Minggu, 18 Februari 2018

Jangan Merasa Lebih Baik

Merasa paling berkeringat di jalan dakwah itu wajar.
Yang tak wajar jika merasa lebih baik dibanding mereka yang tak berlelah-lelah bersamamu.

Merasa paling banyak mengisi pengajian itu wajar.
Yang tak wajar jika diri menilai orang lain rendah dibanding dirimu.

Merasa paling ringan dalam bersedekah itu wajar.
Yang tak wajar jika orang lain yang kelihatan kurang dalam bersedekah dianggap lebih hina.

Kita tidak pernah tau kedudukan seorang muslim di sisi Allah Ta’ala, tinggi dan terhormat. Maka, tidak pantas manusia merendahkan dan mencela seorang muslim, apalagi bila hal tersebut tidaklah benar, tidak berdasarkan ilmu.

Banyak dampak negatif yang ditimbulkan oleh penilaian seseorang terhadap orang lain, yang dalam penilaiannya merugikan hak orang lain, putusnya persaudaraan, terjadinya ghibah, hasad, dengki, dan permusuhan dan meluasnya fitnah, hancurnya persatuan, serta terjerumusnya umat Islam dalam perpecahan dan pertikaian.

Ghibah termasuk perbuatan yang diharamkan oleh Allah sebagaimana dalam erfirmanNya:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah...” (Al Hujurat 12)

Wallahu A'lam bishawab

#ODOP5
#Selasa 13/2

Senin, 12 Februari 2018

Bukan Dilan, TapI...

Akhir-akhir ini dunia remaja Indonesia di hebohkan dengan sebuah film bioskop yang mengangkat tema percintaan anak SMA dengan judul "Dilan."

Selain pemainnya yang tampan, sinetron tersebut berhasil menarik banyak penggemar lewat dialog-diaolog dalam skenarionya yang begitu puitis dan juga romantis.

Salah satu kutipan yang menjadi begitu populer di jagad maya adalah ketika si cowok yang bernama Dilan ini menelpon kekasihnya.Milea. Saat Milea mengatakan, "Dilan kamu dimana, aku rindu," kata gadis remaja dibalik telpon.

Dan Dilan pun menjawab dengan romantisnya, "Jangan rindu, berat. Kamu tidak akan sanggup. Biar aku aja" kata Dilan yang membuat hati Milea serasa melanglang buana ke angkasa.

Lantas,  ada apa dengan rindu yang membuat heboh dan sampai banyak yang baper alias bawa perasaan mendengar kata ini. Saya rasa memang wajar, karena banyak wanita memang suka pada lelaki romantis.

Kata-kata Dilan sepertinya belum bisa membuat banyak orang muveon, buktinya hingga sekarang banyak yang menggunakan kata-kata tersebut untuk dijadikan sebagai status, bahkan banyak terkagum-kagum dengan cinta Dilan terhaxap Milea.

Sedih

Malang sunggug malang nasib kita umat akhir zaman, digerus masa, dimakan usia dan dilindas peradaban Barat. Kaum muda saat ini terlalu terbuai dengan hal-hal demikian. Bahkan bukan hanya kaum muda-mudi kadang orang dewasapun masih mengidolakan dan mengagungkan hal-hal demikian.

Tahukah kita? Ada rindu dan ada cinta yang lebih besar dan tak ada yang menandingi romantisnya kisah remaja di atas. Adalah Rasulullah Muhammad Saw, saat tiba masanya dimana Malaikat JIbril diperintahkan turun ke bumi untuk menjemput jiwa yang tenag itu, Jibril menuju rumah kediaman Rasul, lalu duduk disebelah kepala Rasulullah Saw.

Beberapa saat Nabi memandangi Jibril, lalu dengan sayu beliau bersabda, “Jibril, mengapa berlambat-lambat? Tidakkah engkau tahu saat yang dijanjikan itu hampir tiba?”

“Beri tahu aku bagaimana hakku di hadapan Allah nanti.” sabda Nabi lagi.

“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat berbaris berlapis-lapis menunggu kehadiran ruh Tuan, seluruh gerbang syurga terbuka sebagai persemayaman Tuan.” kata Jibril kepada Rasulullah.

Namun, wajah Nabi tetap suram dan gelisah. Lalu sabdanya lagi, “Jibril, bukan berita itu yang kuinginkan. Beritahu aku, bagaimana umatku besok di hari kiamat.”

Kebayang nggak dear, saat kita sudah diperlihatkan kenikmatan, apa yang ada di dalam pikiran orang-orang seperti kita ini? Atau ngini aja. Saat Malaikat datang memberi tahu akan kematian kita, apa yang akan kita tanyakan. Lihatlah Rasulullah sekalipun di depannya hendak dipanggil Allah, ia masih memikirkan kita. Ia kita ummatnya.

