Sabtu, 21 Oktober 2017

Motivasi Menulis


Motivasi Menulis
Dari sinilah semua gencatan pena itu dimulai, sebuah motivasi mengapa kita menulis.

Arief B Iskandar berkata dalam bukunya yang berjudul Biarkan Jemari Menari, bahwa "Motivasi itu ibarat setumpuk sekam mengering, sementara niat ibarat kilatan api. Sekam tetaplah sekam jika tidak tersulut sepercik jilatan api"

Itulah motivasi. Semangat yang menyala dari motivasi bergantung besarnya percikan niat. Penting memulai segalanya dengan niat yang suci. Lantas niat suci yang mana yang dimaksud?

Sebelum saya memasuki pembahasan intinya, izinkan saya bercerita sedikit. Ini adalah sebuah kisah tentang latar belakang sebuah amalan.

Dikisahkan, di akhirat nanti, dipanggillah tiga orang oleh malaikat dihadapkan kepada hakim yang paling adil.

Pertama,
"Hai dermawan!, kemarilah!" Majulah sang dermawan dengan langkah tegap percaya diri. Ia yakin selama ia hidup, ia telah banyak bersedekah dengan hartanya sehingga amalannya telah cukup untuk memasukkannya ke dalam surga.

"Karena alasan apa kamu banyak bersedak dan tidak takut rugi?" Tanya malaikat penuh ketegasan.

"Saya melakukan semuanya itu hanya satu alasan, yakni karena Allah."

"Bohong!" Timpal malaikat segera
"Kamu melakukannya karena hanya ingim dikatakan oleh orang-orang sebagai orang dermawan.

Muka dermawan memerah, ia tertunduk malu. Kedok kebohongannya telah terbuka.

"Kalau demikian, masuklah kamu kedalam neraka bersama Qorun, sang hartawan yang durhaka itu!"

Sang dermawanpun diseret ke dalam neraka.

Sampailah pada orang kedua
"Untuk apa kamu mengajar ilmu kepada banyak orang?" Tanya malaikat.

"Karena Allah" Jawab ilmuan dengan singkat dan penuh keyakinan. Sayang malaikat tidak bisa dikibuli.

"Bohong!" Sergah malaikat. "Engkau mengajar ilmu kepada manusia agar engkau dikatakan orang alim"

Ilmuanpun tak sanggup lagi berkutik. Bagaimanapun malaikat mampu menerawang isi hati manusia, malaikat mampu mengetahui semua niatannya menjadi sarjana, mengejar ilmu dan mengajarkannya.

Sang ilmuanpun diseret oleh malaikat kedalam kobaran api neraka.

Tibalah giliran manusia yang ke tiga. Sama juga ia dipanggil dan ditanya oleh malaikat.

"Sejak di dunia, saya telah berjuang membela negara, bangsa dan juga agama. Hingga saya gugur dan saya menjadi syahid" Jelas sang pahlawan dihadapan malaikat.

"Bohong!" jawab malaikat "Engakau berjuang agar engkau dikatakan pahlawan, dikatakan orang besar, dan agar namamu menghiasi majalah-majalan dan koran-koran atas jasamu, engkau melakukan itu semua agar dikatakan syuhada, mujahid. Engkau tidak melakukannya karena Allah"

Sang pahlawanpun terdiam dan benar kata malaikat.

"Surga tidak bersedia menerima orang sepertimu"

Akhirnya iapun bernasib sama dengan orang yang pertama dan kedua.
.................

Jika kita berandai-andai. Bayangkan jika kita berada dihadapan malaikat untuk mempertanggung jawabkan apa yang telah kita perbuat selama di dunia ini. Maka mari kita cek kembali apa motivasi kita menulis.

Sudahkah karena Allah atau yang lainnya?

Saya yakin setiap orang punya motivasi tersendiri dalam menulis. Mari kita jawab pertanyaan di atas dalam hati kita dan jaga karena ia akan menjadi hujjah di hadapan malaikat kelak di yaumil akhir.

#30DWC
#Squad9
#Days11
MuslimahPenaPeradaban

Jumat, 20 Oktober 2017

Manisnya Ngejomblo

Oleh: Eka Trisnawati Anwar

Ngejomblo sejatinya adalah sebuah pilihan, sebuah pilihan keimanan. Disaat banyak kaum Adam dan Hawa diluar sana memilih pacaran sebelum halal. Kamu malah memilih tetap sendiri karena iman.

