Selasa, 29 Maret 2016

KABAR GEMBIRA



Matahari telah merekah indah embun-embun pagi sudak tak terlihat, yang ada hanya sinar mentari memberi kehangatan, seolah menggambarkan kehangatan hati para perantau yang dari tadi telah mempersiapkan diri dan segala perlengkapannya menuju sebuah daerah di pulau Ternate untuk segera berbagi kehangatan, beberapa orang masih terlihat masih menunggu perahu sambil berbincang dengan ibu-ibu dan bapak-bapak yang kebetuan juga sedang menunggu perahu.  

“Alhamdulillah.” Ucap salah seorang dari mereka.

Untung tak dapat diraih malang tak dapat di tolak (kutipan dari tulisan Mba Risa) Setelah menunggu kurang lebih tiga puluh menit akhirnya perahu yang mereka tunggu datang, tapi lagi-lagi mereka tak bisa langsung naik ke parahu karena perahu tak bisa bersandar di bibir pantai di sebabkan air yang surut dan banyaknya karang. Akhirnya rombongan itu mengambil alternatif lain.

“Spertinya kita harus ke di pantai yang lain.” Salah satu teman memberi saran.

“Kalau lewat pantai Banjar sepertinya bisa.” Jawab salah satu dari mereka sambil menunjuk ke arah kanan, lalu mengajak yang lain bergegas.

Akhirnya setelah melihat kondisi jika mereka tetap nekat naik perahu lewat pantai yang mereka tempati sekarang makan resiko kebasahan sampai di baju atasan akan mereka rasakan dan setelah  beberapa saat berunding mereka memutuskan pindah ke pantai banjar agar bisa naik di perahu dan mengurangi resiko kebasahan.

Perjalananpun di mulai, sekitar tiga puluh menit akhirnya gerakan yang mereka namai gerakan Sahabat Alor ini akhirnya sampai di bibir pulau, dan benar saja menunggu dan pindah pantai baru awal dari sebuah tantangan, masih ada tantangan lain setelah itu.

Di antara motivasi yang tersebar semoga yang memitivasi mereka adalah keimanan sebagaimana Allah dalam  firmannya telah mengabarkan kepada kita “ Apakah mereka akan di katakan beriman padahal belum datang kepada mereka cobaan sebagaiamana cobaan dan penderitaan yang ditimpakan kepada orang-orang sebelum mereka”  Ayat ini memiliki penafsiran yang sangat luas dan lugas namun menjadi motovasi bagi kita ketika menghadapi ujian dan tantangan, bisa jadi tantangan ini adalah ujian untuk meninggikan derajat kita di hadapan Allah. Pada saat di timpa ujian apakah kita mengeluh atau mengharap pertolongan kepada sang pemilik semesta.

Sebuah tangga yang sangat curam harus mereka tempuh  sebelum akhirnya sampai pada Sekolah dasar yang mereka tuju di depan mata telah terlihat, Setelah menemui pihak yang bewenang dan di luar ruangan kelas para siswa suda mulai berkumpul dan tentu senyum mereka yang sebagian masih malu-malu seketika  membuat lalah, letih,lesu dan lunglai (yang ini lebay yah ?).

Seketika semnyum adik-adik yang sebahagian masih terlihat malu-malu mengalahkan lelah yang mereka tempuh, lelah dan sukarnya perjalanan seketika terobati dengan senyum hangat dari adik-adik ini.

Beberapa kegiatan mulai mereka ajarkan untuk adik-adik, sepertia belajar mencuci tangan yang baik,bagaiamana menggosok gigi sampai, bermain dan bernyanyi setelah itu mereka membagikan sepatu yang di sambut antusias oleh adik-adik, mereka saling berkar sepatu agar semua bisa pas di kaki masing-masing. Di akhir mereka tutup dengan senyum dan dokumentasi wah rameee....

Setelah itu mereka minta diri untuk kembali sekalipun hujan deras dan ombak lautan yang sudah menanti mereka, namun mereka harus tetap melanjutkan perjalanan...

Semangat mba InsyaAllah Bersama kesulitan ada kemudahan.....

