Kamis, 18 Februari 2016

Dampak Virus Daftar Pustaka


Pernah memakai kemeja putih atau kerudung putih yang amat susah disetrika dan saat itu hanya satu-satunya pakaian warna putih yang dimiliki,

Hari itu juga karena ada pertemuan yang sangat formal dikampus sehingga diharuskan pakai kemeja putih atau kerudung putih. Ketika ditengah jalan Anda ketemu salah seorang teman, akhirnya Anda ngobrol dipinggir jalan yang saat itu pas disebuah pagar rumah sesorang, sambil sandaran tuh di pagar yang baru di cat sama pak gagal, jress... (suara baju yang lengket).
  
kaget bukan main kan, harus balik lagi menyetrika baju yang lain, atau kalau nga ad baju yang lain,  buru-buru beli yang  baru itupun untung kalau ada uang,  atau kalau nga harus  tebel muka buru-buru ambil Handphone dan hubungin teman, mana waktunya sudah mepet banget,  akhirnya kelimpungan... 

Rempong banget kan, begitulah perasaan teman-teman pas Refisi, bolak-balik cari referensi, yang sudah ada harus dibongkar sedemikian rupa, lebih sulit dari membuat dari awal. tapi itulah proses,  semua harus dijalani dengan sabar dan tekun. Yang salah itu kalau sampai nga menghafal Al Quran,  nga ikut kajian,  nga makan,  nga tidur, nga membaca dan nga Post tulisan dan yang lebih parah kalau sampai nga sholat cuma gara-gara yang namanya proposal. 

Santai aja kali,.. nga usah sampai segitunya amat, InsyaAllah intandzurullaha yandzurukum. 

sekalipun nga bisa dipungkiri sih kadang saya ngepost tulisannya diakhir-akhir atau bahkan sampai ngutang post, semoga bang syaiha (ini guru saya ini) memaklumi...

Doakan yah semoga cepat di ACC...

Acc kata ini memperlelahkanku (dikutip dari perkataan anak2 gaulnya kampus, 2016)

Dampak Virus Daftar Pustaka,
 Biar sesuai dengan judul (Mas Patih, 2016)

Rabu, 17 Februari 2016

Politik itu Tidak Kotor

Serak,...

Suara musyrifah sebuatan untuk seorang wanita
yang mengajari dan membimbing kami mendekatkan
diri kepada Allah  itu didepan kami berubah,
menunduk mencoba melanjutkan penjelasan, namun
mutiara-mutiara yang keluar dari matanya seolah menahan suaranya.

Sejenak beliau mengambil nafas, agak lama Ia terdiam, terisak
mencoba menahan suara agar tak terdengar oleh kami,
namun jarak kami sangat dekat, duduk melingkar,
sehingga kami bisa mendengar suaranya.

kulirik teman di sampingku, ia mencoba tertunduk,
tak berani menatap sang musyrifah, seolah memberi ruang agar ia menumpahkan isi hatinya,
yah itu mungkin yang berusaha teman saya lakukan,
begitu juga denganku, Aku hanya menunduk, meski sekali-dua kali mencoba melirik
sambil menunduk,

duh...
mataku mulai berlinag, sehingga membuatku semakin tertunduk.

 sunyi,... tak ada yang sanggup bersuara,
 
 Aku menunduk kembali membaca paragraf demi-pargraf yang di jelaskan musyrifahku tadi
sambil menunggu beliau kembali menjelaskan.

(Taqiyuddin an-Nhabani: 68)
"kesulitan lain yang menghambat gerak dakwah adalah keterikatan manusia dengan kepentingan-kepentingannya. itu terjadi karena manusia senantiasa terikat dengan kepentingan-kepentingan pribadinya dan pekerjaan sehari-hari. Sementara pada saat yg sama, dia harus terikat dengan ideologi. Bisa jadi suatu saat kepentingan-kepentingan tersebut bertentangan dengan aktivitas dakwah kepada ideologi, sehingga dia berusaha mengkompromikan keduanya. Untuk mengatasi kesulitan ini, setiap orang yang meyakini ideologi ini (islam) wajib menjadikan dakwah sebagai titik sentral bagi setiap kepentingan pribadinya. Ia tidak boleh sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan yg melupakan dan menghalanginya dari dakwah. Dengan cara ini dia telah memindahkan posisi dakwah - yg sebelumnya berputar mengikuti kepentingan pribadinya menjadi sumbu putar tempat kepentingan-kepentingan pribadinya berputar" (dikutip dari terj.Takatul hizby)."