Tapi yang perlu kamu ketahui, ada dua faktor, ngejomblo itu bisa tidak meng enakkan.

Pertama: karena faktor dari luar, nah faktor dari luar ini yah, biasanya datang dari lingkungan kita

Jangan kira tak akan ada godaan kawan, saat kamu memilih sebuah pilihan maka bersiaplah dengan segala tantangannya.

Yah, setiap pilihan ada konsekuensinya masing-masing. Kamu yang ngejomblo sering dapat cemoohan,tidak gaul lah, tidak laku lah, tidak keren lah dan sacamnya keep calm aja yah, yang mengataimu kan hanya manusia.Toh Bumi dan isinya ini milik Allah.

Kalau boleh dibilang mah, sekalipun manusia dan seisinya bersatu untuk membencimu, asal Allah masih bersamamu, maka tenang saja, yang punya Bumi ini kan Allah. Sebaliknya sekalipun manusia dan seisinya menyukaimu tapi Allah memusuhimu, kamu mau kemana, Wong Dunia dan isinya milik Allah.

Kedua: Dari dalam diri kita, sebagaiman sabda nabi, didalam tubuh manusia ada segumpal darah yang bernama hati, jika ia baik maka baiklah seluruhnya, jika ia rusak maka rusaklah seluruhnya.

Seorang yang menjomblo itu tidak bisa merasakan nikmatnya menjomblo kecuali jika ia meyakini bahwa Allah adalah tuhannya, Islam adalah agamanya dan Muhammad adalah utusan Allah. Dan ini dibuktikam dengan ketundukan kepada perintah dan larangannya.

Nah agar ngejomblo terasa nikmat-nikmat aja, dan agar bapermu bisa terarahkan ketika melihat yang lain telah bersanding di pelaminan, atau ketika melihat pasutri telah menimang momongan, hati kamu yang masih jomblo bisa nikmat-nikmat aja, maka pastikan bahwa pilihan ini tidak lain karena ketundukan kepada rob semesta alam.

Semua orang normal pasti memiliki rasa ingin mencinta san dicintai. Tapi kencintaan kepada Allah haruslah lebih tinggi daripada kecintaan kepada makhluk. Catet!

Rasulullah Saw berasabda
"Tiga perkara yang dilakukan seorang muslim maka ia akan merasakan manisnya iman, yaitu menjadikan kecintaanya kepada Allah dan rosulnya lebih dari cintanya kepada selain keduanya. Tidak mencintai seorang hamba kecuali ia mencintainya karena Allah, dan benci kembali kepada kekafiran seperti bencinya masuk neraka"

Kriteria diatas ada pada diri kamu sobat?

Ingat barang siapa yang memiliki kriteria seperti ini, maka ia akan merasakan manisnya iman, manisnya hijrah, manisnya taat, dan manisnya ngejomblo, karena ngejomblo itu karena iman bukan?

Pasrah terhadap ketentuan Allah yaitu perintah dan larangannya, meskipun perkara tersebut membuat hati kita tidak rela, namun kita tetap ridha menerimanya, menjalankam dengan penuh kepasrahan, kecintaan, dan kerelaan.

Semoga kita semua istiqomah (konaisten) dengan ajaran Islam. Semoga dengan begitu, kita bisa merasakan kenikmatan dunia dan kemuliaanya. Sambil menanti kesenangan dan kemuliaan di akhirat kelak.... InshaAllah

#30DWC
#Squad9
#Days10
MuslimahPenaPeradaban

Rabu, 18 Oktober 2017

KEHILANGAN

"Maah, mama liat KTP (Kartu Tanda Penduduk)saya tidak ma?" Seru saya didalam kamar

Pagi itu mama baru selesai mandi sementara saya sedang mempersiapkan barang bawaan untuk persiapan selama enam bulan di Kota Serang, Banten mengabdi disalah satu pondok pesantren.

"Memang ada apa? KTP kamu kan hari itu sudah diambil kan seingat mama!" Mama yang didalam kamarnya berusaha menjawab dengan tenang.

Kamar saya dan Mama memang sangat sangat dekat, bahkan hanya dipisahkan oleh dinding.

"Mah itu penting Mah, buat Check in dibandara" Saya menjelaskan dengan suara memelas.

Akhirnya Mama menuju kamar saya.

"Ko bisa tidak ada? Cari lagi kalau begitu" Perintah Mama dengan nada datar.

