Selasa, 31 Oktober 2017

Tuhan Kirimkan Aku Hujan

Menahan tangis
Selalunya membuat sesak didada
Seakan semuanya goyah
Ingin berteriak kencang
Ingin menangis sekeras mungkin

Tuhan
Aku mengikhlaskan semuanya
Aku telah mengusahakan yang terbaik, jika memang sperti ini
Kan kuterima semua ketentuanmu

Kaupun tau tuhan
Aku sungguh lemah
Aku tak berdaya melawan takdirmu
Aku hanya mampu mengusahaknnya

Tuhan
Jika memang belum kau izinkan
Apa yang menjadi impianku
Izinkan aku meminta kali ini tuhan

Kirimkan aku hujan
Aku ingin menagis keras
Bukan karena tak menerima takdirmu
Sungguh

Aku ingin hujan
Karenanya aku dapat menangis kencang dan tak ada yang mendengar suara tangisku

Tuhan
Kirimkan aku hujan
Biarkan aku menangis
Mengeluarkan suaraku yang selama ini tercekat
Bairkan langit menemaniku menangis
Aku ingin tak ada orang yang melihat tangisku

Tuhan
Kirimkan aku hujan
Biarkan hanya hujan yang tau kesedihanku
Biarkan hujan menghapusnya
Aku hanya ingin hujan saat ini

Senin, 30 Oktober 2017

Akulah Pembunuhnya

Waktu sudah menunjukkan pukul tiga belas, matahari siang itu sangat menyengat membuat ubun-ubun serasa mendidih.

Seorang wanita sedang memegang sebilah pisau berlumuran darah. Adalah aku wanita itu, didepanku tergeletak seorang pria tak bernafas berlumuran darah.

Aku adalah seorang wanita yang baru setahun lalu menyelesaikan studiku di salah satu perguruan tinggi swasta. Usiaku sekarang memasuki dua puluh dua tahun, masa dimana semangat seorang pemuda menggebu. Katanya.

Aku adalah mantan aktivis sekaligus ketua di salah satu lembaga dakwa di kampusku dulu. Banyak orang yang mencurigai organisasi kami diluar sana, sebagai lembaga dakwah garis keras.

Ya... itulah persepsi mereka

Semua bukti mengarah kepadaku, aku ditangkap dibawa ke kantor polisi bersama dengan si mayat.

"Apa pendapatmu tentang lelaki yang terbunuh itu?" Tanya salah seorang petugas kepolisian.

"Sa....sa..sa..." aku tak mampu berkata, kerudung yang aku kenakan telah basah oleh keringat dingin. "Ya Allah, bagaimana ini?" Tangisku

"La haula wala kuata illa billah" Seruku sambil menangis tersedu-sedu

"Hei kamu kenapa nak? Kamu kenapa menangis" Seru seorang perempuan dari balik pintu

Aku terbagun dari tempat tidur dan mendapati suara mama dan suara tangisku masih sempat kudengar.

"Ehh....Anu mah, saya cuma mimpi ko mah, mama tidak usah kaget gitu, tidak apa-apa mah, cuma mimpi!" Seruku kepada mama berusaha tenang.

Aku mengusap air mataku yang masih berbekas.

Aku segera menenangkan mama, aku khawatir mama khawatir terhadapku, karena yang aku tau mama hampir tiap hari puasa kalau ada anaknya yang kenapa-napa.

Aku melirik jam di handphoneku, sekitar pukul tiga belas siang. Buku catatan harian, buku bacaan, pulpen dan.... ya! "Aku ternyata ketiduran saat membaca tadi" Gumamku dalam hati.

Itu dia buku yang berjudul "Ali Sang Pembela Rasululullah" aku membacanya setelah sholat Dzuhur,  buku itu aku pinjam dari perpustakaan umum Kota Palopo sebelum pulang ke rumah.

Sub judul yang barusan aku baca sebelum tertidur memang membuatku menitikan air mata saat membacanya.