Aku berusaha menangkap dan menyimpulkan maksud dari penjelasan pada paragraf tersebut.

"Ideologi artinya pemahaman islam misalnya dalam islam jelas kita dilarang memakan riba, tapi faktanya sekarang menjadi pegawai bank adalah sesuatu yang sangat membanggakan bagi kebanyakan orang, memakain kerudung dan baju terusa yang longgar (jalabah /jilbab)  adalah perintah Allah, namun karena kepentingan lain, banyak orang yang lebih memilih meninggalakan Ideologinya, banyak mahasiswa yang sibuk menyelesaikan skripsinya sehingga meninggalkan dan memilih untuk tidak mengkaji islam hanya sekali sepekan karena alasan skripsi naudzubillah, semoga Aku tidak termasuk yang ketiga itu. semoga kita tetap istiqomah dengan Ideologi Islam" gumamku.
 
serasa ditampar bertubi-tubi, sungguh jernih pemikiran Syaikh membuat diri ini malu...

pemahaman beliau sangat dalam, jernih, penuh dengan iman dan ilmu,MasyaAllah, semoga Allah mengangkat derajatnya atas ilmu dan waktu yang beliau persembahkan untuk Islam.

lanjut, mata ini kembali meluncur pada paragraf berikutnya, pargraf ini pun memberikan tamparan telak.

 "Kesulitan lain yang menghadang laju dakwah adalah sulitnya mengorbankan kehidupan dunia berupa harta, perdagangan, dan sejenisnya di jalan Islam dan dakwah Islam.

inilah yang sering terjadi di tubuh para pengemban islam,  Naudzubillah..
Syaikh betul-betul jenius, bagaimana mungkin buku yang beliau tulis ini bisa betul-betul memahami kondisi pengemban dakwah saat ini. "MasyaAllah" gumamku.
 
 lanjut di paragraf berikutnya, setelah tamparan berkali-kali untuk menyadarkan kami,
paragraf berikutnya seolah membelai kepala kami dengan lembut dengan nasihat-nasihat,

kata-katanya mengalir begitu sejuk, bag air dingin di gurun sahara dan kota Cairo di seblah timur mesir sana,..
jika pernah ke Cairo suhu udara di siang harinya seolah mendidihkan ubun-ubun, saat hendak mandi harus mendinginkan air terlebih dahulu, karena pipa-pipa dibawah tanah menjadi panas oleh batu-batu di bawah tanah.  sehingga air dingin begitu menggiurkan ketika berada disana...


"Cara mengatasi kesulitan ini adalah mengingatkan orang-orang beriman, bahwa Allah telah membeli jiwa dan harta mereka dengan syurga. Ya,cukup dia diberi peringatan seperti itu, kemudian mereka diberi pilihan dalam berkorban, tanpa memaksanya untuk berbuat sesuatu. Rasulullah telah menulis surat kepada Abdullah bin Jahsy ra beliau mengutusnya menjadi pimpinan pasukan untuk mematamatai kaum Quraisy di Nakhlah, yg terletak di antara Makkah dan Tha'if.

Dalam surat itu Rasulullah bersabda : "janganlah sekali-kali engkau memaksa seseorang dari sahabat-sahabatmu untuk berjalan bersamamu. Laksanakanlah perintahku bersama-sama orang-orang yg bersedia mengikutimu!" 

