Rabu, 18 Oktober 2017

KEHILANGAN

"Maah, mama liat KTP (Kartu Tanda Penduduk)saya tidak ma?" Seru saya didalam kamar

Pagi itu mama baru selesai mandi sementara saya sedang mempersiapkan barang bawaan untuk persiapan selama enam bulan di Kota Serang, Banten mengabdi disalah satu pondok pesantren.

"Memang ada apa? KTP kamu kan hari itu sudah diambil kan seingat mama!" Mama yang didalam kamarnya berusaha menjawab dengan tenang.

Kamar saya dan Mama memang sangat sangat dekat, bahkan hanya dipisahkan oleh dinding.

"Mah itu penting Mah, buat Check in dibandara" Saya menjelaskan dengan suara memelas.

Akhirnya Mama menuju kamar saya.

"Ko bisa tidak ada? Cari lagi kalau begitu" Perintah Mama dengan nada datar.

Mamapun ikut membantu mencari KTP saya, mama membuka lemari dan mengeluarkan tas yang berisi lembaran berkas-berkas penting, mulai dari Kartu Keluarga, Ijazah sampai foto kenangan lamapun masih tersimpan rapih. Yah itulah Mama orangnya sangat telaten dalam menjaga sesuatu. Seperti telatennya menjaga hatinya hanya untuk Bapak seorang (eah)

Saya melihat .ama lebih panik dan khawatir dibanding diri saya ini. Meskipun dalam hati sangat berharap KTP itu bisa ditemukan namun saya tetap berusaha tetap tenang.

Jika dompet saya adalah orang, mungkin sudah mabok berkali-kaili dibuka tutup, tapi tetap saja hasilnya sama, tidak ada.

Tempat pencarian saya alihkan ke buku. Yah buku-buku dalam tas saya adalah teman sejati dompet saya ketika bepergian, satu persatu buku saya keluarkan kemudian membuka lembarannya dan saya jungkir balik,   (bukunya yah bukan sayanya)  tapi tetap saja hasilnya nehi....eh maksudnya nihil.

Dalam hati saya sangat khawatir dan was-was namun saya pasrahkan semoga Allah menunjukan yang terbaik.

 Akhirnya saya hentikan mencari KTP itu dan mencoba melakukan aktifitas yang lain dan tetap menyandarkan harapan saya pada Allah. Semoga saja nanti atau besok bisa ketemu. Karena seingat saya KTP itu tidak pernah saya keluarkan dari dompet.

Keesokan harinya saya bersiap-siap berangkat ke Belopa mengikuti pengajian. Saya memeriksa isi tas saya. Buku, pensil, penghapus, pulpen dan dompet sudah lengkap. Yah isi dompet, saya harus memeriksa SIM (Surat Izin Mengendarai) dan STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan) Alhamdulillah ada. Dan....

"Waah Alhamdulillah, Ya Allah akhirnya ketemu juga" seruku sendirian karena kegirangan.

Yah KTP yang kemarin saya cari ternyata terselip sibawah SIM. Pantas saja saya tidak melihatnya kemarin.

Pernahkah sobat merasakan hal yang sama saat kehilangan. Khawatir, was-was dan perasaan hati yang gundah-gulana ketika kehilangan sesuatu dan berubah seketika menjadi bahagia dan senang saat mendapati barang itu kembali?

Dari kejadian beberapa hari lalu saya teringat dengan buku yang pernah saya baca. Tapi saya lupa judul buku dan penulisnya. Tapi beberapa tulisannya masih lekat di ingatan saya, salah satunya....

Allahpun demikian sobat. Saat hambanya melakukan dosa  kemudian bertobat kegembiraan dan rasa senangnya melebihi kita saat kehilangan sesuatu yang sangat berharga kemudian kita menemukannya. Yah.... Allah gembira saat kita bertobat dari dosa melebihi perasaan senangnya kita saat mendapati barang berharga kita kembali.