Salah satu kisah Mba Risa Ismail yang sangat luar biasa, selain aktif menulis di dunia ODOP jiwa sosial selalu mendorongnya tetap aktif berbagi kebahagiaan kepada sesama, selain berbagi sepatu ada kegiatan berbagi buku juga yang di adakan Mba Risa ini. Kalau ada yang mau berbagi, silahkan langsung aja ke Link dan Hubungi Mba Risa yah....! jangan Lupa baca tulisan Mba Risa Langaung di blognya yah...!!!
 marisaismail.blogspot.co.id

Semoga Allah balas kebaikannya mba, Allah sudah memberi kabar gembira lewat firmannya “Orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bagi mereka ke bahagiaan dan tempat kembali yang baik (TQS. Ar-Ra’d [13]:29)

Yah, selain beramal shaleh, tentu selalu di sertai Iman, yakni iman kepada ayat-ayat Allah dan berserah diri kepada Allah, itulah orang yang di persilahkan oleh Allah untuk masuk ke dalam surga, lihat (QS. Az-Zukhruf [43]:69-70)

Wallahu ‘alam..
#Kembali Menulis
#Arisan ODOP

Selasa, 22 Maret 2016

MERINDU

Sekitar pukul 15 entah lebih atau kurang berapa menit, cuaca di luar jendela yang tertutup kain gorden biru masih sangat terik, jika berada di luar rumah serasa bak di gurun sahara di Mesir sana.

Panas sore itu membuatku teringat degan status yang sedang mejeng di fb (facebook) tulisannya begini "Di kasi hujan minta Panas,  di kasi panas minta hujan, sekalian di kasi hujan air panas...binggung kan loe!"

Akhirnya niat mengeluh ku kubur dalam kata, Aku milih istirahat dan mensyukuri daripada menghujat ketentuan Allah.

Cuaca akhir-akhir ini memang terasa sangat panas, Alhandulillah masih bisa bernaung di kos sederhana ini, setelah pulang dari kampus Aku memilih kembali istirahat di  kos, selain karena merasa nyaman, juga karena akhwat-akhwat sering mengadakan pengajian di sini, yah hitung-hitung menambah ilmu sambil istirahat.

Pengajian bagaikan charger bagi manusia, layaknya hp disitula tempat menambah daya setelah seharian atau beberapa hari beroperasi,   di tempat kajian adalah tempat dimana kita dibina menjadi pribadi Islam, kita saling mengingatkan tujuan hidup yang sebenarnya, yakni mempersembahkan amalan dan menjadikan hidup sejalan dengan aturan Allah, saling mengingatkan agar senantiasa tunduk kepada aturan sang pencipta hidup.

Senantiasa menjaga ketaatan disaat sendiri, di tengah keramaian, di rumah,  di sekolah, di kampus,  di mesjid, tempat pengajian, bahkan sampai urusan ekonomi, pergaulan tatanan sosial dan bahkan bernegara tentu di atur oleh Islam. Hal inilah yang membuatku makin mantap mengatakan sungguh Islam Rahmatan lil 'Alamin,  buktinya semua di atur dalam islam.

Seringnya mengikuti kajian Islam secara rutin membuatku semakin kagum dengan Islam.Tak jarang aku mengingat pepatah "Tak kenal, maka tak sayang,  tak sayang maka tak cinta"

Bagaimana tidak! Dulu Aku merasa tidak terlalu mengenal islam, analoginya seperti seseorang yang membeli sebuah buku lalu membaca kata pengantar dan daftar isi kemudin menutup dan menebak apa isi buku itu,  tanpa tahu isi buku yang sebenarnya, jadilah karena membacanya hanya daftar isi sehingga tak mampu menjadi aplikasi dalam hidup,  bagaimana tidak, wong hanya baca daftar isi, penjelasannya kagak.

kulihat Islam dari ufuk timur
ia bak fajar memberi kehangatan.
Kulihat Islam di ujung barat
ia bak cahaya yang menyingsing keemasan.

Sambil menyandarkan badan, kubuka fb , setelah sampai di sana kupanjat dinding dengan ibu jariku. Benar saja disana menempel banyak berita. mataku tertuju pada sebuah gambar yang membuat ibu jari ini berhenti.

Foto,  yah sebuah foto puluhan orang berbadan kekar,  berpakaian seragam lengkap dengan senjata yang di pegang erat, seolah akan berperang, badannya di lengkapi pelindung dan bahkan hanya mata yang terlihat.

Sebuah pertanyaan terbersit,  Sampai setakut itukah mereka sampai tak memperlihatkan wajahnya.

