Jumat, 08 Desember 2017

Daftar Anak Panah

Kita sesekali mesti belajar bagaimana menghadapi masalah dari Hellen Keller perempuan buta dan tuli yang mengguncang dunia dan ngaungannya masih terdengar sampai hari ini melalui bukunya dengan judul 'Kisah Hidupku' yang telah diterjemahkan kedalam 50 bahasa.

Dalam bukunya ia mengutip sebuah kata, "Walaupun dunia serat dengan derita, iapun serat dengan perjuangan untuk melampaui derita itu" Sebuah kutipan dari seorang wanita yang melampaui keterbatasannya. Hellen Keller, seorang wanita buta dan tuli yang berhasil meraih gelar diploma, sebuah gelar yang belum pernah diraih oleh orang seperti dirinya.

Jauh dari itu bagi kita seorang muslim mestinya lebih dapat bersyukur dari mereka. Kita bisa mengibaratkan hidup bagi seorang mukmin merupakan daftar anak panah yang berderet panjang.

Setiap anak panah itu adalah ujian ataupun masalah dari Sang Pencipta. Seorang mukmin harus lebih bisa mengarahkan fikirannya ke sesuatu yang positif melebihi manusia lain diliuar aqidah islam.

Kesadaran mesti dibangun bahwa terkadang hidup diwarnai dengan kondisi suka dan kondisi duka. Seorang mukmin tidak mengeluh apalagi menyalahkan Allah ketika sedang diuji dengan ujian seperti gagalnya sasaran sebuah impian dunia.

Pun bagi seorang muslim yang diuji dengan kenikmatan tak akan lupa bersyujur dengan karunia dari Allah. Sehingga Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam mengungkapkan ketakjuban beliu. "Sungguh menakjubkan urusan orang beriman! Sesungguhnya semua urusannya baik. Dan yang demikian tidak akan dirasakan siapapun selain orang beriman. Jika ia memperoleh kebahagiaan ia bersyukur. Dan jika ia ditimpa mudharat, maka ia bersabar. Dan bersabar itu baik baginya. (HR. Muslim)

Walkahu 'alam bishawab

Oleh : Eka Trisnawati Anwar

#Day13
#Squad3
#Muslimahpenaperadaban

Rabu, 06 Desember 2017

Bisakah Menikah Tanpa Cinta

Membahasa tema universal ini memang tidak akan ada habisnya. Dan tidak hentinya orang akan berbicara masalah mencintai.

Ada yang bertanya seperti ini dalam chat wa pribadi.

[Assalamualaikum ukhti] Sebuah pesan wa pribadi meluncur di handphone saya.

Tidak lama kemudia tulisan 'sedang mengetik' terlihat. Dan hanya butuh beberapa detik pesan berikutnya pun masuk oleh orang yang sama.

[Apa iya kita bisa menikah tanpa ada rasa cinta yah ukhti? Karena saya melihat di sosial media, dalam islam dan apa yang sering di bahas ITP tentang pacaran itu haram, maka saya banyak menimbulkan pertanyaan, termasuk pertanyaan tadi ukhti.] Lanjutnya.

[Nah bagaimana sih ukhti menjawabnya? Bisakah menikah tanpa ada rasa cinta? Terima kasih ukhti, ditunggu jawabannya!] Ia mengakhiri pertanyaannya.

Ini hanya satu diantara banyak pertanyaan-pertanyaan seputar cinta dan pernikahan yang sering saya temukan.

Baiklah kita akan bahas tentang pertanyaan saudari Rahma (nama samaran) ini. Saya yang masih belajar ini akan berusaha memberi sedikit pejelasan dalam tulisan saya kali ini.

Pertama mari kita jujur pada diri kita, kebanyakan remaja jaman now ini mencari alasan-alasan yang seolah logis. Bahwa pacaran itu untuk mengenal calon yang akan jadi suami atau istri kita kelak, apakah layak jadi suami atau tidak.

Namun faktanya banyak para pencimta yang menikah karena pacaran akhirnya bubar setelahenikah. Ko kamu gini, ko kamu gitu, kamu sudah berubah, kamu kok ini, kamu kok itu, kamu ko berkokok. Eh jangan sampai yah.

Karena saat pacaran, yang dimunculkan dipermukaan adalah wajah-wajah yang baik-baiknya saja.
Maka menjadi sesuatu yang wajar jika saya mengatakan orang menikah karena pacaran atau cinta sebelum pernikahan itu tidak mutlak menjadikan keberhasilan dalam rumah tangga.