MasyaAllah, sungguh kecintaan para sahabat kepada Rosulullah sangat nampak, tanpa paksaan mereka bersedia mengikuti beliau Saw. begitupula sebaliknya, Rosulullah pantaslah menjadi kekasih Allahyang begitu lembut, namun tetap dihormati....

bibirku tertarik,mataku mulai menyipit,kucuran air mataku mengingat kealpaanku dalam kegiatan dakwah,mungkinkah hamba sudah ikhlas, mungkinkah Aku telah mencintai Allah dan Rosulnya dengan sebenar-benar cinta.... bibirku terdiam namun dalam hati beristigfar, dadak seakan sesak.

"kita hari ini kadang memaksa orang-orang untuk menerima islam, dan pengemban dakwah yang lalai dengan memaksanya, sekarang kita diingatkan, orang-orang briman yang lalai cukuplah diingatkan dengan firman Allah, karena orang yang beriman pasti mentaati Allah, cukuplah Allah dan Rosulnya sebagai pengingat" suara musyrifahku dengan nada suara yang lembut dengan gaya bahasa indonesia yang santai namun sangat enak didengar. mungkin bawaan seorang presenter, wajah cerah hidung mancung dan tahi lalat di pipinya membuat kami tak bosan melihatnya. meskipun kakak sudah punya anak 1 beliau masih sangat muda dan bisa membawa diri saat berdiskusi dengan kami...

perkataan Musyrifah membuat saya teringat dengan Ayat Al-Quran yang saat itu membuat saya nerfikir dan rela meninggalkan pakaian modis dan pergaulan serta sahabat saya yang laki-laki serta mengubah total penampilan saya saat awal-awal masuk kuliah karena seorang kakak dari kampus IAIN menjelaskan makna ayat jual beli Allah dengan hambanya.

"yah tepat dalam QS.at-Taubah" gumamku dalam hati.

“Sesungguhnyà Allah telah membeli dari orang-orang mü’min, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka dibunuh atau terbunuh. Itu yang menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al Qur-an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan, dan itulah kemenangan yang besar”. (At Taubah: 111)

MasyaAllah, pujianku tak henti kepada Allah, Aku semakin yakin Islam itu memang indah, buku yang bertuliskan bahasa arab dengan judul "Attakatul Hizbiya" kalau di terjemahkan kedalam bahasa Indonesia  artinya "pembentukan partai politik islam" ini sangat menyentuh jiwa-jiwa yang gersang, menurutku sangat salah jika ada yang mengatakan bahwa politik itu kotor, kalau politik yang Demokrasi usung yang mengutamakan kepentingan yah jelas KOTOR, berani nantang, mau bukti....? banyak tuh buktinya, bahkan rakyat dan para elit politik saja suda enggan dengan sistem Demokrasi...
yah sudahlah....

Politik yang saya dapat dan pelajari dalam islam adalah politik = mengurusi urusan ummat,
bukan mengurusi kepentingan pribadi dan mengatas namakan rakyat, apalagi politik menggeruk uang ummat duhh, masih mau dibodohi demokrasi, kalau saya mah ogah,...

dalam Islam jauh berbeda dengan politik sistem Demokrasi yang selama ini diajarkan didalam dunia pendidikan. terlebih ketika mengkaji kitab takatul ini, diamanapun Allah, Al-Quran dan rosulullah-lah  yang menjadi tolak ukur segala perbuatan."

Syurga itu mahal, selama kita berada di dunia, cobaan akan datang bertubi-tubi, kalau bukan dari, keluarga, kampus, teman, sahabat, organisasi bahkan ujian terbesar adalah dari diri sendiri (hawa nafsu) yang Rosulullah telah ingatkan bahwa musuh terbesar manusia adalah hawa nafsunya...

Semoga bisa menjadi pribadi yang lebih baik

wallahu a'lam,..