Latihan apa gerangan yang telah ia lakukan sehingga mereka sepertinya tak punya hati membunuh manusia bahkan kaum muslim, dan ini bukan kali pertama tapi telah tercatat puluhan bahkan ratusan manusia yang telah mereka bunuh dengan hanya berdalih pada perasangka alias tuduhan  dan yang mereka tangkapi adalah muslim yang ibadahnya rajin.

Mereka mengambarkan teroris itu yang rajin ke mesjid, ke mushallah, kajian, rajin membawa mushab, sering ikut pengajian, mengisi ceramah dan semua yang menggambarkan Islam, sehingga islam yang merupakan agama rahmat bagi seluruh alam menjadi buram di mata kaum muslim khususnya.

Usaha mereka kini telah berhasil dampaknya banyak ibu-ibu atau orang tua Fobia terhadao Islam, sampai melarang anaknya ikut pengajian, takut kalau-kalau anaknya diajari merakit bom di tempat kajian, melarang anaknya memakai kerudung dan baju terusan. Naudzubillah,  ini curhat salah satu siswi SMA di pengajian.

"Kak kenapa teroris itu identik degan Islam?" Tanya seorang siswi di salah satu tempat mengisi kajian di SMA.

Aku agak kaget mendengar pertanyaan itu. Apa lagi penanya adalah seorang muslim, ketika mengikuti kajian di kampus dan sekolah, Akupun kerap mendapat pertanyaan-pertanyaan serupa.Tidak semua mendapat informasi yang benar dan jujur tentang Islam. Aku tidak boleh bosan menyampaikan informasi yang jujur.

"Kalau saudari memiliki pohon mangga yang sedang berbuah, dan kau sudah merawatnya dengan baik, bisakah saudari pastikan tidak ada yanh busuk atau jatuh dari pohon sebelum matang"

"kalau kau punya pohon mangga,hanya satu dua saja buah yang busuk lantas menganggap semua buahnya busuk, apakah itu fair?"

Tentu keburukan pada buah itu pasti ada namun kita tidak mengatakan semua buahnya busuk.

Itulah keburukan,  tidak bisa kita menjamin semua akan baik,  namun bedanya hari ini adalah, Islam itu seperti buah yang di cangkok,  buah di paksa tumbuh di pohon lain,  kita di ajarkan membenci pohon kita sendiri,  seolah buah yang di makan burung adalah kesalahan si pohon,  pohonlah yang membuat buah busuk, padahal biang keroknya adalah si burung yang singgah mengambil manfaat

Baiklah Aku tutup tulisan ini dengan mengucapkan, wahai diri yang tercatat sebagai kaum muslim, sejauh mana kita telah mencari tahu gerakan ini, didirikan oleh siapa, apa visi dan misi, apa ia sesuai dengan Islam, sejauh mana kita membaca perjalanan Rosulullah mendirikan kepemimpinann Islam yang penuh dengan kelembutan dan kesabaran,  sejauh mana kita telah mengenal Islam kita, jangan-jangan kita hanya mendengar dan melihat lantas mengatakan Islam itu keras sebagaimana Isis, sejauh mana hadist-hadist Rosulullah menjadi hafalan dan hiburan kita tiap hari. jangan-jangan media hari ini telah menjadi tontonan sehingga apa yang di sampaikan media Tv menjadi tuntunan.

"cukuplah orang itu dikatakan pendusta kalau setiap perkataan yang ia dengar ia sampaikan"

Aku sendiri menyimpan pertanyaan, Densus 88, kenapa berpakaian tertutup, sebenarnya ia bentukan siapa,kenapa tak di gubris oleh pemerintah, yang telah nyata membunuh dara kaum muslim yang belum pasti bersalah, seperti kasus yang baru terjadi, Siyono di bunuh oleh Densus 88 yang ternyata merupakan Dai.

Menjadi sebuah pertanyaan kenapa negeri yang katanya menganut HAM ini bungkam ketika yang melakukan pelanggaran adalah segelintir manusia dengan segala kepentingannya. Ketika darah dan nyawa rakyat terancam tak seheboh ketika lambang garuda di lecehkan. Apakah patung lebih berharga dari darah rakyat dan kaum muslim.

