menikmati panorama.

Diseret ombak ketepian pantai, tak bergerak tak melawan tak berontak, diam. Diam. Dan hanya diam. Membiarkan jiwa terpasung keterbatasan bak puing-puing yang tak berharga sedemikian itu.

Aduhai nyatanya kita mampu berontak namun merasa tak berhak bergerak. Pikiran terbatas itu telah memasung jiwa dan gerak kita.

Tapi tahukah kita, adakalanya manusia juga bisa seperti mesin atau robot. Yang dalam kepalanya di setting dengan program khusus. Namun disini kitalah yang andil besar mensetting program di dalam otak kita ini.

Apakah otak yang menggerakkan itu di isi dengan sesuatu yang positif atau sesuatu yang malah mengekang dan membatasi kita. Kita bisa memilihnya.

Mau seperti apakah kita? Seperti puing dilautan? atau seperti robot yang disetting dengan program-program tertentu?.

Dan tentunya bagi sebuah robot, program itulah yang akan mengatur dan menentukan arah langkah hidup kita kedepan. Atau pasrah seperti puing tak berharga dilautan.

#Hidup Ternyata di Tangan kita
#Day2
#Squad3
#30DWC jilid10

Minggu, 26 November 2017

Hari pertama

Hari pertama menulis di jilid sepuluh ini, sebenarnya serba bingung mau nulis apa.

Bukan tak ada ide, tapi karena bingung ide yang akan di tuangkan duluan yang mana?

Ditambah lagi dengan jawaban singkat oleh kak Rezki kemarin yang singkat itu membuat saya berfikir keras. Sudah sekeras ini berfikir, yang jadi tulisannya yah begini-begini saja.

Saya menggerutu pada diri sendiri. Kak Rezki saja yang dalam sehari bisa menyelesaiakn enam halaman dalam sehari dan bliau super sibuk, waah saya malah seperti ini.

Saya sementara belajar dengan mereka. InshaAllah.

Saya hanya ingin  membeberkan sedikit rahasia sebagai motivasi saya kedepan. InshaAllah topik yang ingin saya tulis kedepannya tidak jauh dengan tema cinta. Ahh cinta lagi, tidak bosa apa?

Membahasa masalah cinta memang tak ada habisnya. Dan tak ada bosannya orang membahas masalah cinta ini. Karena hidup ini memang penuh dengan cinta.

Tapi karena seharian sampai tengah malam ini aktifitas padat. Jadilah tulisan yang saya post yah seadanya saja. Yang pasti masih ada kaitannya dengan tema yang akan saya bahas 30 hari ke depan.

Serius, badan ini rasanya remuk. Mata sudah lima wat. Pekat dan perih. Tapi tak bileh bolos nulis.

#Day 1
#Squad 3
#30DWCJilid10

Mendidik Anak Usia Dini

Terkadang saya mendengar perkataan orang tua yang mengatakan otak anak saya belum siap menempuh pendidikan dan belajar. Padahal ...