Dan juga tak ada jaminan orang yang pacaran sebelum menikah itu rumah tangganya tidak akan gagal. Karena cinta sebelum adanya ikatan pernikahan lebih banyak hanya bersifat emosional.

Keberhasilan membina rumah tangga lebih banyak bergantung pada faktor bisa tidaknya menyesuaikan diri dan mengetahui hak dan kewajibannya sebagai pasutri.

Pun demikian pernikahan itu untuk meraih ridha dan menjalankan syariat, bukan hanya kebutuhan biologis semata atau karena adanya rasa suka yang menggebu tanpa dilandasi oleh syariat islam.

Nah kita kembali ke pertanyaan tadi. Orang yang tidak pernah pacaran atau saling cinta apakah bisa menikah?

Pernyataannya.Jika yang menjadi landasan ia menikah adalah karena ia sadar ingin menjalankan syariat maka saya rasa sangat bisa.

Bagi seorang muslim yang bertaqwa, ia menyerahkan segala ketentuan dari urusannya pada Allah.

Ia menikah karena cintanya pada Allah maka Allahpun inshaAllah akan menumbuhkan rasa cinta mereka, kemudian membalutnya dengan kehidupan sakinah mawaddah warahmah. Sebagaimana janji Allah azza wa jalla.

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkam dalam (hati) mereka rasa sayang." (QS. Maryam: 96)

Sangat keliru jika manusia mengatakan menikah tanpa pacaran itu tidak bahagia. Lihatlah, Allahlah yang akan menanamkan rasa kasih sayang itu ke dalam hati-hati orang-orang beriman.

Bukankah manusia yang meninggalkan pacaran itu karena iman? Kuncinya adalah meyakini apa yang Allah telah perintahkan dan berusaha menjauhi larangannya.

Allah yang akan memberi kemudahan. InshaAllah

Wallahu a'lam bi ashawab

Oleh :Eka Trisnawati Anwar
IG :@eka_trisnawatianwar
Blog : ekashalihah.blogspot.com

#Day8
#Squad3
#Muslimahpenaperadaban

Senin, 04 Desember 2017

Pacaran dan Shaum

Kalian yang tidak pacaran itu umpama orang-orang yang shaum alias berpuasa.

Jika shaum, kita menahan nafsu syahwat, menahan dari makan, minum dan membicarakan aib orang lain. Maka orang yang senantiasa menjaga perasaan sebelum waktunya yakni pacaran menahan diri dari menyalurkan naluri cinta kita kepada orang yang salah pun harus ditahan sebelum waktunya.

Menahan untuk mengatakan kata-kata romantis kepada orang yang bukan suami atau istri, menahan dari menyentuh orang yang bukan suami atau istri kita, menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak mestinya dilakukan kepada orang yang salah dan belum waktunya.

Kita mesti meyakini bahwa shaum itu adalah wujud ketaqwaan kita pada Allah, pun dengan memilih tidak pacaran adalah juga wujud dari ketundukan kita pada perintah dan larangan Allah.

Bagi yang pertama kali puasa mungkin akan merasakan lelah fisiknya, cepat lapar, capek dan bawaannya pengen boboan dan ngadem. Iya nggak gays?

Jujur aja deh, sama halnya orang yang mungkin pertama kali ninggalin pacaran alias berusaha muve on dari pacaran itu bawaannya galau aja, baper dan pengen rasanya melihat si doi yang pernah berlabuh di hati. Ehem

Nah tapi bagi yang sudah terbiasa puasa, dia nggak akan cepat lelah, tidak cepat lapar dan ada juga yang malah semangat melakukan aktivitasnya. Bahkan memperbanyak ibadah.

Nah apa sih yang membedakan dua sikap pada seseorang yang sama-sama puasa ini.

Coba deh, ingat-ingat ketika baru hari pertama puasa ramadhan, bagi yang tidak biasa membiasakan diri pusa daud, senin kamis atau puasa sunnah yang lain maka hari pertama puasa di bulan ramadhan itu rasanya panjang dan lama. Cepat capek dan lapar, pengennya berendam dan bawaannya pengen baring.

Nah biasanya di hari ke empat sampai hari terakhir, sudah tidak terasa lagi dan sudah terbiasa.