Dikisahkan, Pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib, terjadi suatu peristiwa pembunuhan sebagaiman dalam mimpiku di atas.

Singkat cerita, saat seorang yang berdiri itu di bawa ke hadapan khalifah Ali.

"Apa pendapatmu tentang lelaki yang teebunuh dihadapanmu itu?" Tanya Khalifah kepada tersangka "Saya telah membunuhnya" jawabnya dengan tenang.

Karena sudah mengaku hukumanpun dijatuhkan, tapi datang seorang pemuda yang tergesa-gesa.

"Hentikan! Hadapkan kembali ia kepada Khalifah Ali! Akulah pembunuhnya!" serunya.

Orang-orang menjadi heran karena pemuda itu, tersangka dan pemuda yang mengaku pembunuhnya pun di hadapkan kembali kepada Khalifah Ali.

"Tukang jagal itu bukan pembunuhnya. Akulah pembunuhnya!" ulang orang itu di hadapan Khalifah Ali.

"Lalu mengapa engkau mengaku sebagai pembunuhnya?" tanya Khalifah kepada tukang jagal.

"Saya terpaksa mengaku sebagai pembunuhnya, karena orang-orang menemukan saya tengah menggenggam pisau disamping mayat yang tergeletak itu.

Bukti-bukti sangat kuat bahwa itu adalah saya, padahal tidaklah seperti itu. Saya tengah menyembelih seekor domba, tiba-tiba keinginan saya buang air kecil tidak tertahankan. Saya segera ke tempat itu masih mengenggam pisau. Saya sangat kaget melihat mayat itu tergeletak dan saat itu orang-orang melihat saya." jawabnya polos

Khalifah Ali berfikir sejenak, kemudian memanggil Hasan putranya untuk dimintai pendapat.

Hasan berkata "Meskipun lelaki yang ke dua lah yang membunuhnya, ia telah menyelamatkan jiwa tukang jagal itu. Allah berfirman, "Barang siapa menghidupkan (menyelamatkan hidup) sebuah jiwa, maka seakan-akan telah menghidupkan (menyelamatkan hidup) semua orang."

Akhirnya pembunuh sebenarnya, yakni laki-laki ke dua yang datang belakangan dibebaskan dan hanya dikenai diyat (ganti rugi) untuk keluarga korban.

Sedangkan tukang jagal yang dituduh membunuh dibebaskan, ia sangat gembira tidak jadi dihukum.

MaashaAllah, sungguh cerdas Hasan bin Abi Thalib, ia dapat memberikan keadilan bagi pembunuh yang bertobat dan mengakui kesalahannya.

Ini dikarenakan pembunuh tersebut telah jujur. Padahal pembunuh tersebut bisa saja tidak diketahui perbuatannya karena ada tukang jagal yang tampak terbukti bersalah.

Beginilah rasanya, jika dituduh melakukan makar, dituduh melakukan pemberontakan, dituduh melakukan tindak kejahatan, sementara bukan kita pelakunya. Namun apa daya diri tak mampu mengelak karena tak mampu memberi kesaksian.

Bahkan berucap pun akan menambah masalah. Itulah yang mereka dan aku rasakan dalam kehidupan ini. Dunia bag neraka bagi kami, bagi sebahagian orang yang ingin melihat banyak orang berbahagia di kehidupan setelah ini

Duhai sungguh besar harapanku, kelak bahkan hari ini masih ada orang yang seadil Hasan dan Sejujur Sang Pembunuh

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah tersebut. Mampu memberi kehidupan kepada banyak orang

#30DWC9
#Squad9
#Figters
#Day20
#MuslimahPenaPeradaban

Minggu, 29 Oktober 2017

Tak Sekedar Angan

Jangan salah kaprah dengan istilah membenahi diri dan mempersiapkan  diri menjadi pribadi yang baik

Tak bisa dipungkiri banyak orang yang memperbaiki penampilannya ataupun sikapnya agar terlihat baik dan juga agar mendapat pasangan yang baik kelak

Memang ini bukanlah sesuatu yang salah, namun meluruskan kembali niat haruslah diperhatikan

"Banyak orang yang baik, tapi malah menikah dengan yang tidak baik!, Banyak orang yang tidak baik, malah menikahnya dengan yang baik-baik"

Itulah kalimat yang sering muncul dikalangan ibu-ibu atau kaula muda, mereka terlalu sibuk dengan siapa mereka akan berpasangan

Mungkin akan lebih baik, jika kata dengan siapa? ini diganti dengan kata, karena siapa?