Selasa, 16 Februari 2016

Kusulap ia Menjadi Istana

Ruangan kamar kos yang berukuran 4x5 yang Aku sulap menjadi istana...

bedanya Istana sang putri raja yang di suguhkan dalam dongeng , memiliki ruangan tidur tersendiri, Meja makan yang dihiasi bunga dan lampu-lampu indah,  gelas-gelas indah, serta penjaga-penjaga istana,  yah begitulah kiranya sebuah istana yang 10 tahun lalu Aku pahami dalam salah satu tayangan sinetron di TV.


sedangkan Istanaku yang sederhana cukup megah bagiku, cukup jauh dari kata sempurnah namun kata syukur menyulapnya menjadi istana bagiku...,

Ruangan persegi empat itu kutata sedemikian rupa agar rapi dan bersih,  karena kebesrsihan adalah sebagian dari iman, yah itu adalah ajaran Rosulullah kepada ummatnya,  dan tentu Aku harus termasuk ummatnya...,

 di sudut kiri ada jendela kaca dihiasi gorden hijau bermotif bunga tulip,  jendela ini cukup untuk memberi ruang cahaya masuk ketika pagi hari.

Aku sengaja memposisikan meja belajar dan rak-rak buku di smpingnya, agar siang hari tak perlu kunyalakan lampu ketika hendak belajar,  sudut kiri Aku sulap menjadi ruang kerja...

Pojok seblah kiri di bagian samping rak buku, disana ada kamar tidur alias Kasur yang di balut dengan badcover hijau lagi-lagi dengan motif bunga,  beberapa bantal dan guling yang berwarna hijau menambah segar ruangan ini,

di sudut sebelah kanan sekitar 3 meter dari depan meja belajar Aku sulap menjadi ruang makan dan meracik bumbu masakan, rak piring dari aluminium, rak bahan makanan, gelas dan ricecooker  semua terbuat dari emas plastik berwarna hijau (hem emas kok plastik, ngebayangin aja) dan perlengkapan dapur lainnya menambah keramaian ruangan Istana ini...

kipas angin di depan rung tidur selalu sigap di tempat, warna hijaunyapun selalu membuat hati sejuk ditamba angin kesetiaan yang ada padanya.

di sudut kanan tempat tidur sebuah lemari berwarna biru yang sangat lembut berdiri kokoh disana, di temani rak baju berwarna hijau di samping kirinya, helm, printer, rak sepatu dan sebuah bunga sakura mungil berjejer bag prajurit-prajurit setia menunggu titah tuannya.

kertas-kertas menempel di dinding bertuliskan jadwal agenda, tulisan arab, hafalan dan kata-kata hikma bergantungan bag lukisan-lukisan indah penuh makna.

di sini di ruangan Istana mungilku ini, tlah ku ukir sejarah hidupku.

entah bagaimana sejarah ini akan kututup kelak jika tiba saatnya, perih pedih, sedih, senang,  bahagia, tangis tawa dan perjuangan telah membekas di dinding-dinding Istanaku, kelak akan menjadi saksi bisu saat tangan tak mampu berbuat, mulut tak mampu berucap... hanya amal yang akan memberi kesaksian.

di ruangan ini, ada doa penuh harap kepada sang pemberi harapan,  di sudut ruangan mungil ini kuharap cinta dari sang pemberi cinta,...

Kepada pencipta hamba-hamba yang ia cipta untukku, ku harap Ia akan mencintai mereka yang tekah berjasa dalam sepotong hidupku sampai detik ku pejam mata mungil yang engkau titip ini...

Rintihku mungkin tak mampu ruangan mungil ini tampung, namun kuyakin engkaulah yang setia membendungnya,...

Syukurku mungkin lebih sempit dari ruangn mungil ini, Namun kuyakin pemberianmu amat luas padaku...

Bahagiaku adalah bahagia kedua orang Tuaku, Bahagia orang tuaku adalah bahagiamu, bahagia yang ada padaku,  kawan yang kau pertemukan padaku, cinta yang kudapat diruanagan mungil ini,  adalah apa yanga engkau hendaki yakni dari orang tuaku....


 Ya Tuhanku Orang tuaku, seperti yang kau kehendaki, merekalah pelopor agar aku selalu mensyukuri apa yang kau kehendaki atas apa yang ada padaku,  Ya Allah ya Tuhanku,  Orang Tuaku lebih berhak mendapat Syurgamu...

biarkan waktu membuatku belajar,...