Selain semangat perlu pula kita memahami makna atau tujuan juga keutamaan orang-orang yang berpuasa, maka ini akan menambah semangat kita dalam beribadah. Ini tugas kita untuk mencari tahu, agar ibadah terasa nikmat dijalankan termasuk meninggalkan aktivitas pacaran sebelum nikah.

Ini dia yang membedakan antara mereka yang memiliki pemahaman dengan orang yang hanya sekedar membebek.

Kata pepatah lama, iman tanpa ilmu itu bagai sayur tanpa garam alias tak ada rasany, hambar. Juga kata-kata yang lain, ilmu tanpa iman itu bagai taman tanpa bunga, apa indahnya coba.

Nah makanya setiap amalan termasuk meninggalkan pacaran itu kita kudu, mesti, pokoke harus memahami dan tau betul ilmu atas apa yang kita lakukan yah gays.

Orang-orang yang tidak pacaran sedang berjuang seperti saat shaum. nikmatnya dan pahalanya jalan ketika menjauhi zina dan menahan nafsu.

Ketika buka (baca: nikah) itu pahalanya pun doble dan terasa nikmat setelah sekian lama menahan seperti saat berbuka...

#Day7
#Squad3
#Indonesiatanpapacaran

Minggu, 03 Desember 2017

Gara-gara Pria Misterius

Rumah kami adalah rumah panggung, tangga untuk naik ke rumah ada dua. Satu di luar dan satu lagi di depan, yang diluar biasanya jarang kami lewati dan hanya dilalui kami penghuni rumah jika memang sangat perlu.

Bukan karena pamali atau dilarang, tapi itu adalah pembiasaan keluarga dan memang rasanya lebih mudah lewat tangga depan bagi kami.

Tangga diluar sepertinya memang di desain sengaja untuk tamu  gumamku kadang dalam hati, sebenarnya selalu penasaran akan hal itu tapi belum pernah bertanya ke bapak.

Kalau yang aku tau orang Bugis memang sangat menghormati dan menjunjung tinggi sikap hormat pada tamunya. Bukan karena aku orang bugis yah! Ini bukan narsis.

Aku berkesimpulan seperti itu jika membandingkan dengan tempat-tempat yang pernah aku datangi selama ini. Entahlah mungkin aku kurang piknik kali.

Tepat di samping tangga depan di kolong rumah, kami memiliki warung-warung kecil, sengaja bapak buat agar aku dan mamah tidak bosan jika tidak ada aktivitas dan juga ketika siang hari matahari serasa menyegat dan rumah terasa sangat panas.

Biasanya aku dan adik-adik dan mamah beristirahat di warung, jika siang hari. Kami semua ke kolong rumah untuk beristirahat karena cukup sejuk dibawah sana oleh pohon-pohon rambutan dan tanaman bunga di depan rumah yang berayun-ayun mengipas angin ke rumah kami.

Pagi itu aku sedang siap-siap untuk ke suatu tempat. Aku keluar teras depan memasang kaos kaki dan sepatu bersiap untuk berangkat.

Mama naik ke atas rumah setelah melayani pembeli, "Nak, tau tidak?  Laki-laki tadi setiap pagi bahkan sore selalu singgah di warung kita untuk belanja?" Tanya mamah dengan muka serius.

"Bagus dong Mah, pernah sih saya yang layani juga, memang ada apa Mah?" Tanyaku pada mama.

"Dia itu selalu menanyakan kamu!" Mamah seperti biasa serius tapi berusaha tersenyum saat berbicara agar suasana tidak menegang.

"Masa sih Mah? Pernah sih saya yang layani dan dia bertanya-tanya, masih kuliah apa sudah selesai? Ya saya jawab seadanya saja ke dia" Jawabku agak cuek menyembunyikan perasaan teganggku.

"Tuh, teman saya juga pernah ditanya juga sama dia mah, katanya, ini rumah Eka kan? dikirannya mungkin bukan, karena saya jarang keliatan." Jelasku ke mamah.

"Tapi saya nggak nampakin batang hidung, perasaan saya tidak enak saja liat orang itu mah! Kadang tatapannya agak aneh saja, tapi saya berusaha berbaik sangka saja" ungkapku ke mamah.

Bapak menyeruput kopi di depannya sambil mendengarkan kami bercakap. Ya biasa kalau emak sama anak cerita, apalagi aku dan mamah kalau cerita itu seperti sahabat saja.