Bukankan Rosulullah mengingatkan dalam sebuah hadist "Runtuhnya Bumi dan kabbah lebih ringan di sisi Allah dari terbunuhnya satu kaum muslim"


Aku rasa sudah banyak tulisan yang menjawab pertanyaanku ini, yah kita cari sama-sama jawabnnya yahh.. oia sedikit persembahan puisi untuk sebuah naungan yang ku rindukan.

Meridu

Kami rindu sang penjaga,
yang terjaga di sepertiga malam
Kami rindu sang benteng yang
kekohannya melindungi jiwa-jiwa yang rapuh.

Beribu nestapa menyekat memisahkan.
Kami bukan kamu apalagi mereka
Tak ada satu diantara dua
Kami hanya kumpulan yang terbuang

Kami meraung dalam diam
Kekuatan menyeret kami ketakutan
Kekuasaan betul telah menguasai 
Bagi kami tak layak kepuasan 
Kadilan tak layak bagi si Kerdil

Kami rindu 
Kami rindu Cahaya yang menyejukkan
Menjaga menyapa dari yang terjaga
Kami mau
Kami mau lepas dari belenggu
Tuduhan hinaan penistaan

Kembalilah Kembalikan
Kesatuan yang menyatukan
Jati diri yang penuh rahmat
Bagi sang semesta alam




Rabu, 16 Maret 2016

BERHENTI MENERORKU

#Edisi Baper (Bawa Pergi)
 
      BERHENTI MENEROR KU

Aku hanya ingin mempersiapkan diriku akhi untuk sesuatu yang tidak mau aku mengulang dan melakukannya dua kali, untuk sesuatu yang paling menentukan kehidupanku di hari abadi kelak.

Taukah akhi, setiap malam kupinta yang terbaik di hadapannya,  tahukah akhi setiap detik ku persiapkan semua untuk mencapai ridhanya,  tahukah akhi ini bukan perkara yang mudah aku putuskan

Tahukah akhi
Ayahku mendidikku sampai sebesar ini
akankah Ayahku merelakanku kepada seseorang yang bermental krupuk
sedang ayah menjadi lebih kuat melebihi baja demi kebahagiaanku

Saat ini masih belum pantas aku menyambutmu
Saat ini biarkan aku mempersiapkan diriku agar menjadi ibu dan pengatur rumah tangga yang baik

Aku ingin kau kelak tak terlalu terbebani karena kedangkalan ilmuku
Aku ingin bahuku kelak cukup kuat untuk anak* dan dirimu saat pulang dari kepenatan dunia seharian

Aku ingin seperti khadijah yang memiliki kedudukan mulia di sisi suaminya Aku ingin seperti beliau yang tak pernah dimadu sampai sepeninggalnya...


Aku ingin seperti Aisyah r.a istri yang teguh dan tegar, serta tegas dalam urusan agamanya

Aku ingin seperti Hafsah r.a seorang istri yang taat beribadah berpuasa dan bangun malam
serta kezuhudannya.

Aku ingin memiliki keberanian dan semangat jihad seperti Shafiah r.a

Aku ingin seperti Zainab r.a yang kebaikan dan kemuliaan terhimpun dalam jiwanya

Ya Akhi aku sadar, aku sadar ke inginanku tak mampu mencapai kemuliaan ketakwaan, kesabaran dan kesetiaan serta semangat jihad mereka.

Sungguh aku sadar tak mampu menyamai mereka para shahabiyah Nabi saw

Aku hanyalah wanita muslimah akhir zaman yang memiliki semangat dan kesadaran bahwa tak mudah menjadi sosok wanita shalihah seperti mereka

Namun Aku salah seorang wanita akhir zaman yang merindu shalihah
Saat nama-nama wanita shalihah masuk ke dalam syurga Allah yang tinggi
Aku ingin namaku berada di antara mereka

Mereka berjuang atas dasar ketakwaan dan kemuliaan islam
akupun ingin seperti mereka berjuang mengembalikan Kemuliaan Islam.

Aku ingin para bidadari cemburu dengan ke akhwatanku
Aku ingin islam bangga dengan ke Islamanku
Aku hanya ingin berjalan di atas jalan halal.