Mamapun ikut membantu mencari KTP saya, mama membuka lemari dan mengeluarkan tas yang berisi lembaran berkas-berkas penting, mulai dari Kartu Keluarga, Ijazah sampai foto kenangan lamapun masih tersimpan rapih. Yah itulah Mama orangnya sangat telaten dalam menjaga sesuatu. Seperti telatennya menjaga hatinya hanya untuk Bapak seorang (eah)

Saya melihat .ama lebih panik dan khawatir dibanding diri saya ini. Meskipun dalam hati sangat berharap KTP itu bisa ditemukan namun saya tetap berusaha tetap tenang.

Jika dompet saya adalah orang, mungkin sudah mabok berkali-kaili dibuka tutup, tapi tetap saja hasilnya sama, tidak ada.

Tempat pencarian saya alihkan ke buku. Yah buku-buku dalam tas saya adalah teman sejati dompet saya ketika bepergian, satu persatu buku saya keluarkan kemudian membuka lembarannya dan saya jungkir balik,   (bukunya yah bukan sayanya)  tapi tetap saja hasilnya nehi....eh maksudnya nihil.

Dalam hati saya sangat khawatir dan was-was namun saya pasrahkan semoga Allah menunjukan yang terbaik.

 Akhirnya saya hentikan mencari KTP itu dan mencoba melakukan aktifitas yang lain dan tetap menyandarkan harapan saya pada Allah. Semoga saja nanti atau besok bisa ketemu. Karena seingat saya KTP itu tidak pernah saya keluarkan dari dompet.

Keesokan harinya saya bersiap-siap berangkat ke Belopa mengikuti pengajian. Saya memeriksa isi tas saya. Buku, pensil, penghapus, pulpen dan dompet sudah lengkap. Yah isi dompet, saya harus memeriksa SIM (Surat Izin Mengendarai) dan STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan) Alhamdulillah ada. Dan....

"Waah Alhamdulillah, Ya Allah akhirnya ketemu juga" seruku sendirian karena kegirangan.

Yah KTP yang kemarin saya cari ternyata terselip sibawah SIM. Pantas saja saya tidak melihatnya kemarin.

Pernahkah sobat merasakan hal yang sama saat kehilangan. Khawatir, was-was dan perasaan hati yang gundah-gulana ketika kehilangan sesuatu dan berubah seketika menjadi bahagia dan senang saat mendapati barang itu kembali?

Dari kejadian beberapa hari lalu saya teringat dengan buku yang pernah saya baca. Tapi saya lupa judul buku dan penulisnya. Tapi beberapa tulisannya masih lekat di ingatan saya, salah satunya....

Allahpun demikian sobat. Saat hambanya melakukan dosa  kemudian bertobat kegembiraan dan rasa senangnya melebihi kita saat kehilangan sesuatu yang sangat berharga kemudian kita menemukannya. Yah.... Allah gembira saat kita bertobat dari dosa melebihi perasaan senangnya kita saat mendapati barang berharga kita kembali.

Allah sangat suka pada hamba-Nya yang bertaubat. Sampai-sampai Allah lebih bergembira dibanding seseorang yang kehilangan hewan tunggangannya yang membawa bekalnya, lalu hewan tersebut tiba-tiba datang lagi kembali.

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik Al Anshori, pembatu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya Allah itu begitu bergembira dengan taubat hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas.” (HR. Bukhari no. 6309 dan Muslim no. 2747).

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِى ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِى وَأَنَا رَبُّكَ.أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ

Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat pada-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas (padang pasir), kemudian hewan yang ditungganginya lari meninggalkannya. Padahal di hewan tunggangannya itu ada perbekalan makan dan minumnya. Sehingga ia pun menjadi putus asa. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon dan tidur berbaring di bawah naungannya dalam keadaan hati yang telah berputus asa. Tiba-tiba ketika ia dalam keadaan seperti itu, kendaraannya tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatnya. Karena sangat gembiranya, maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia telah salah mengucapkan karena sangat gembiranya.” (HR. Muslim)

Ada beberapa pelajaran yang bisa saya petik dari kejadian tersebut.

1. Allah begitu menyayangi hamba yang bertaubat. Sungguh Allah maha penyayang

2. Harusnya kita banyak bertaubat pada Allah.

3. Pasrah pada ketentuan Allah mendatangkan kebaikan dan keberkahan. Karena laki-laki yang dikisahkan dalam hadits di atas telah berputus asa dari hilangnya hewan tunggangannya, lantas Allah pun mengembalikan hewan tunggangannya.