Malam-malam di ruangan mungil ini terasa sunyi, Aku teringat ayah bunda di kampung sana. Terbayang mata bunda yang bening.

Selalu saja ku rindu
hari-hari terus berlalu
nun jauh disana mata bunda yang menatapku 
penuh rindu
yang amat kurindu.....

nasihat Ayah yang teduh
mengubah resah menjadi hadiah
yang pedih
tak ia biarkan membuat kami bersedih...


Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kau dustakan....


bersyukur akan membuatmu merasa memiliki yang terbaik, sesederhana apapun ia.

baik itu keluarga yang sederhana, pakaian, makanan, kendaraan dan apapun yang Allah titip hari di dalam kehidupan singkat ini.

Minggu, 14 Februari 2016

Kenapa Harus ber Capek-Capek di Dunia



Malam semakin larut, setelah saya mengerjakan beberapa power point untuk seminar proposal keesokan harinya, saya merebahkan tubuh yang dari tadi kelelahan, sambil berbring saya membuka Wa  yang ada di Ekaphone saya, ( phonenya  si Semart uda saya balikin Mas Ken) hehe sekarang pake phone saya sendiri... makasih suda mengingatkan barang orang harus segera di balaikin....
Lanjut yah,...

Jari jemari saya mulai membuka grup satu per satu, mencari-cari apalagi yang hari ini grup bahas.
Salah satu grup yang bertuliskan huruf kapital “GRUP SHARE ODOLA 47” ini adalah grup untuk share masalah menghafal  Al-Qur’an, dan juga tempat curhat, bercanda bareng  dan kadang tempat berbagi video, audio dan informasi seputar dakwah...

 ada beberapa grup yang saya ikut aktif didalam salah satunya adalah grup ODOP yang di buat bang syaiha  yang membuat saya harus menulis setiap harinya, meskipun kadang saya ngutang post, tapi percayalah bang saya sangat ingin setiap hari post tulisan dan saya sangat senang bisa ada di grup ODOP ini,....
Namun malam itu saya nga berniat membuka grup ini, karena hari itu saya belum post tulisan.
Akhir-akhir ini saya banyak ngutang karena kesibukkan...

Ibu jari saya berusaha manjat-manjat layar ekaphone saya, berusaha mencari kalau-kalau saya banyak percakapan yang ketinggalan, memang sih saya jarang ikut nimbrung kalau ada percakapan karena banyaknya tugas, sekalipun tidak sibuk saya hanya menyimak percakapan mereka di grup... 

Nah,.. ibu jari saya berhenti pada saat mata saya tertuju di sebuah kiriman salah satu akhwat, karena rasa penasaran, saya pun memutar Audio tersebut...

“ Bapak ibu Rahimakumullah, hidup ini capek pak, makanya, kita pilih mau capek bagaimana, kalau kita capek karena Allah, Capek dzikir, capek ibadah, capek istighfar, capek berdakwah, capek taklim, ini capeknya ada bonusnya, hidup dan surga..."

"Tapi klau capeknya maksiat dan dosa-dosa maka bapak-ibu ujungnya berbeda...."

Suara Ustadz terdengar serak, seolah tak mapu lagi bersuara namun memakas.beliaupun kedengaran tak sanggup lagi menyampaikan, seolah ada yang mengganjal di tenggorokannya...

" Sama ketika di akhirat para penghuni neraka akan capek, capek diseret, capek dibakar, capek dibantai..."

Ketika para ulama membaca hadist-hadist gambaran neraka yang sangat dahsyat, gambaran siksa yang sangat  pedih, dan sangat perih,  sebagaimana Al-Quran Surah an-Naba ayat : 40 “ bahwa pada saat adzab didekatkan kepada mereka, mereka orang kafir berkata alangkah baiknya jika aku dahulu menjadi tanah” sangking dahsyatnya siksaan neraka itu."