Allah sangat suka pada hamba-Nya yang bertaubat. Sampai-sampai Allah lebih bergembira dibanding seseorang yang kehilangan hewan tunggangannya yang membawa bekalnya, lalu hewan tersebut tiba-tiba datang lagi kembali.

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik Al Anshori, pembatu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah itu begitu bergembira dengan taubat hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas.” (HR. Bukhari no. 6309 dan Muslim no. 2747).

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِى ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِى وَأَنَا رَبُّكَ.أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ

“Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat pada-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas (padang pasir), kemudian hewan yang ditungganginya lari meninggalkannya. Padahal di hewan tunggangannya itu ada perbekalan makan dan minumnya. Sehingga ia pun menjadi putus asa. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon dan tidur berbaring di bawah naungannya dalam keadaan hati yang telah berputus asa. Tiba-tiba ketika ia dalam keadaan seperti itu, kendaraannya tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatnya. Karena sangat gembiranya, maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia telah salah mengucapkan karena sangat gembiranya.” (HR. Muslim)

Ada beberapa pelajaran yang bisa saya petik dari kejadian tersebut.

1. Allah begitu menyayangi hamba yang bertaubat. Sungguh Allah maha penyayang

2. Harusnya kita banyak bertaubat pada Allah.

3. Pasrah pada ketentuan Allah mendatangkan kebaikan dan keberkahan. Karena laki-laki yang dikisahkan dalam hadits di atas telah berputus asa dari hilangnya hewan tunggangannya, lantas Allah pun mengembalikan hewan tunggangannya.

4. Banyak-banyaklah kita mengintrospeksi diri.

Semoga bermanfaat

#30DWC
#Day8

Bingung

Sumpah

Malam ini saya bingun mau menulis tentang apa. Seriuus

Padahal saya sudah niatkan untuk menulis dipagi hari setelah Dzikir pagi. Tapi lagi-lagi saya teralihkan mengerjakan sesuatu yang lain

Saya mandi lalu shalat dhuha dan lanjut menghafal. Setelah menghafal saya coba membaca buku tetang motivasi karena saya ingat, tanggal 20 adalah tugas saya mengisi materi lewat online dalam sebuah group kepenulisan yang saya ikuti sekarang. Materi yang akan saya bawakan judulnya "Motivasi Menulis".

Saya memang tidak terlalu sibuk keluar hari ini, jadi saya ada waktu membaca dipagi hari. Dan kebetulan saya memang sekarang adalah pengangguran. Yah maka jadilah hidup saya sekarang bergelantungan.... eh emang kelelawar bergantungan.

Tapi tenang saja. Saya masih berusaha agar impian saya bisa terwujud. Semoga suatu hari akan termujud. Saya baru saja memulainya. Eh kembali ke leptop.

Masalahnya adalah setelah saya membaca, saya mendapat ide yang kemudian saya tuangkan dalam draft, kemudian berkata "Nanti saya lanjut lagi" kebetulan saya ingin keluar.

Dan akhirnya, sampailah saya ditempat pencucian motor. Lalu saya membuka handphone....tapi ternyata lowbet dan akhirnya saya tidak bisa melanjutkan tulisan saya yang belum selesai.

Untungnya ada koran Palopo Pos yang bisa menghilangkan kejenuhan saya menunggu motor saya gilirannya dicuci.

Saat membaca koran itupun saya menemukan ide. Karena saya kebetulan membawa buku catatan dan pulpen, cepat-cepat saya mencatat ide yang ada difikiran saya. Takut kalau-kalau ide dalam kepala saya menguap karena udara yang begitu panas siang ini.

Motor selesai dicuci, waktu dzuhurpun sudah tiba, saya beraktifitas diluar sampai sore. Malamnya bercengkrama denga  teman dan melanjutkan belajar lewat online dan akhirnya tulisan pun tak kelar.