Bukan dengan siapa kita akan menikah, tapi karena siapa?

Tengoklah cara orang-orang hebat ini mencintai, mereka mencintai bukan karena rasa cinta pada cinta itu sendiri. Tapi ada jalan cinta yang lain di sana

Jika seseorang mampu menemukan jalan itu maka ia akan mampu mencinta seperti cinta Fatimah dan Ali

Juga seperti sempurnanya cinta Khadijah dengan Rasulullah, Muhammad Shallalau alaihi wa sallam

Juga mencontoh cara hebat mencintai ala Asiyah wanita mulia, cantik nan elok akhlaknya yang bersuamikan Fir'aun

Atau juga jalan cinta nabi Nuh yang kelak dikhianati oleh Anak dan istrinya

MaashaAllah
Bagaimanapun kitalah yang akan sepenuhnya bertanggung atas diri kita.

Dari mereka kita belajar
Sebuah cinta yang kokoh seperti pohon, akarnya terhujam semakin dalam dan merambat, batangnya tegak tak tergoyahkan, buahnya semakin menjumbai

Dan untuk mencapai itu
Tak hanya sekedar angan
Tak mentok pada kata
Ada usaha, belajar, mengkaji dan tentunya banyak membaca kisah para sahabat dan shahabiyah
Karena dengannya (Islam)
Manisnya iman akan terasa

#30DWC9
#Squad9
#Day19
#MuslimahPenaPeradaban

Sabtu, 28 Oktober 2017

Kriteria Spesial

Kadang seorang wanita atau pria menunda dan belum mau menikah karena kriteria yang mereka cari belum ketemu

Atau tak jarang mereka sibuk menghayalkan, "Kalau yang aku dapat nanti begini, aku bagaiamana yah,? kalau jodohku nanti seperti ini aku bisa begini ngak yah?"

Atau misalnya, "semoga nanti yang aku nikahi seperti kriteriaku, kalau tidak aku bisa gawat aktifitas ini dan itu bisa ribet"

Yah... dalam menentukan masa depan, setiap orang punya cara dan pilihannya masing-masing.

Seseorang tidak bisa selalu sama dengan yang kita anggap baik. Demikian juga sebaliknya, mungkin menurut sebagian orang harus seprti ini malah menurut kita tidak harus seperti itu

.........

Seperti misalnya teman saya yang satu ini, saat ngobrol santai tadi siang. Entahlah kami membahas perihal kapurung (Makanan khas Kota Palopo), eh malah sampai ke pembahasan seputar pernikahan. 


Entahlah, obrolan memang selalu unik, apalagi ngobrol sama teman sebaya. Yah jadilah semuanya melebar kemana-mana.

"Saya selalu khawatir ukhti masalah ini, kalau ukhti sendiri punya standar seperti apa?"Aku tertawa kecil melihat temanku bertanya serius diselingi senyuman rada malu-malu di bibirnya.

"Kalau saya ukh, saya bahkan tak berani menyebut nama seseorang dalam doa dan sujudku"

"Bukan karena kita tak mencintai, justru karena sangat mencintainya. Bukan karena kita tak berharap, justru saya sangat mengharapnya, tapi cinta dan harapan seharusnya sepenuhnya saya serahkan kepadaNya" Jawabku

"Itulah ukh, saya malah tidak ada keriteria apapun yang spesial, karena saya serahkan masalah ini pada ahlinya.Tapi bukan berarti saya menyalahkan orang yang memasang keriteria ini dan itu, karena itu hak mereka."