" Mereka berkata ini mereka di neraka capek, tapi capeknya tidak ada gunanya, ini mereka menderita tapi penderitaannya tidak ada gunanya. Alangkah enaknya kalau capeknya di pindahkan ke dunia..." lanjut sang Ustadz.

MasyaAllah suaranya menggetarkan jiwa yang kadang lali dan kadang merasa letih dan tak jarang berkeluh kesah dalam mencari Ilmu Islam begitu juga saat berdakwah...
 
Ayo kita bercapk-capek menderita di dunia, menderita baca qur’an, menderita  bedsikir, menderita cari ilmu, mending menderita di dunia karena beribadah kepada Allah dan bahagia di akhirat, daripada capek Diakhirat yang tiada habisnya....

Ya Allah Kuatkan Hati-Hati kami dalam meniti terjalnya Hidup ini,
wahai Dzat yang  membolak-balikkan hati, tetapkan hati-hati kami 
dalam tali agamamu... Amin

Wallahu A’lam...



Pesan Simpel Bang Syaiha

Waktu terus berlalu dan sayapun sudah memiliki beberapa utang Post di grup ODOP, memang karena alasannya adalah sibuk, kadang tidur jam 2 tapi tugas belum kelar-kelar, ditambah lagi setelah beberapa hari nga most rasanya malu aja sama temen-temen ODOP.

malam itu saya memberanikan diri ngeJapri Bang Syaiha, admin ODOP,

"Assalamualaikum Bang, saya minta maaf akhir-akhir ini saya nga aktif ngODOP, akhir-akhir ini sibuk banget bang, jujur saya kewalahan sendiri ngebayar hutang, ternyata utang nulis saya suda 9 di bulan februari, minggu pertama cuma sempat ngepost sehari....  bang gimana dong bang saya kadang malu kalau mau nimbrung di grup seblah, karena mereka pada aktif ".

karena saya orangnya paling hati-hati banget kalau ngirim pesan, biasanya saya akan membaca sampai berulang-ulang dan akan menghapus berulang-ulang pesan yang saya akan kirim, kemudian menulis yang baru dan mengirimnya setelah beberapa kali baca. namun malam ini saya dengan tanpa membaca apa yang saya tulis lagi saya menekan tombol kirim di aplikasi Wa malam itu setelah menulis, saya khawatir jika membaca satu kali saja maka saya yakin pesan itu tidak akan sampai karena rasa malu dan takut salah ngomong....

saya khawatir aja, sebagai admin bang syaiha akan merasa tidak dihargai jika saya seenaknya aja nga posting tulisan dan kemudian mau ikut nulis lagi....

saya merasa harus menghargai siapapun itu, walaupun kebanyakan orang mungkin menganggap hal itu nga penting, bagi saya saling menghargai, merupakan hal yang sangat penting.

menulis bagi saya memang sesuatu yang tidak mudah, sebagaimana dalam salah satu tulisan yang bunyinya " Untuk menulis 1 buku saja itu memang sulit, maka kalau hanya setengah atau 14 kalimat aja kita nga mau berusaha menulis apa lagi mau buat satu buku, mimpi kali yeeh..." entahla itu kata Bang Syaiha atau Mas Ken, kedua Orang Ini luar biasa banget dalam menulis, sampai tulisannya nga kelewat, sekalipun saya nga sempat nulis, saya berusaha selalu sempatkan membaca tulisan mereka, meskipun nga sempat komen....

"Smoga pekan ke tiga lebih komit." itu pesan Bang Syaiha yang super simpel namun sangat Serat dengan Makna. gaya bahasa yang mirip Bapak saya, beliau penuh wibawa, Jauh dengan sikap dan perkataan kasar namun penuh dengan ketegasan tapi tidak luput dari rasa tanggung jawab...

Trima kasih sudah memberi ruang  blajar buat orang sperti saya Bang....

smoga bisa lebih Baik kedepannya  Amin.....