4. Banyak-banyaklah kita mengintrospeksi diri.

Semoga bermanfaat

#30DWC
#Day8

Bingung

Sumpah

Malam ini saya bingun mau menulis tentang apa. Seriuus

Padahal saya sudah niatkan untuk menulis dipagi hari setelah Dzikir pagi. Tapi lagi-lagi saya teralihkan mengerjakan sesuatu yang lain

Saya mandi lalu shalat dhuha dan lanjut menghafal. Setelah menghafal saya coba membaca buku tetang motivasi karena saya ingat, tanggal 20 adalah tugas saya mengisi materi lewat online dalam sebuah group kepenulisan yang saya ikuti sekarang. Materi yang akan saya bawakan judulnya "Motivasi Menulis".

Saya memang tidak terlalu sibuk keluar hari ini, jadi saya ada waktu membaca dipagi hari. Dan kebetulan saya memang sekarang adalah pengangguran. Yah maka jadilah hidup saya sekarang bergelantungan.... eh emang kelelawar bergantungan.

Tapi tenang saja. Saya masih berusaha agar impian saya bisa terwujud. Semoga suatu hari akan termujud. Saya baru saja memulainya. Eh kembali ke leptop.

Masalahnya adalah setelah saya membaca, saya mendapat ide yang kemudian saya tuangkan dalam draft, kemudian berkata "Nanti saya lanjut lagi" kebetulan saya ingin keluar.

Dan akhirnya, sampailah saya ditempat pencucian motor. Lalu saya membuka handphone....tapi ternyata lowbet dan akhirnya saya tidak bisa melanjutkan tulisan saya yang belum selesai.

Untungnya ada koran Palopo Pos yang bisa menghilangkan kejenuhan saya menunggu motor saya gilirannya dicuci.

Saat membaca koran itupun saya menemukan ide. Karena saya kebetulan membawa buku catatan dan pulpen, cepat-cepat saya mencatat ide yang ada difikiran saya. Takut kalau-kalau ide dalam kepala saya menguap karena udara yang begitu panas siang ini.

Motor selesai dicuci, waktu dzuhurpun sudah tiba, saya beraktifitas diluar sampai sore. Malamnya bercengkrama denga  teman dan melanjutkan belajar lewat online dan akhirnya tulisan pun tak kelar.

Jadilah ide saya sia-sia saja. Dan bingungpun melanda, mau menulis apa gerangan. Sementara waktu setor tulisan sudah deadline.

Akhirnya, Just do it

Menulis saja. Intinya biasakan menulis.

Sebenarnya tadi sudah terbersit ingin bolos nulis saja. Tapi hati kecil saya tidak mengizinkan, karena sekali kita melakukan sesuatu yang tidak baik. Maka pastikan akan ada ketidak baikan setelahnya.

Menulislah
Agar terbiasa
Jangan lewati sehari tanpa menulis
Karena akan berdampak pada kebiasaan

Saya berharap semangat menulis saya setahun lalu bisa kembali setelah 30 Days Writing Challenge ini.

#30DWC
#Days7
#Squad9


Selasa, 17 Oktober 2017

Memanfaatkan Momentum

Rebutlah momentum yang ada. lakukan tindakan dari sekarang. Entah itu kita sudah tua ataupun masih muda. Siapapun itu ambillah momentum perubahan dari sekarang. Ini ada kaitannya dengan tulisan saya sebelumbya dengan judul Jangan Tunggu Tua. Namun kali ini penjelasannya lebih kepada waktu, InshaAllah.

Kita mungkin familiar dengan lirik lagu ini

"Bila waktu telah memanggil
Teman sejati tinggalah amal
Bila waktu telah berhenti
Teman sejati tinggalah sepi" [Opick-Bila Waktu]

Apa hubungannya dengan memanfaatkan waktu. Karena sejatinya waktu itu sangat cepat berlalu, dan tidak akan bisa terulang kembali. Orang-orang yang proaktiflah yang mampu mengambil momentum yang ada dan mengubahnya menjadi sebuah prestasi, tentunya setelah dibekali ilmu dan iman yang kuat.

Karena kita telah didahului Ukasyah masuk surga. Manfaatkan momentum yang ada. Sebagaimana Ukasyah.

Tahukah kalian mengapa Ukasyah dijamin masuk surga? Karena ia mampu merebut dan mempergunakan momentum yang ditawatkan nabi. Diriwayatkan dalam sebuah hadist yang panjang bahwa suatu hari nabi pernah memaparkan profil manusia penghuni surga.