Jangan,
Jangan kau coba nodai itu dengan sapaan dan alasan yang membuatku rapuh,  tak berdaya

Jangan
jangan kau uji aku
di atas ikatan rapuh
membawa nestapa gelisah
menyingkap suci merubahkan hina

Biarkan
namamu membuncah dalam gelap
diam berlinang di sesunyi impian
gelapku di ujung sajadah
biarkan memimpi sang cahaya

Tuhan tahu...
Kubutuh ku harap ku rindu
Namun cinta belum saatnya
Kuyakin sesandaran yang tak rapuh
Mendengar pinta dua insan
Dalam syahdu
kehadirannya kan menyahut...

Berhentilah menerorku, kata-katamu bag hujan disertai petir
Berhentilah menerorku, pujianmu bag air seleher setelah kemarau
Berhentilah menerorku, senyumanmu bag es buah di siang hari bulan ramadhan

BAPER (Bawa Pergi) menjauh dariku
tak kudamba seauatu yang menggiurkan namun penuh murka...

Berhenti Menerorku...

Selasa, 15 Maret 2016

Dear Pak Syaiful Hadi

Subhanallah bang syaiha,...

kebanyakan orang hanya mampu memberi semangat,memberi teori, menyakahkan ketika tak menulis,  menyalahkan ketika tak membaca...

cara bang syaihah sangat bijak,  memberi contoh,menyediakan lahan dan memberi suntikan dan bahkan sedikit jeweran...

ada satu kalimat buat pak syaiha

bagi saya setiap manusia adalah guru dan setiap waktu yang berlalu adalah guru tahukah guru yang berhasil adalah ia yang mampu menjadikan muridnya menghasilkan karya seperti dirinya bahkan melampaui dirinya merekalah guru yang berhasil.

Kutipan dari perkataan guru saya
Pak Ramlan,S.Kom

Terima kasih bang syaiha....

Senin, 14 Maret 2016

Orang yang Paling Jahat

kami menempuh perjalanan dari kota palopo menuju ke rumah kak sri di daerah selatan palopo salah satu daerah kabupaten luwu tepatnya di daerah Lanipa

kami ber-empat sepanjang perjalanan berbincang dari hal pribadi sampai urusan kebijakan pemerintah tidak luput dari pembicaraan kami.

mobil Honda Brio berukuran mini yang hanya memiliki daya tampung empat membawa kami melaju dengan satai dan nyaman, hanya sesekali hawa panas dari luar kaca mobil terasa sangat menyengat

kak hasna duduk di sebelah kanan depan mengendarai mobil dengan santai dan pelan, kak sri tepat di samping kiri kak hasna lilis duduk tepat di belakang kak sri dan saya duduk di sebelah kanan lilis

perjalanan yang sedikit mengundang sakit kepala jadi tidak terasa karena kami asik berbagi cerita,  pengalaman, ilmu satu sama lain

tak terasa kami suda sampai di rumah kak sri.

"sudah sampai yah kak"

"iya"

"yuk turun"

kak sri dan lilis bebincang sedikit lalu membuka pintu mobil.

"wah indah sekali" saya mengungkap kekaguman alam sekitar rumah kak sri

sawah terbentang luas di depan rumah, jika mengarahkan pandangan di samping kanan rumah disana terdapat sekitar tiga pohon kelapa berjejeran begitu juga di bagian belakang rumah juga ada tiga batang pohon kelapa dan di samping kiri rumah ada rumah tetangga sekitat 5 meter dari rumah kak sri

tak ada kegaduhan suara motor tidak ada suara bising seperti di kota , tiupan angin yang sejuk  menyapa kami dengan belaian lembutnya daun kelapa melambai lambai tertiup angin

"subhanallah"

kali ini bukan pertama kali saya melihat pemandagan yang begitu menawan kalb namun beberapa kali melihat keindahan alam tak membuat saya berhenti menggagumi lukisan tuhan yang keindahannya tiada dua

saya masih menikmati pemandangan di depan sana memperhatikan burung-burung yang entah apa nama spesiesnya itu

mereka sibuk mondar-mandir di tengah sawah,  pohon-pohon kelapa juga banyak berjejeran di kejauhan keindahan warna langit yang semakinn tidak jelas karena tertutup awan membuat pemandagan itu menarik mata saya memperhatikan tingkah mereka lebih lama

ke tiga teman saya ternyata sibuk mengambil kelapa dengan bantuan bambu panjang yang di ujungnya suda di pasang pengait untuk kelapa..

tung, tung, tung... beberapa kali suara kelapa berjatuhan, agak mudah mengambil kelapa di pinggir rumah kak sri karena ukuran kelapa tersebut tidak terlalu tinggi

saya sesekali menoleh ke mereka yang ketawa sambil menatap satu sama lain, saya akhirnya menuju ke arah mereka membantu memungut hasil jolokan mereka dan sejurus kemudian kami membawa kelapa itu di teras rumah,  membuka dan menikmatinya


terasa nikmat, apalagi setelah melakukan perjalanan di sore hari yang lumayan panas.

sambil menikmati air kelapa kami berbincang-bincang beberapa hal.