Maka dengan tenang Jibril menjawab, “Ya Rasulullah, Allah Ta"ala berfirman, Aku haramkan syurga dimasuki oleh para nabi sampai engkau, Muhammad, masuk terlebih dahulu. Dan aku haramkan umat para nabi masuk ke dalamnya sampai umatmu, Muhammad, masuk terlebih dahulu?.”

Mendengar jawaban itu, barulah wajah Nabi berseri-seri. “Alhamdulillah. Kalau begitu hatiku tenang, wahai Jibril.” Beliau merasa tenteram, kerana kaum muslimin mendapat hak dan tempat istimewa di hadapan Allah SWT.

Bibir beliau yang sudah memucat itu menyunggingkan senyum. Senyum istimewa itu juga beliau tujukan kepada Malaikat Izrail ketika beliau mempersilakan sang Pencabut Nyawa itu melaksanakan tugasnya.

Pada waktu yang bersamaan suasana gundah gulana menggantung berat di ruangan sempit itu. Angin kota Madinah yang meniupkan hawa dingin tapi kering tambah dalam menusuk tulang. Sejengkal demi sejengkal matahari pun semakin meninggi ketika Malaikat Izrail berancang-ancang untuk mencabut nyawa Rasulullah SAW.

Penderitaan Nabi SAW semakin menghebat ketika nyawa beliau, yang dicabut oleh Izrail dengan sangat pelan dan lembut, sampai di pusat. Dahi dan sekujur wajah beliau bersimbah peluh. Urat-urat di wajah beliau menegang dari detik ke detik. Sambil menggigit bibir, Nabi SAW berpaling ke arah malaikat Jibril. Mata Rasulullah SAW pun basah, cahayanya pun semakin meredup. “Ya Jibril, betapa sakitnya! Oh, alangkah dahsyatnya derita sakaratul maut ini.”

Sayyidah Fatimah RA memejamkan mata, sementara Ali bin Abi Thalib, yang berada disamping Rasulullah SAW, menundukkan kepala, sedangkan Malaikat Jibril memalingkan muka. “Ya Jibril, mengapa engkau berpaling? Apakah engkau benci melihat wajahku?” tanya Rasul SAW. “Sama sekali tidak, ya Rasulullah. Siapakah yang tega menyaksikan Kekasih Allah dalam kedaaan seperti ini? Siapakah yang sampai hati melihat Tuan kesakitan?” jawab Jibril tersekat-sekat.

Rasa sakit itu kian memuncak. Sekujur tubuh Nabi menggigil. Wajah beliau semakin memucat, urat-uratnya menegang. Dalam keadaan sakit tak tertahankan itu beliau berdoa, “Ya Allah, alangkah sakitnya! Ya Allah, timpakanlah sakitnya maut ini hanya kepadaku, jangan kepada umatku.”

Saat mendengar sabda Rasul itu, Jibril tersentak. Betapa agung peribadi Rasulullah SAW. Dalam detik-detik paling gawat dan menyiksa, bukan kepentingan sendiri yang dimohonkan, melainkan kepentingan umatnya. Andai beliau mohon agar rasa sakit itu dicabut, pasti Allah SWT mengabulkannya. Namun beliau lebih memilih sebagai tumbal agar derita itu tidak menimpa umatnya.

MaashaAllah, pernahkah kita mendengar kisa serupa? Tentu tidak. Yah! Hanya Rasulullah yang demikian, sampai malaikatpun tercengang dengan hati Rasulullah. Jika "rindu" dilan ingin menanggungnya karena katanya berat, biarkan ia saja.

Maka jauh dari itu sesuatu yang lebih berat dari rindu, sesuatu yang tidak ada lagi sakit yang lebih dahsyat dari kematian, namun karena cinta rasulullah tidak ingin umatnya merasakan maut yang amat dahsyat itu menimpa umatnya beliau dalam sakaratul mautnya tidak melupakan kita umatnya yang jangannya bertegur sapa, melihat muka kita saja beliau belum pernah. Cinta manusia yang mana lagi yang lebih romantis dan indah dari ini dear.

Adalah "Cinta" Rasulullah yang tidak hanya di bibir sebagaimana cinta picisan remaja jaman now, tapi jauumh dari lubuk hati yang dalam cinta dan kasih sayang Rasulullah seharusnya membuat kita menitihkan air mata, tak hentinya harusnya kita menyebut nama beliau Saw.

Lantas siapa yang harusnya kita puji mulai dari dulu hingga sekarang. Lantas siapa lagi sosok yang berhak kita kagumi dari dulu hingga sekarang. Tentu hanya kepada Rasulullah Saw yah dear.