Tak ada kriteria yang spesial, harus ini dan itu. Cukup dipertemukan dengan lelaki yang baik bagiku dunia dan akhirat.
.
"Tentu jika kita sudah mempercayakan yang terbaik kepada Allah, InshaAllah yang datang kelak mengetuk pintu rumahku kita adalah yang terbaik menurut Allah, aku inshaAllah yakin itu, sebagaimana yakinku kepada Allah."

" Aku yakin sekali Ia hanya akan menggerakkan orang pilihanNya yang memang baik menurutNya untukku, entah ia baik dimataku atau tidak, aku hanya akan memandang sebagaimana pandangan Allah kepadanya yakni pandangan keyakinan, dialah jawaban atas doaku selama ini" aku kembali menjelaskan ke temanku yang terdiam seperti menyimpan banyak tanya atas jawabanku.

.......

Tengoklah bunda Asiyah yang merupakan manusia mulia, Asiyah merupakan contoh terbaik sebuah kesabaran dan keteguhan bahkan doanya diabadikan Alquran dalam surah At-Tahrim ayat 11, ketika penyiksaan bertubi-tubi ia terima dari suaminya.

Wanita shalihah, cantik, penyayang, sabar dan kokoh keimanannya, namun yang terbaik menurut Allah baginya adalah bersuamikan Fir'aun yang amat kasar dan senantiasa menyiksanya agar mengakui suaminya (Fir'uan) sebagai tuhan.

Asiyah diuji keteguhan dan kesabarannya lewat suaminya, Itulah rahasia Allah.

Allah tahu yang baik bagi hambanya. Sekalipin menurut akal manusia itu buruk.

Dengan kesabaran dan keteguhannya menghadapi penderitaan dalam rumah tangga ia dibalas dengan surga.

Bahkan tak berlebihan, jika baginda nabi Muhammad shallalahu alaihi wassalam menyuruh kaum wanita muslim menjadikan wanita yang satu ini sebagai contoh dan teladan terbaik.

.

Pun begitu dengan nabi Nuh, seorang yang diberi predikat nabi dan memiliki keutamaan di sisi Allah SWT
.

Lagi-lagi, yang terbaik menurut Allah kadang diluar nalar manusia, siapa sangka isteri nabi Nuh adalah salah seorang wanita yang kelak akan menentang perjuangannya.

.

Selalu ada hikmah dibalik kejadian. Al Quran adalah hikmah yang denganya adalah petunjuk bagi kita agar dapat mengambil pelajaran

Serahkan segalanya kepada Allah sang pemilik kekusaan, sambil berikhtiar.

#30DWC9
#Squad9
#Day18
#MuslimahPenaPeradaban


Jumat, 27 Oktober 2017

Waktuku, Waktumu

Seperti saat Aku mengenang kebersamaan dengan teman kecilku, tempatku bermain, tempatku belajar, tempatku menimba ilmu

Tentang sahabat
Tentang masa lalu
Masa dimana Aku menambal kesenangan dan kepahitan
Menjadi sebuah proses dalam perjuangan
Tentang masa.
Masa yang takkan kembali

Sperti saat ini
Dimana hati hanya dapat mengenang, mengingat,
menangisi, bahkan....
Menyesali masa itu
Masa yang telah terlewat

Aku tersadar
Hatiku meringis
Tenggorokanku tercekat
Tak terasa air mata berlinang

Bukan karena cengeng
Sungguh bukan.
Hatiku mungkin ditakdirkan sulit melupakan, hingga berimbas pada linangan air mata dipipiku
Selalunya seperti itu

Pasti....
Pasti akan tiba, waktuku
Dan waktumu

Saat dunia nyata, surga, neraka yang seolah cerita
Akan tiba saatnya
Surga dan neraka itu nyata, dan dunia tinggal cerita, kenangan, masa lalu.