Ketika itu sahabat mulai kasat-kusut karena mendapat kabar itu, mereka menduga-duga siapakah kiranya yang digambarkan rosulullah.

Ketika itu nabi bertanya kepada para sahabat "Apa yang kalian bicarakan?" Maka setelah mereka memberitahukan, Nabi SAW bersabda,

"Mereka adalah orang-orang yang tudak melakukan ruqyah, tidak meminta ruqyah, tidak meramal yang buruk-buruk dan kepada robnya mereka bertawakkal."

Maka tahukah siapa yang paling gesit? Ya itulah Ukhasyah, ia bangkit dan berkata "berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku golongan mereka." Beliau bersabda " Engkau termasuk golongan mereka"

Kemudian ada lelaki lain yang bangkit dan berdiri kemudian mengulang perkataan Ukasyah. Lalu beliau menjawab "Engkau telah didahului Ukhasyah"

Yah itulah momentum, ia cepat berlalu dan sangat cepat berlalu. Fastabiqul khairat, berlomba meraih kebaikan.

Merebut momentum untuk melakukan perbaikan. menambah aktitas positif dan bermanfaat. Karena momentum itu tidak akan terulang

#30DWC
#Squad9
#Days7
#MuslimahPenaPeradaban

Minggu, 15 Oktober 2017

Menyerah

Memasuki hari ke enam. Tantangan agar bisa bertahan untuk terus menulis dalam group 30DWC membuatku ingin menyerah saja.

Kadang ketawa sendiri melihat tingkah ibu jariku, sudah ngetik dua paragraf eh malah tekan tombol delete, jadilah tulisannya bersih dan mulai lagi dari awal. Kadang setelah menulis tiga paragraf, buka dokumen baru lagi....huuft

Banyak alasan kenapa rasa ingin menyerah itu selalu timbul. Pertama, tulisan teman-teman jauh lebih baik dari diriku yang bisa dibilang Aku anak bawang yang baru lahir kemarin sore. Kedua, kadang Aku merasa kehilangan ide.

"kengapa kamu kadang kehilangan ide?" "kengapa yang lain bisa tetap maju sementara dirimu ingin mundur?" Itulah yang kadang muncul ketika semangat ini mulai menurun. Smoga saja tidak menurun sampai tujuh turunan....eh bahas apaan sih

Jangan berkecil hati jika ingin maju dan terus berkembang. Jika sudah muncul rasa-rasa ingin menyerah dan waktu injury time makin bersahabat denganmu ketika menulis. Maka segerahlah siram dirimu yang layu denga  air motivasi agar tidak terlanjur layu dan mengering.

1. Just do it

Kamu cukup hanya lakukan saja. Masalah bagus dan tidak bagus, dibaca atau tidak dibaca, itu urusan belakang.

Kalau memang tidak bagus, ingat kau adalah pembelajar, tak ada yang praktis, mie instan aja harus di rebus dulu baru bisa dimakan.

Ingat nasihat Ali bin Abhi Thalib "Orang yang tidak pernah merasakan pahitnya perjuangan, maka ia tidak akan merasakan manisnya kebahagiaan"

Just do it (cukup lakukan saja) karena yang kau ingin bangun adalah habist.

2. Ingat kembali motivasimu saat ingin mulai menulis

_Jika kau menulis untuk terlihat lebih baik dan lebih bagus maka kau tak usah menulis, tujuanmu menulis hanya agar bisa memberi manfaat kepada orang banyak lewat penamu, bukan agar terlihat bagus dan terkenal

Ingat pepatah orang Arab " Jika tujuanmu untuk terkenal, kencingi saja sumur Zam-zam" maka pasti kau akan terkenal.

Kembalilah menulis sesuatu yang bermanfaat, bukan apa yang kau inginkan. Cukup lakukan saja.

Imam Al Ghazali pernah berkata "Orang yang cerdas, alim dan mengerti akan selalu melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang hanya melakukan sesuatu yang di inginkan.

Keep Istiqomah
#30DWC
#Squad9
#Days6

JANGAN TUNGGU TUA

Zaman now seperti sekarang ini ( ya iyalah, now kan sekarang buu, hehe lupakan) istilah dan motto anak muda sudah semakin ngalor ngidul

Dari motto "Hiduplah seperti air yang mengalir, dimana arus membawanya maka disitulah engkau bermuara" asyiik bener yah hidupnya. Untung aja kalau mengerti maksud dari pepatah tersebut , lah kalau enggak kan kasian.