Ketika Jibril menyedari keadaan di sekelilingnya, Izrail sudah dengan sangat santun menarik nyawa Nabi SAW sampai di dada. Maka napas beliau pun mulai menyesak. Rasa sakit semakin menghebat. Ketika itulah, lelaki agung itu menengok ke arah sahabat-sahabatnya dengan pandangan sayu.

Sejenak kemudian, keadaan Rasulullah SAW bertambah kritis. Para sahabat saling berpelukan lantaran tak kuat menahan pilu. Dan ketika itulah tubuh Nabi SAW mulai dingin. Hampir seluruh bagian tubuh beliau tidak bergerak-gerak lagi. Mata beliau pun berkaca-kaca dan menatap lurus ke langit-langit hanya sedikit terbuka.

Menjelang akhir hayat beliau, Ali bin Abi Thalib melihat Nabi SAW dua kali menggerak-gerakkan bibir beliau yang sudah membiru. Maka Ali pun cepat-cepat mendekatkan telinganya ke bibir Nabi. Ia mendengar Nabi SAW memanggil-manggil, “Ummati, ummati…. (Umatku, umatku…).” Dengan memanggil-manggil umatnya inilah, Rasul Akhir Zaman itu wafat di pangkuan isteri tercinta, Sayyidah Aisyah RA, pada hari Isnin, 12 Rabi’ul Awwal 11 Hijrah, bertepatan dengan tarikh 3 Juni 632 Masehi, dalam usia 63 tahun.

Itulah Rasulullah sosok yang harusnya selalu kita sebut namanya, bahkan dalam kondisi paling dahsyat sakitnyapun ia memanggil-manggil nama kita umatnya. Sudahkah kita seperti itu untuk beliau? Bersalawat dalam kondisi apapun?

Jawabannya dalam hati saja dan biarkan menjadi bahan muhasabah yah dear....Ingat! Bukan Dilan yang seharusnya kita kagumi, tapi Rasulullah Saw lelaki paling romantis di jagad alam ini.

Cowok keren dan romatis itu bukan Dilan. Karena itu berat. Hanya lelaki soleh yang sanggup mencontohnya.

#ODOP5
#Merkurius

Minggu, 11 Februari 2018

Cobaan Meningkatkan Derajat

Saat  diri kita dalam kesedihan karena masalah yang kita hadapi, yakinlah bahwa Allah ingin kita lebih dekat denganya.

Saat yang lain tidak melihat permasalahan dan kesedihan kita, ingat adalah Allah satu-satunya yang tau akan hal itu.

Saat yang lain tidak empati kepada kita, ternyata Allah lah satu-satunya yang selalu mengawasi kita.

Saat yang lain  tidak bisa mendengakan kita, hanya Allah yang selalu ada mendengar curhatan bahkan semua cerita kita.

Saat yang lain terlelap, menikmati indahnya bunga tidur. Ingat hanya Allah yang selalu siap mendengar dan mengabulkan meprmintaan kita meskipun itu .itengah malam yang gulita.

Ketahuilah bahwa masalah itu  berasal dari Allah agar kita bersimpuh dan memohon kepadaNya. Karena hanya Dialah yang maha bijaksana, Maha mendengar, Maha melihat dan penyayang diantara yang penyanyang.

 Ketahulah bahwa jika orang-orang Quraisy tidak menyiksa keluarga Yasir RA. Apakah keluarga yasir akan mendaptkan kehormatan.

“Sabarlah  keluarga Yasir, sesungguhnya tempat kalian kelak di surga.”

Allah Menguji kekuatanmu dalam meminta kepada Kepadanya. Karena cobaan itu meningkatkan derajat, menghapus dosa.

#ODOP5
#Merkurius

Tuliskan Saja

Tuliskan saja, biarkan semuanya tumpah ruah menggenangi seluruh ruang imajinasimu.

Biarkan ide mengalir bag air, biarkan ia bermuara pada lautan hingga samudera aksara yang memberi orang lain kehidupan.

Jika kita tak mampu menulis yang baik, setidaknya kita menulis untuk memulai hal baik yakni dengan membangun kebiasaan yang baik.

Kata saja tak akan mampu menembus ruang dan waktu maka tuliskan dan biarkan ia melanglang menembus dunia dan memberi warna dalam dunia.

#ODOP5
#Merkurius

Palu Butung Rasa Duren

Waaw siapa yang tau, sekarang musim apa?Hayo ngacung. Di Sulawesi sekarang musim hujan dear bukan hanya musim hujan, ada musim yang buat hati jadi berduri-duri hehe kayak musim durian.

Nah kalau musim durian seperti sekarang ini, menyantap durian bersama kawan atau bersama keluarga menjadi kebiasaan sebagian besar orang di daerah saya dear, namanya Luwu.