Jumat, 05 Februari 2016

Siapa yang Lebih Saya Cintai



Minggu lalu saya kembali tergopoh-gopoh keluar dari kampus . 
Saya hampir lupa saya harus ke jl.Sungai pareman.

Saya dan beberapa teman memang punya jadwal kajian kitab pilar-pilar pengokoh Nafsiyah Islamiyah (Kepribadian Islam) hari selasa sore di rumah salah satu kakak yang mengisi kajian kami setiap pekannya.

Di kampus
Semua teman-teman suda pada sibuk untuk mendaftar seminar proposal, 
namun saya hampir terlupa dengan agenda kajian saya lantaran kesibukan di kampus
bersama teman-teman, “ ah ini nga lebih penting”. Gumamku,

sperti biasa saya suda di kenal teman-teman orang yang paling menganggap biasa urusan pelajaran dan seklimet tugas-tugas kampus (tapi bukan berarti menyepelehkan dan tidak menghiraukan yah..),

Alhamdulillah saya tidak pernah ketinggalan mengumpul tugas,
saya pun selalu mengerjakan UAS dan Final tanpa bantuan dari teman-teman apalagi yang namanya nyontek, oh NO, yah, pemahaman ini saya dapat dari tempat kajian, bukan karena ia jatuh dari langit yah, saya kadang bebas final, juga pernah dalam satu kelas ada 40 oarang hanya saya yang bebas final, tapi itu bukan suatu kebanggaan yah, saya hanya mencoba memahamkan kalau saya ini bukan mahasiswa yang  gini ceritanya...eh stop dulu, cerita yang ini lain kali yah kalau masih ingat...soalnnya ini cerita pas semester 2,3,4,5,6 sekarang saya suda hampir semester 8...(hehe kok jadinya curhat yah...)

Kita fokus dulu lagi yah di jl.sungai Pareman tadi (ih namanya serem yah...)

Sehabis pamitan dengan teman-teman, saya berlari menuju kost untuk shalat dan bergegas mencari angkutan umum. Untunglah saat saya keluar dari kost, kebetulan ada mobil yang singgah.
Setelah sampai diujung  jembatan “Daeng kiri-kiri” kataku terburu-buru lalu mengeluarkan uang  dari saku dan memberikannya ke pak sopir...

Saya buru-buru turun dari mobil dan berlari-lari memasuki lorong dekat sungai, dengan menenteng buku,dan menjinjing tas ransel yang tidak terlalu berat, saya berlari-lari kecil takut kalau-kalau saya akan terlambat.
Dan benar aja, sampai dirumah tempat kajian semua teman-teman telah siap, mereka duduk melingkar dengan buku tebal ditangannya.
Dengan nafas yang belum bisa diatur saya memberi salam, Alhamdulillah semua menjawab. Seperti biasa saya selalu mengambil posisi duduk didepan musyrifah saya, karena bagi saya satupun ilmu tak boleh saya lewatkan dan itu bisa saya lakukan kalau duduk didepan, saya akan merasa diperhatikan, jadi tidak ada kesempatan mata saya untuk mengantuk.

Saya mengambil posisi sambil menatap mata musyrifah saya, semoga saja beliau faham, saya mencoba membaca raut muka kakak yang ada dihadapan saya sambil membuka-buka halaman.

Salah satu teman membacakan isi kitab (buku) yang ada ditangannya dan yang lain kembali serius menyimak dan memperhatikan ayat yang dibaca..

Saya melirik halaman yang dibaca  salah satu teman....
sambil mendengar saya membuka halaman dan oh saya tertuju pada Ayat yang dibacakan, “ini dia ayat yang dibaca” gumamku dalam hati.

Katakanlah “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, istri- istri, kaum keluargamu, Harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad dijalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya. “Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (TQS. At-Taubah [9]: 24).