"Tau tidak istrinya itu biasanya ikut sama dia ketika berangkat kerja, tapi akhir-akhir ini dia tidak pernah bawa istrinya lagi!" Kata mamah.

"Hihi Mamah ini yah, aneh-aneh aja mikirnya. Bisa jadi istrinya ingin istirahat atau lagi hamil, atau ada aktivitas lain Mamah sayaaang!" aku tertawa sambil gelitikin mamah yang sudah semakin kritis.

"Pesan Mamah kamu hati-hati sama orang itu yah nak, bicara seadanya saja sama dia dan jangan sampai cuek juga. Takutnya kamu di apa-apain" Raut muka mamah berubah sedih.

"Dia itu memang ganteng dan banyak uang, juga masih muda. Tapi dia terkenal sudah berkali-kali ganti istri, kamu hati-hati jangan sampai disentuh sedikitpun sama dia." Lanjut mamah.

"Iya mah, siap!" Aku tersenyum ke mamah lalu mengangkat tangan ke kening seperti sikap hormat dan bergegas mengambil tangan mamah dan bapak, mencium tangannya lalu berangkat.

Bersambung....


#Day7

#Squad3

#DWCjilid10

Gara-gara Pria Misterius

Rumah kami adalah rumah panggung, tangga untuk naik ke rumah ada dua. Satu di luar dan satu lagi di depan, yang diluar biasanya jarang kami lewati dan hanya dilalui kami penghuni rumah jika memang sangat perlu.

Bukan karena pamali atau dilarang, tapi itu adalah pembiasaan keluarga dan memang rasanya lebih mudah lewat tangga depan bagi kami.

Tangga diluar sepertinya memang di desain sengaja untuk tamu  gumamku kadang dalam hati, sebenarnya selalu penasaran akan hal itu tapi belum pernah bertanya ke bapak.

Kalau yang aku tau orang Bugis memang sangat menghormati dan menjunjung tinggi sikap hormat pada tamunya. Bukan karena aku orang bugis yah! Ini bukan narsis.

Aku berkesimpulan seperti itu jika membandingkan dengan tempat-tempat yang pernah aku datangi selama ini. Entahlah mungkin aku kurang piknik kali.

Tepat di samping tangga depan di kolong rumah, kami memiliki warung-warung kecil, sengaja bapak buat agar aku dan mamah tidak bosan jika tidak ada aktivitas dan juga ketika siang hari matahari serasa menyegat dan rumah terasa sangat panas.

Biasanya aku dan adik-adik dan mamah beristirahat di warung, jika siang hari. Kami semua ke kolong rumah untuk beristirahat karena cukup sejuk dibawah sana oleh pohon-pohon rambutan dan tanaman bunga di depan rumah yang berayun-ayun mengipas angin ke rumah kami.

Pagi itu aku sedang siap-siap untuk ke suatu tempat. Aku keluar teras depan memasang kaos kaki dan sepatu bersiap untuk berangkat.

Mama naik ke atas rumah setelah melayani pembeli, "Nak, tau tidak?  Laki-laki tadi setiap pagi bahkan sore selalu singgah di warung kita untuk belanja?" Tanya mamah dengan muka serius.

"Bagus dong Mah, pernah sih saya yang layani juga, memang ada apa Mah?" Tanyaku pada mama.

"Dia itu selalu menanyakan kamu!" Mamah seperti biasa serius tapi berusaha tersenyum saat berbicara agar suasana tidak menegang.

"Masa sih Mah? Pernah sih saya yang layani dan dia bertanya-tanya, masih kuliah apa sudah selesai? Ya saya jawab seadanya saja ke dia" Jawabku agak cuek.

"Tuh, teman saya juga pernah ditanya juga sama dia mah, katanya, ini rumah Eka kan? dikirannya mungkin bukan, karena saya jarang keliatan." Jelasku ke mamah.

"Tapi saya nggak nampakin batang hidung, perasaan saya tidak enak saja liat orang itu mah! Kadang tatapannya agak aneh saja, tapi saya berusaha berbaik sangka saja" Sambungku.

Bapak menyeruput kopi di depannya sambil mendengarkan kami bercakap. Ya biasa kalau emak sama anak cerita.