"pernah dengar cerita orang yang paling jahat tidak" kata kak hasna membuka cerita

"owh, sudah pernah" ungkao kak sri dengan nada santai

"hm belum kak" lilis dengan cepatnya berusaha agar cerita tetap berlanjut.

"kalau saya pernah kak,  kaka yang cerita di mesjid depan kampus 2 tahun lalu dan itu suda agak lama kak, di ulang aj lagi kak "  saya mulai maksa dengan senyum menggoda kak hasna agar melnjutkan ceritanya

"ya udah"

"Nah ceritanya ada tiga orang pria ingin saing bertarung dan mereka semua ingin membuktikan siapa yang paling jahat di antara mereka"

"maka orang pertama tadi membawa seorang perempuan lalu menendangnya, menonjok, memukuli sampai ia tak berdaya lalu pria itu berkata, saya adalah orang paling jahat,lihatlah perempuan ini sudah tidak berdaya olehku"

" orang ke dua langsung menyeret perempuan tadi,  memperkosanya,  mencekik lalu kemudian di bunuhnya, lihatlah perlakuanku,  sayalah orang yang paling jahat melebihi perbuatanmu"

lantas orang ketiga tadi yang berkata "sayalah orang yang paling jahat diantara kalian berdua" tegasnya

"kenapa bukankah kamu tidak melakukan apa-apa" tanya salah seorang dari mereka dengan wajah keheranan

"sayalah orang paling jahat di dunia ini, memang saya tidak membunuh,  menyiksa dan memperkosa seperti kejahatan kalian tapi saya tidak melakukan apa-apa di saat saudara perempuan saya di injak,  dianiaya,  di tendang,  dicekik,  di perkosa dan di bunuh, saya adalah orang paling jahat karena membiarkan dan mendiamkan kalian melakan peruatan keji itu" kata pria yang ketiga

kedua lelaki tersebut terdiam.

kak hasna kemudian melanjutkan dengan bertanya "menurut kalian siapa yang lebih jahat apakah orang pertama, ke dua,  atau ke tiga,?"

"ketiga kak. itu yang di bunuh dan dianiaya didepannya sendiri adalah saudaranya dan orang ke tiga tidak melakukan apa*" saya memcoba memberi analisah

"betul dan apa yang bisa kita petik dati cerita ini, bahwa orang-orang yang diam padahal ia tahu bahwa ini kebenaran yang harus di sampaikan maka sama dengan orang yang ke tiga tadi,

kemudian orang-orang yang berdiam diri padahal ia melihat kemungkaran di depan matanya padahal ia tahu itu adalah kemungkaran maka posisinya sama halnya orang yang ke tiga tadi." lanjut kak hasna.

Adzan magrib telah berkumandang dari arah barat rumah kak sri, setelah menikmati beberapa buah kelapa sambil berbagi kisah dan cerita menarik kak sri dan lilis meminta diri dan bergegas masuk ke dalam rumah untuk shalat

sementara saya dan kak hasna menunggu di teras sambil melanjutkan obrolan-obrolan santai kebetulan kami berdua sedang tidak shalat, biasalah wanita kalau bulannya datang

Jumat, 11 Maret 2016

Rembulan merekahlah

Puisi

              Rembulan merekahlah

Senja membawa pesona keemasan
merona memancar indah
memberi warna penuh makna
membisik dalam relung
indah dalam isyarat jiwa.

Namun kini sinarnya menjauh
gelap gulita seketika padam
sesak jiwa dalam isak tangis
kupeluk kesendirian dalam kerapuhanku memberi rasa hampa


di pojok ruangan gelap ini
aku membisu pilu
tersungkur dalam sesal tanpa ujung
lirih hatiku merintih memberontak
kau tinggalkan semua luka
dan kau renggut cahaya itu
hingga tak tersisah


Tuhan aku masih disini
di pojok ruangan gelap ini
memeluk malam sepi
mencumbu pedih
tersungkur dalam sesal mendalam
mengharap cahaya temaram memancar dari bilik jendela

rembulan merekahlah
masihkah ada kemurahan tuhan
Aku ingin kembali tersenyum
semanis senyum rembulan.