Jadilah ide saya sia-sia saja. Dan bingungpun melanda, mau menulis apa gerangan. Sementara waktu setor tulisan sudah deadline.

Akhirnya, Just do it

Menulis saja. Intinya biasakan menulis.

Sebenarnya tadi sudah terbersit ingin bolos nulis saja. Tapi hati kecil saya tidak mengizinkan, karena sekali kita melakukan sesuatu yang tidak baik. Maka pastikan akan ada ketidak baikan setelahnya.

Menulislah
Agar terbiasa
Jangan lewati sehari tanpa menulis
Karena akan berdampak pada kebiasaan

Saya berharap semangat menulis saya setahun lalu bisa kembali setelah 30 Days Writing Challenge ini.

#30DWC
#Days7
#Squad9


Selasa, 17 Oktober 2017

Memanfaatkan Momentum

Rebutlah momentum yang ada. lakukan tindakan dari sekarang. Entah itu kita sudah tua ataupun masih muda. Siapapun itu ambillah momentum perubahan dari sekarang. Ini ada kaitannya dengan tulisan saya sebelumbya dengan judul Jangan Tunggu Tua. Namun kali ini penjelasannya lebih kepada waktu, InshaAllah.

Kita mungkin familiar dengan lirik lagu ini

"Bila waktu telah memanggil
Teman sejati tinggalah amal
Bila waktu telah berhenti
Teman sejati tinggalah sepi" [Opick-Bila Waktu]

Apa hubungannya dengan memanfaatkan waktu. Karena sejatinya waktu itu sangat cepat berlalu, dan tidak akan bisa terulang kembali. Orang-orang yang proaktiflah yang mampu mengambil momentum yang ada dan mengubahnya menjadi sebuah prestasi, tentunya setelah dibekali ilmu dan iman yang kuat.

Karena kita telah didahului Ukasyah masuk surga. Manfaatkan momentum yang ada. Sebagaimana Ukasyah.

Tahukah kalian mengapa Ukasyah dijamin masuk surga? Karena ia mampu merebut dan mempergunakan momentum yang ditawatkan nabi. Diriwayatkan dalam sebuah hadist yang panjang bahwa suatu hari nabi pernah memaparkan profil manusia penghuni surga.

Ketika itu sahabat mulai kasat-kusut karena mendapat kabar itu, mereka menduga-duga siapakah kiranya yang digambarkan rosulullah.

Ketika itu nabi bertanya kepada para sahabat "Apa yang kalian bicarakan?" Maka setelah mereka memberitahukan, Nabi SAW bersabda,

"Mereka adalah orang-orang yang tudak melakukan ruqyah, tidak meminta ruqyah, tidak meramal yang buruk-buruk dan kepada robnya mereka bertawakkal."

Maka tahukah siapa yang paling gesit? Ya itulah Ukhasyah, ia bangkit dan berkata "berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku golongan mereka." Beliau bersabda " Engkau termasuk golongan mereka"

Kemudian ada lelaki lain yang bangkit dan berdiri kemudian mengulang perkataan Ukasyah. Lalu beliau menjawab "Engkau telah didahului Ukhasyah"

Yah itulah momentum, ia cepat berlalu dan sangat cepat berlalu. Fastabiqul khairat, berlomba meraih kebaikan.

Merebut momentum untuk melakukan perbaikan. menambah aktitas positif dan bermanfaat. Karena momentum itu tidak akan terulang

#30DWC
#Squad9
#Days7
#MuslimahPenaPeradaban

Minggu, 15 Oktober 2017

Menyerah

Memasuki hari ke enam. Tantangan agar bisa bertahan untuk terus menulis dalam group 30DWC membuatku ingin menyerah saja.