Dillanjutkan dengan dalil dari as-Sunnah diantaranya adalah:

Dari Anas ra. Sesungguhnya Nabi saw, bersabda:

Ia membacakan Hadist dan artinya . yang artinya “ Ada 3 perkara siapa saja yang memilikinya  ia telah merasakan manisnya iman. Yaitu orang yang mencintai Allah dan Rosulnya lebih dari yang lainnya; orang yang mencintai seseorang hanya karena Allah; dan orang yang tidak suka kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke Neraka (Muttafaq ‘alaih).

Dan satu hadist lagi yang menambah ketegangan saya pada saat itu, satu tamparan telak yang membuat saya menatap dalam-dalam buku tersebut. 

“Tidak beriman seorang hamba hingga aku lebih dicintai daripada keluarganya, hartanya, dan seluruh manusia yang lainnya (Muttafaq ‘alaih).

MasyaAllah... Saya melirik teman-tema disamping saya. Mereka terlihat sangat serius begitupun dengan saya, entah apa yang membuat mereka begitu serius. 
Entahlah, saya sendiri merasa sedih dengan diri saya yang hampir saja lebih mencintai dunia yang kadang melalaikan saya dari mengingat Allah, tugas-tugas hampir membuat saya kekurangan istirahat, bahkan shalat lail kadang tak saya kerjakan karena harus tidur larut malam. Ditambah lagi sewaktu belum ikut kajian seperti ini, saya ingat dengan kebiasaan saya dengan teman-teman, jika kami diburu tugas-tugas dari dosen atau jam kuliah yang bertepatan dengan waktu shalat dan sebagainya, sehingga hampir semua memilih untuk mementingkan urusan kuliah, ditambah lagi sikap seperti menduakan kewajiban ini kadang tak digubris oleh pengajar, ia bahkan melanjutkan pelajaran... Naudzubillah....


Saya berusaha menyembunyikan kesedihan saya, namun berbeda dengan salah satu teman yang duduk di sebelah kanan saya, ia tak mampu menyembunyikan air matanya....
Ia begitu menghayati apa yang dibacakan terlebih ketika sang musyrifah menjelaskan maksud dari hadist tersebut.... 

Saya sendiri merasa sedih dengan diri saya sendiri, akankan saya yang baru hijrah ini ketika mati,besok, nanti, atau jam ini, akan masuk kedalam syurganya Allah, apakah saya telah lebih mencintai Allah dan rosulnya ketimbang diri saya atau keluarga saya. Apaka rasa cinta saya terhadap Allah dan Rasul-Nya sudah melebihi rasa cinta saya terhadap Titel yang selama ini saya Buru, Apakah rasa Cinta  saya terhadap Allah dan Rasulnya sudah melebihi rasa cinta saya terhadap Pujian. Apakah rasa Cinta  saya terhadap Allah dan Rasulnya sudah melebihi rasa cinta saya terhadap Dunia dan Isinya.

Ya Allah, jangan-jangan saya tidak lebih mencintai Allah dan Rasulullah... jangan-jangan saya merasa saya telah beriman lantas saya akan diseret kelak ke Nerak.. Naudzubillah...
Astagfirullahal ghofururrohim...hamba mohon ampun kepadamu Ya Allah.
Ya Allah yang maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati-hati kami diatas Jalanmu

Wallahu ‘alam bissawab..


Kamis, 04 Februari 2016

Yang Tidak Kunjung Nikah

kata bang felix,

Memang betul,  tiada kunjung menikah itu menggelisahkan,  tetapi menikahi seseorang yang tak faham agama juga merupakan bukan kebahagiaan yang dinanti,  melainkan sebuah penderitaan hidup. walapun mungkin benar jumlah aktifis muslim tidak sebanyak aktifitas muslimah. menikah bukan sesuatu yang dilakukan tanpa perhitungan yang cukup,  bahkan dipaksain dengan seseorang yang nga faham itu bunuh diri namanya... 

kata pak ustadz,  carilah yang sholeh dan sholehah,  agar tujuan nikah yakni ibadah akan terpenuhi.

Mendidik Anak Usia Dini

Terkadang saya mendengar perkataan orang tua yang mengatakan otak anak saya belum siap menempuh pendidikan dan belajar. Padahal ...