Tuhan kutau kemurahanmu
yakinkan diriku dalam pelukmu pinjamkan aku sedikit cahayamu
agar dapat aku lihat kesalahanku

rembulan merkahlah...
dalam titah Tuhan semesta


Palopo 11 Maret 2016

Puisi ini saya buat sebagai gambaran perasaan Sakura dalam tulisan bang Syaiha pada anggal 08 maret 2016

yang penasaran tulisan bang syaiha, silahkan disini   MOTIVATOR ODOP (mohon maaf jika nama dan gelar tidak sesuai) peace bang

Rabu, 09 Maret 2016

Masih Adakah Cahaya Ilahi

negeri kita sedang menjadi sorotan dunia sejak pagi tadi. indonesia adalah satu-satunya wilayah yang kali ini mendapat sebuah peristiwa langkah yang akan berulang sekian tahun atau bahkan puluhan tahun dan terjadi sekali.

Gerhana Matahari

jika kita ikut mengamati,  beberapa daerah yang mataharinya cerah pada pagi hari,  akan berubah perlahan seolah tampak seperti senja,   kemudian meredup lalu gelap gulita layaknya malam hari, gelap itu disebabkan bukan karena ketiadaan matahari tapi karena bulan bergeser dan menutupi bumi dari sinar matahari sehingga cahaya terhalangi oleh bulan.



melihat fenomena Alam ini,  saya teringat salah satu video motivasi yang pernah saya buka di youtube.

video itu menceritakan seorang pria yang namanya mendunia yakni Albert Einstein ketika menyanggah pendapat profesornya.

saat sang profesor menjelaskan tentang cahaya pada mata pelaharan fisika. Albert membantah dan mengatakan bahwa gelap itu tidak ada, sebab yang ada hanyalah ketiadaan cahaya. Dingin itu tidak ada, yang ada adalah karena ketiadaan panas. Kejahatan itu tidak ada, yang ada adalah ketiadaan kebaikan dalam diri kita.

sama dengan gerhana dan bantahan Albert Einstein tdi jika dibawa ke dalam Makna filosofisnya, bahwa Allah itu tidak menciptakan kejahatan, Allah hanya menciptakan kebaikan, dan kalaupun terjadi tindak kejahatan, maka itu terjadi karena kita sendirilah yang menutupi kebaikan itu sendiri.

Kebenaran selalu berasal dari Allah dan kesalahan selalu berasal dadi kita sendiri, sebagai makhluk yang lemah...

Karena itu semoga kita tetap berusaha untuk memelihara berkas cahaya Illahi dalam diri dan hati kita. Sebab hanya dengan begitulah, kita akan tetap terjaga dalam jalan yang benar, jalan yang lurus yang menyelamatkan diri kita di dunia dan alhirat

Ada 3 tanda yang akan memastikan bahwa masih ada cahaya Illahi dalam diri kita. Maka periksalah dan berintrospeksi diri agar kita mampu menjaganya:
1. Ketika kita menerima kebenaran, kita langsung menerimanya sehingga kita bisa membedakan mana yang hak mana yang bathil.
2. Ketika setelahnya hati kita mampu melihat meyakininya dan itu menjadi keyakinan yang tidak terpatahkan.
3. Ketika kemudian kita diberi ilham bagaimana mengimplementasikannya dalam kehidupan kita, padahal orang lain mungkin tidak pernah terlintas ide tersebut sedikitpun...(Aisyul ODOLA)

Semoga pembelajaran gerhana ini memberikan nilai tambah bagi diri kita dan semakin menambah ketakwaan kepada tuhan pencipta alam semeata ini.

Semoga Allah meringankan jalan yang kita tempuh sehingga selamat dunia akhirat. Aamiin

__________________________

Masih adakah cahaya Illahi di hati kita?


Mendidik Anak Usia Dini

Terkadang saya mendengar perkataan orang tua yang mengatakan otak anak saya belum siap menempuh pendidikan dan belajar. Padahal ...