Kadang ketawa sendiri melihat tingkah ibu jariku, sudah ngetik dua paragraf eh malah tekan tombol delete, jadilah tulisannya bersih dan mulai lagi dari awal. Kadang setelah menulis tiga paragraf, buka dokumen baru lagi....huuft

Banyak alasan kenapa rasa ingin menyerah itu selalu timbul. Pertama, tulisan teman-teman jauh lebih baik dari diriku yang bisa dibilang Aku anak bawang yang baru lahir kemarin sore. Kedua, kadang Aku merasa kehilangan ide.

"kengapa kamu kadang kehilangan ide?" "kengapa yang lain bisa tetap maju sementara dirimu ingin mundur?" Itulah yang kadang muncul ketika semangat ini mulai menurun. Smoga saja tidak menurun sampai tujuh turunan....eh bahas apaan sih

Jangan berkecil hati jika ingin maju dan terus berkembang. Jika sudah muncul rasa-rasa ingin menyerah dan waktu injury time makin bersahabat denganmu ketika menulis. Maka segerahlah siram dirimu yang layu denga  air motivasi agar tidak terlanjur layu dan mengering.

1. Just do it

Kamu cukup hanya lakukan saja. Masalah bagus dan tidak bagus, dibaca atau tidak dibaca, itu urusan belakang.

Kalau memang tidak bagus, ingat kau adalah pembelajar, tak ada yang praktis, mie instan aja harus di rebus dulu baru bisa dimakan.

Ingat nasihat Ali bin Abhi Thalib "Orang yang tidak pernah merasakan pahitnya perjuangan, maka ia tidak akan merasakan manisnya kebahagiaan"

Just do it (cukup lakukan saja) karena yang kau ingin bangun adalah habist.

2. Ingat kembali motivasimu saat ingin mulai menulis

_Jika kau menulis untuk terlihat lebih baik dan lebih bagus maka kau tak usah menulis, tujuanmu menulis hanya agar bisa memberi manfaat kepada orang banyak lewat penamu, bukan agar terlihat bagus dan terkenal

Ingat pepatah orang Arab " Jika tujuanmu untuk terkenal, kencingi saja sumur Zam-zam" maka pasti kau akan terkenal.

Kembalilah menulis sesuatu yang bermanfaat, bukan apa yang kau inginkan. Cukup lakukan saja.

Imam Al Ghazali pernah berkata "Orang yang cerdas, alim dan mengerti akan selalu melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang hanya melakukan sesuatu yang di inginkan.

Keep Istiqomah
#30DWC
#Squad9
#Days6

JANGAN TUNGGU TUA

Zaman now seperti sekarang ini ( ya iyalah, now kan sekarang buu, hehe lupakan) istilah dan motto anak muda sudah semakin ngalor ngidul

Dari motto "Hiduplah seperti air yang mengalir, dimana arus membawanya maka disitulah engkau bermuara" asyiik bener yah hidupnya. Untung aja kalau mengerti maksud dari pepatah tersebut , lah kalau enggak kan kasian.

Sudah motto hidupnya ngelantur artinyapun tidak dimengerti. Maka jadilah pemudah yang harusnya diusia mudanya punya mimpi yang besar, malah jadinya hidupnya tidak ada tujuan seperti air yang mengalir, kalau sungai membawanya ke kali maka pastilah hidupnya ke kali. Kalau arus sungai membawanya ke sungai yang kotor maka disitulah ia akan berlabuh.

Ada lagi yang tidak kalah nge hitznya, motto yang satu ini selalu kita dengar "Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk syurga" whiiits keren bukan? Lah siapa yang tidak menginginkan, mudanya enak-enak, santai kayak dibantai....eh maksudnya di pantai, mudanya edem tuanya lebih ayem terus matinya makin adem ayem. Siapa yang tidak mau kan yah?

Tapi pertanyaanya, "apa iya itu bisa terjadi?"

Jawabnya "Tidur aja dulu trus mimpi!" eh tau-taunya bangun ternyata yang dihadapinya adalah dunia yang nyata.