Sudah motto hidupnya ngelantur artinyapun tidak dimengerti. Maka jadilah pemudah yang harusnya diusia mudanya punya mimpi yang besar, malah jadinya hidupnya tidak ada tujuan seperti air yang mengalir, kalau sungai membawanya ke kali maka pastilah hidupnya ke kali. Kalau arus sungai membawanya ke sungai yang kotor maka disitulah ia akan berlabuh.

Ada lagi yang tidak kalah nge hitznya, motto yang satu ini selalu kita dengar "Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk syurga" whiiits keren bukan? Lah siapa yang tidak menginginkan, mudanya enak-enak, santai kayak dibantai....eh maksudnya di pantai, mudanya edem tuanya lebih ayem terus matinya makin adem ayem. Siapa yang tidak mau kan yah?

Tapi pertanyaanya, "apa iya itu bisa terjadi?"

Jawabnya "Tidur aja dulu trus mimpi!" eh tau-taunya bangun ternyata yang dihadapinya adalah dunia yang nyata.

Pemuda yang dijadikan sebagai harapan penerus perjuangan bangsa, agama dan terlebih jadi harapan orang tua, tergerus dengan pergaulan yang tidak ada arah, kesenangan semata yang ada dalam benak tanpa memikirkan dampak bagi masa depannya.

Kaula muda saat ini terlalu banyak bermimpi tentang kehidupan yang nyaman dan enak tanpa mau berusaha. Dengan dalih masih muda, orang tuanya kaya, waktu masih panjang, jalani hidup apa adanya. Jadilah mereka pemudah yang hidupnya sia-sia dan bisa dipastikan masa depannya akan hancur.

Mengapa saya katakan hancur.
Coba Anda bayar saya....eh maksudnya coba kita bayangkan, kehidupan yang masa mudanya hanya untuk foya-foya tanpa memikirkan masa depan dihari depannya nanti

Maka kemungkinan besar hal-hal berikut akan menimpa orang-orang seperti di atas

Pertama: Kaget. Mereka orang-orang yang masa mudanya tidak sadar-sadar sampai usianya sudah semakin tua, makan akan kaget karena ternyata waktu terus berputar dan kini ia menjadi semakin berusia.

Kedua: Ketika berkeluarga, keluarganya tidak bahagia dan jarang bercanda riang dan tertawa lepas bersama sang istri, ini sudah banyak fakta real di lapangan.

Suami tidak punya bekal bagaimana mendidik istri, bagaimana berlaku baik terhadap istri, apa hak dan kewajiban suami terhadap istri, tak ada bekal sebelumnya. Itu yang menyebabkan emosi selalu meninggi, hal itu terjadi karena usia mudanya habis untuk bersenang-senang, waktunya tidak digunakan untuk belajar bagaimana menjadi imam yang baik dalam keluarga.

Tiga: Hidup selalu tertekan. Beras mahal, anak butuh seragam sekolah, butuh jajan, ebutuhan dapur semakin berkurang. Keluarga butuh rumah. Anak butuh kendaraan ke sekolah dan masih banyak lagi tekanan hidup dimasa-masa seperti ini.

Tapi karena waktu muda digunakan bersantai dan happy fun. Maka jadilah sebelum masa tuapun sudah sengsara hidupnya.

Empat: Penyesalan yang terlambat. Orang-orang selalu berkata bahwa "penyesalan itu selalu dibelakang". Saat kita tidak membuat perencanaan matang di usia muda, terlebih jika waktu mudanya yang produktif hanya digunakan untuk bersantai maka ia akan menyesal.

Menyesal, ketika menyadari hidupnya yang sudah semakin menua, namun bebannya semakin bertambah, sementra tenaganya tak lagi sekuat dulu. Maka yang tersisa hanya penyesalan

Kamu yang merasa masih muda, sekali lagi, yang merasa yah.... siapa saja.

Isilah hari-harimu dengan sesuatu yang positif, bisa dengan ikut ber organisasi, ikut dalam lembaga dakwah. Sibukkanlah dirimu dengan membaca, belajar, bekerja dan berdakwah.

Karena usia muda tidak akan kembali. Jangan tunggu tua untuk menjadi pribadi yang besar.

#YoungFaith
#30DWC
#Squad9
#Days5
#MuslimahPenaPeradaban

Mendidik Anak Usia Dini

Terkadang saya mendengar perkataan orang tua yang mengatakan otak anak saya belum siap menempuh pendidikan dan belajar. Padahal ...