Akan tiba saatnya
Saat kita hanya mampu mengenang, atau mungkin akan menangisi dunia (masa lalu) kita yang tinggal cerita

Maka siapkan bekal
Lakukan yang terbaik
Yang mampu kau lakukan
Karena sejatinya kau takkan mampu mengembalikan apa yang telah kau sesali

Waktuku, Waktumu
Bisa saja berhenti
Kapan saja
Dimana saja
Dan menimpa siapa saja

#30DWC9
#Squad9
#Day17
#MuslimahPenaPeradaban
#EkaShalihahAamiin...

Kamis, 26 Oktober 2017

Pala jokka-jokka

Bapak selalu mengulang sebuah pepatah dari nenek saat sesuatu momen ia alami

Tergiang dan terekam jelas dibenak kami anak-anaknya, saat Bapak tersenyum lalu mengeluarkan mantranya

"Pala jokka-jokka
Teppala tuda-tudang
Pala tuda-tudang
Teppala leu-leu" kata bapak di ikuti kalimat "Begitu nak!" di akhri kalimatnya sambil menyunggingkan senyum

Sebuah kalimat sederhana namun serat akan makna

Aku bahkan kesulitan menerjemahkannya. Tapi karena Aku orang Bugis, mudah bagiku memahami maksudnya

Aku berangkat dari rumah jam 10 pagi tadi, Alhamdulillah tiba jam 12 kurang lebih di Kota Palopo. Aku langsung tepar, meluruskan punggung di dalam kamar. Jam 12:12 Adzan sudah berkumandang, Akupun bergegas sholat lalu kemudian menyusun rencana kegiatan hari ini.

Setiap hari harus ada kegiatan, harus ada rencana. Dan hari inipun sekalipun lelah, setidaknya aktifitas harus jalan.

Selesai sholat Aku membuat list aktifitas harian di memo handphone.

Dalam hati sempat bergeming, "Apa saya istirahat saja yah?" Bisikky dalam hati

Tanganku yang bagian kanan memang serasa terkilir akibat bawa motor, rasanya pegel. Tapi

"Tidak apa-palah saya tetap ingin beraktifitas hari ini" Jawabku

Setelah pulang dari BANK Aku melanjutkan ke list berikutnya, silaturahim ke rumah salah satu teman akhwat, rasanya sudah lama tidak berjumpa. Agenda ke perpustakaan hari ini Aku batalkan karena sudah agak sore

Pukul empat belas lewat tiga puluh menit, Aku berangkat dengan ditemani beberapa akhwat menuju rumah ukhti Nurfah di dekat Islamic Center.

Kami dipersilahkan masuk dan disuguhi makanan. Ya! Kebetulan hari ini adalah wisuda ukhti Nurfah.

Saat Aku bersiap pulang ke rumah kontrakan, tiba-tiba salah seorang guru kami Ummu Faiz muncul dari balik pintu

"Assalamualaikum" Seru Ummu Faiz

"Waalaikumussalam, silahkan masuk" Jawab kami serentak

Karena kedatangan bliau akhirnya Aku menunda pulang dan memilih sholat di rumah ukhti Nurfan dan melanjutkan ngobrol santai dengan ummu Faiz, maklum kami baru berjumpa setelah beberapa bulan

Kamipun mengobrol santai dan bercerita masa-masa saat Aku masih mengajar mengaji anak-anak bliau pada masa kuliah dulu, juga diselingi obrolan-obrolan yang lain.

Bliau menyarankan agar Aku tinggal di Palopo, juga bliau memberikan masukan banyak kepada sore tadi, tentang bisnis, tentang pegajian, tentang kerjaan tentang masa depanku. Alhamdulillah

Niat awalnya hanya silaturahim ke satu orang, ternyata Allah beri yang lebih.