Pemuda yang dijadikan sebagai harapan penerus perjuangan bangsa, agama dan terlebih jadi harapan orang tua, tergerus dengan pergaulan yang tidak ada arah, kesenangan semata yang ada dalam benak tanpa memikirkan dampak bagi masa depannya.

Kaula muda saat ini terlalu banyak bermimpi tentang kehidupan yang nyaman dan enak tanpa mau berusaha. Dengan dalih masih muda, orang tuanya kaya, waktu masih panjang, jalani hidup apa adanya. Jadilah mereka pemudah yang hidupnya sia-sia dan bisa dipastikan masa depannya akan hancur.

Mengapa saya katakan hancur.
Coba Anda bayar saya....eh maksudnya coba kita bayangkan, kehidupan yang masa mudanya hanya untuk foya-foya tanpa memikirkan masa depan dihari depannya nanti

Maka kemungkinan besar hal-hal berikut akan menimpa orang-orang seperti di atas

Pertama: Kaget. Mereka orang-orang yang masa mudanya tidak sadar-sadar sampai usianya sudah semakin tua, makan akan kaget karena ternyata waktu terus berputar dan kini ia menjadi semakin berusia.

Kedua: Ketika berkeluarga, keluarganya tidak bahagia dan jarang bercanda riang dan tertawa lepas bersama sang istri, ini sudah banyak fakta real di lapangan.

Suami tidak punya bekal bagaimana mendidik istri, bagaimana berlaku baik terhadap istri, apa hak dan kewajiban suami terhadap istri, tak ada bekal sebelumnya. Itu yang menyebabkan emosi selalu meninggi, hal itu terjadi karena usia mudanya habis untuk bersenang-senang, waktunya tidak digunakan untuk belajar bagaimana menjadi imam yang baik dalam keluarga.

Tiga: Hidup selalu tertekan. Beras mahal, anak butuh seragam sekolah, butuh jajan, ebutuhan dapur semakin berkurang. Keluarga butuh rumah. Anak butuh kendaraan ke sekolah dan masih banyak lagi tekanan hidup dimasa-masa seperti ini.

Tapi karena waktu muda digunakan bersantai dan happy fun. Maka jadilah sebelum masa tuapun sudah sengsara hidupnya.

Empat: Penyesalan yang terlambat. Orang-orang selalu berkata bahwa "penyesalan itu selalu dibelakang". Saat kita tidak membuat perencanaan matang di usia muda, terlebih jika waktu mudanya yang produktif hanya digunakan untuk bersantai maka ia akan menyesal.

Menyesal, ketika menyadari hidupnya yang sudah semakin menua, namun bebannya semakin bertambah, sementra tenaganya tak lagi sekuat dulu. Maka yang tersisa hanya penyesalan

Kamu yang merasa masih muda, sekali lagi, yang merasa yah.... siapa saja.

Isilah hari-harimu dengan sesuatu yang positif, bisa dengan ikut ber organisasi, ikut dalam lembaga dakwah. Sibukkanlah dirimu dengan membaca, belajar, bekerja dan berdakwah.

Karena usia muda tidak akan kembali. Jangan tunggu tua untuk menjadi pribadi yang besar.

#YoungFaith
#30DWC
#Squad9
#Days5
#MuslimahPenaPeradaban

Sabtu, 14 Oktober 2017

Jangan Sibuk Baper

Hari ini saya menghadiri acara pernikahan teman saya.

Saya memasuki ruangan dimana pasangan pengantin duduk bersanding.

Saya mengambil posisi duduk di pojok ruangan sebelah kanan dimana kursi tamu wanita disiapkan.

Dari kejauhan saya memandangi teman dekat saya sewaktu SMA, senyumnya selalu tersungging, ia tampak bahagia, betapa tidak ia telah menemukan pendamping hidupnya.

Namun ada pemandangan yang berbeda di atas pelaminan, dari sekian teman saya yang menikah memang hampir kejadian ini selalu saya temukan. Dari balik kelopak mata sang Ayah terlihat embun-embun bening dipelupuk matanya, ia berusaha menahan air mata yang akan jatuh di pipinya itu, itu tampak membuatnya sesak di dada.