"Tau tidak istrinya itu biasanya ikut sama dia ketika berangkat kerja, tapi akhir-akhir ini dia tidak pernah bawa istrinya lagi!" Kata mamah.

"Hihi Mamah ini yah, aneh-aneh aja mikirnya. Bisa jadi istrinya ingin istirahat atau lagi hamil, atau ada aktivitas lain Mamah sayaaang!" aku tertawa sambil gelitikin mamah yang sudah semakin kritis.

"Pesan Mamah kamu hati-hati sama orang itu yah nak, bicara seadanya saja sama dia dan jangan sampai cuek juga. Takutnya kamu di apa-apain" Raut muka mamah berubah sedih.

"Dia itu memang ganteng dan banyak uang, juga masih muda. Tapi dia terkenal sudah berkali-kali ganti istri, kamu hati-hati jangan sampai disentuh sedikitpun sama dia." Lanjut mamah.

"Iya mah, siap!" Aku tersenyum ke mamah lalu mengangkat tangan ke kening seperti sikap hormat dan bergegas mengambil tangan mamah dan bapak, mencium tangannya lalu berangkat.

Bersambung....

Sabtu, 02 Desember 2017

Ingin Berteriak

Selalu ada momen dimana kita merasa lelah, ingin berteriak sekencang-kencangnya kepada diri sendiri.

Waktu dua puluh empat jam adalah waktu yang tidak sebentar. Selalu saja ada jalan lalai terhadap komitmen.

Contoh misal, diri saya yang kadang telat nulis dan post karena kecapean, ketiduran pas malamnya, atau karena terkendala aktivitas yang lain.

Atau mungkin diri kadang memang hanya mengkambing hitamkan seabrek akitivitas itu. Menjadikannya dinding bersembunyi dari kekurangan diri sebenarnya.

Wahai diri lihatlah
Imam Malik menyedikitkan waktu tidurnya untuk menggali ilmu dan menorehkannya guna diwariskan untuk umat sepanjang zaman. Padahal usianya empat puluh sembilan tahun, bukan usia yang muda bukan?

Cobalah belajar dari Imam Syafi'i rahimahullah yang pandai membagi waktu malamnya menjadi tiga, yakni sepertiga pertama untuk menulis ilmu, sepertiga kedua untuk shalay malam, dan sepertiga ketiga untuk tidur.

Masih kah kurang juga?
Renungkanlah seseorang yang selama empat puluh tahun dari penghujung usianya, Ibnu Jarir mampu menulis sebanyak empat puluh halaman setiap hari.

Apakah saat itu ada smarthone, apakah saat itu sudah ada komouter, apakah saat itu ada percetakan, apakah saat itu sudah ada listrik?

Tentu tidak, kindisi mereka bukan penghalang menjadikan diri mereka berkarya besar.

#Day6
#Squad3
#30DWCjilid10

Jumat, 01 Desember 2017

Manusia Kuat

Saat  keringat perjuangan jadi tetesan embun sejuk.

Saat air mata kesabaran jadi saksi

Saat istirahat jadi pengobat kepenatan Saat itulah kepasrahan atas diri yang lemah mengadu pada-Nya.

Semoga semua yang mereka lakukan untuk dakwah hari ini dibalas surga oleh Allah rabbul 'alamin.

Ya Allah....
Di malam-Mu yang semakin gulita
Semangat mereka masih berkobar membakar segala ego
Dingin malam menusuk sukma 
Tak akan menelungkupkan tumit-tumit mereka.

Alumni 212
Bukan hanya angka unik
Bukan hanya sekedar orasi
Juga bukan sekedar pertemuan.

Mereka manusia kuat yang berjiwa kuat
Mereka bangkit dan mengokohkan perjuangan
Menyuarakan persatuan.

Kaki-kaki masih memijak bumi
Namun harapan melangit menembus awan melejit
Hanya pada-Mu Ilahi Rabbi.

Dalam segala keterbatasan
Penuh pengharapan dan alasan
Mereka menjadi manusia kuat
Saling berangkulan erat.

Saling mencinta karena bertemu
Dan saling bertemu karena cinta
Ah entahlah alasannya apa
Semoga Engkau balas dengan surga.

#Day5
#Squad3
#30dwc10

Mendidik Anak Usia Dini

Terkadang saya mendengar perkataan orang tua yang mengatakan otak anak saya belum siap menempuh pendidikan dan belajar. Padahal ...