Silaturahim jalan, Ikut menghadiri syukuran wisuda juga iya dan plus dapat masukan dari seorang ustadzah. Alhamdulillah

Rasa syukurku  harusnya semakin banyak, jika saja Aku memilih beristirahat di rumah, pegel di badanku memang mungkin akan hilang, Tapi pilihanku untuk berjalan membuat hatiku kembali bersyukur, itu yang lebih indah. Alhamdulillah

Inilah yang mungkin Bapak maksud....
"Pala jokka-jokka
Teppala tuda-tudang
Pala tuda-tudang
Teppala leu-leu"

Semoga Bermanfaat
Setidaknya

#30DWC9
#Squad9
#Day16
#MuslimahPenaPeradaban

Rabu, 25 Oktober 2017

Hitam Legam

Siang itu matahari di atas kepala membuat tempat yang tandus bertambah panas oleh terik matahari.

Seorang budak hitam legam dari habasyah terbaring tanpa daya. Ia bertelanjang dada, di badannya hanya ada celana yang ia kenakan. Nafasnya sesak, matanya ia tutup karena tak mampu menatap matahari yang bersinar, ia menyunggingkan mulutnya seolah menahan panasnya udara padang pasir dan beratnya bongkahan batu besar yang menindihnya.

Keringat dari pori-pori kulitnya yang legam itu mulai bercucuran keluar.

Bilal bin rabbah namanya, ia adalah seorang budak

Jlak....jlak....jlak
Cambukan bertubi-tubi yang ia terima membuat kulit dan dagingnya tercabut, darahpun menyembur dengan terangkatnya cambukan yang dilayangkan oleh tuannya, Umayyah bik Khalaf.

Tak banyak yang tuannya minta. Ia hanya ingin budaknya ini kembali menyembah tuhan nenek moyang mereka. Bukan keyakinan yang Bilal percaya sekarang. Hanya satu, Bilal harus mengakui kembali agama nenek moyangnya

"Ahadun....Ahad" tukas Bilal dalam ringkihannya

Ketika cambukan semakin menderanya, Bilal hanya menjawab dengan satu kata "Ahad". Cambukan Umayyah tidak membuatnya goyah sedikitpun.

Seorang budak, hitam, dan kedudukannya sangat rendah dimata manusia, namun Keimanannya yang baru seumuran jagung mampu membuatnya bertahan dan mempertahankan agamanya. Terik matahari, tindihan batu, cambukan dan kepahitan yang ia terima semakin memperkuat keimanannya, seolah tak goyah sedikitpun.

Kekuatan apakah yang membuatnya sedemikian kokoh?

Menulusuri kisah keimanan para sahabat membuat kita tertegun. Begitu kokoh dan kuat keimanan mereka.

Mampukah kita mengambil langkah membela dan memperjuangkan keyakinan sekuat mereka?

Kisah ini memberi gambaran bahwa semakin genting sebuah tekanan semakin dekat sebuah pertolongan dan kemenangan.

Tahukah kita.
Apa yang terjadi kemudian saat bilal semakin di dera dengan cambukan di tengah teriknya matahari di padang pasir?

Yah! Pertolongan itu datang melalui perantara manusia yang lain.
Dan ia di angkat derajatnya di sisi Allah SWT.

.................
Kau tak perlu risau dengan wajahmu
Kaupun tak perlu risau dengan hartamu
Dan jangan risaukan kedudukanmu
Semuanya akan sirna pada masanya

Ambillah hikmaah dan pelajaran dari seorang budak yang hitam. Ia begitu mulia disisi Robbnya
Karena keimanan dalam jiwanya
Maka yang perlu sangat kau risaukan adalah Ilmu dan Imanmu
Wahai diri....

Ya Allah
Ya Rabbana
Istiqomahkan kami dalam jalan dakwah ini
Hingga kami khusnul khatimah di jalanmu

#30DWC
#Days15
#Squad9
Kamar 23:11
#MuslimahPenaPeradaban

Mendidik Anak Usia Dini

Terkadang saya mendengar perkataan orang tua yang mengatakan otak anak saya belum siap menempuh pendidikan dan belajar. Padahal ...