Memang saya orang Bugis dear tapi saya tinggal di daerah Luwu, besarnya di sini dear, eh kok jadi curcol yah. Maaf.

Durian memang selalu mantap, disantap apalagi bareng teman dekap. Tapi tunggu dear, saya ingin memperkenalkan makanan khas Sulawesi yang sudah lumayan familiar di telinga kita, yakni palu butung yang bahan dasarnya adalah pisang yang dimasak dengan air santan.

Nah namun jika musim duren atau kalian yang punya banyak duren tapi ingin merasakan sensasi makan duren yang beda, coba deh buat palu butung yang di campur duren.

Jika ingin memakai bahan selain pisang boleh juga loh dear, misalnya pakai labu, sukun, atau beras ketan juga boleh. Jika di tambah duren ada sensasinya tersendiri dear, palu butung rasa duren enak banget apalagi kalau dicampur es dan makannya pas lagi laper, dijamin enak dear hehe....

#ODOP5
#tantangan3reveiw
#merkurius

Ada apa dengan 14 Februari


Hai dear....
Tidak terasa waktu begitu cepat berputar dan berlalu yah dear, rasanya baru kemarin belajar ngelap ing..tiiiit...(Maaf di sensor) eh sekarang sudah bisa masak dan nyuci baju sendiri. Alias masih sendiri aja. Wkwk, jangan baper yah. Berat, biar Dilan aja.

Ngomong-ngomong masalah waktu, di bulan Februari ini tepatnya tanggal 14 Februari ada perayaan yang  terjadi setiap tahunnya. Hari apa itu dear? Ada apa dengan tanggal 14 ini?

Nah tepat sekali Valentine Day.
Menurut Wikipedia, nama lain hari Valentine yakni hari Santo Valentinus yang dirayakan oleh banyak negara, diantaranya; Anglikan, Gereja Ortodoks Timur, Gereja Lutheran.

Valentines Day ini merupakan budaya umat Kristiani. Bagi mereka hari Valentine adalah hari perayaan cinta dan kasih sayang yang mana perayaan ini dilakukan dengan kegiatan mengirim kartu ucapan hadiah berupa bunga, coklat, berkencan dan semacamnya.

Jadi ingat yah dear, peringatan V'Day ini adalah perayaan umat Kristiani, ingat Allag mengingatkan kita dalam surat cintanya dalam Alquran "bagimu agamamu dan bagiku agamaku."

Kita diajarkan toleransi, namun jangan sampai kita mengikuti dan ikut merayakan dan mengikut-ngikut kebiasaan agama lain. Oke dear, sampai di sini dulu yah, ingat jangan sampai melakukan hal yang tidak diajarkan oleh Allah dan RasulNya.

#ODOP5
#Merkurius

Sabtu, 10 Februari 2018

Jangan nunggu berpengetahuan luas

Nunggu pintar? Kapan menyampaikannya?

Rasulullah tidak harus ada pengakuan dari manusia untuk mulaienyampaikan kebenaran?

Pun beliau tidak harus menunggu Quran itu genap 30 juz untuk mulai di dakwahkan bukan?

Menanggapi pernyataan salah satu teman yang bertanya lewat pesan singkat di whatsapp yang mengatakan bahwa ia tak ingin menyampaikan karena belum kompatible dan masih berpengetahuan dasar untuk itu saya ingin berbagi tentang kewajiban setiap muslim menyampaikan hukum syariat atau tuntunan dari Rasulullah walaupun hanya satu ayat.

Sebagaimana perintah dari Rasulullah untuk menyampaikan yang berasal darinya sebagaimana dalam sebuah hadust yang diriwayatkan Bukhari:

"Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat"

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menyampaikan perkara agama dari beliau, karena Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan agama ini sebagai satu-satunya agama bagi manusia dan jin (yang artinya), “Pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu dan telah kusempurnakan bagimu nikmat-Ku dan telah aku ridhai Islam sebagai agama bagimu” (QS. Al Maidah : 3).

Tentang sabda beliau, “Sampaikan dariku walau hanya satu ayat”, Al Ma’afi An Nahrawani mengatakan, “Hal ini agar setiap orang yang mendengar suatu perkara dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersegera untuk menyampaikannya, meskipun hanya sedikit.

Tujuannya agar nukilan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dapat segera tersambung dan tersampaikan seluruhnya. (Muslim.or.id)

So jangan tunggu berpengetahuan luas atau dapat sertifikat layak berdakwah baru mau menyampaikan yah dear, karena hak paten untuk menyampaikan kebenaran itu sudah di berikan oleh Rasulullah langsung.

#ODOP5
#Merkurius

Mendidik Anak Usia Dini

Terkadang saya mendengar perkataan orang tua yang mengatakan otak anak saya belum siap menempuh pendidikan dan belajar. Padahal ...