Ia berusah sekuat mungkin menyembunyikan kesedihan itu, namun tidak lama kemudian ia akhirnya menunduk dan mengangkat tangan untuk menyeka bulir-bulir air mata di pipinya. Entah hanya saya yang menyaksikan itu atau orang disekitar saya juga melihat.

Entah apa yang ada dikepala seorang ayah ketika melihat anak gadisnya menikah.

Ada dua kemungkinan yang membuat sang Ayah meneteskan air mata dihari bahagia putrinya.

Pertama, bisa jadi air matanya adalah tanda kebahagiaanya dan kedua, bisa jadi  ia menangis bersedih khawatir apakah lelaki yang mempersunting anaknya bisa menyayangi anak gadisnya sebagaimana ia menyayangi anaknya

Saya teringat sebuah tulisan oleh Ustadz Felix

"sayangnya ayah pada putrinya itu sepenuh jiwa tak mampu dilukiskan ataupun diwakilkan kata-kata"

bagi ayah, senyum putrinya itu penghapus murka dan letih lelah airmata putrinya jadi siksa baginya dan sedih putrinya jadi musibah

"seorang ayah punya sejuta impian untuk putrinya walau harus mengorbankan dirinya dia selalu rela

Saat putrinya ia nikahkan, dipandanginya putrinya dalam-dalam dengan tatapan mengharu biru terbayang jelas semua kenangan mulai putrinya lahir hingga saat itu

segala bentak dan tawa, segala bahagia dan kecewa, semuanya  mendadak terpampang jelas, melekat tak mau lepas, semuanya

bertahun-tahun ingatan itu menjadi satu, mendadak ayah sesalkan  tentang apa yang tak sempat ia lakukan, tentang apa yang ia lewatkan

dan saat itu dia menyadari dalam hidupnya sampai masa ini tak ada pelepasan yang lebih berat melebihi hari ini, saat anak gadisnya telah bersanding

mungkin saja seorang ayah takkan pernah siap untuk menikahkan anaknya dan tamkan pernah siap untuk melepaskan bagian dari darah juga jiwanya

bila bukan karena perintah Allah dan sunnah Rasulullah tentu selama-lamanya ia ingin bersama putrinya

tapi putrinya juga harus bercerita, harus berkeluarga dan melaksanakan ajaran ayahnya dalam realita nyata

kini tangan lelaki lain yang diridhai putrinya sedang ia genggam dan hati sang ayah masih gundah, matanya terpejam

yang ayahnya pikirkan "akankah lelaki ini tepat bagi putriku? akankah ia bisa menjaga putriku sebagaimana aku?"

yang ayahnya pikirkan "akankah lelaki ini memperlakukan putriku seperti aku? menyayanginya tanpa syarat, mengajarinya tanpa penat?"

yang ayahnya pikirkan "akankah lelaki ini menyayangi putriku seperti aku? rela berkorban seperti aku pada putriku?"

yang ayahnya pikirkan "adakah lelaki ini mencintai Allah diatas segala-galanya? adakah dia mampu mengawal putriku menuju surga Allah?"

seribu tanya berlanjut, dan mungkin tiada jawaban sebagaimana kasih seorang ayah pada putrinya, yang mungkin takkan pernah terjelaskan

bila ada yang paling berhak untuk dimintai izin akan anaknya  maka yakinlah itu jelas ayahnya, pasti ayahnya!"

Itulah sepenggal isi hati dari seorang ayah.

Dalam kebahagiaanya ia juga selipkan keresahan atas diri kita yang sudah mulai berkeluarga sekalipun.

Yang saya ingin kita semua garis bawahi

Makanya bagi para jomblo dan jomblowati jangan hanya sibuk baper (bawa perasaan)
Ketika teman SD sudah banyak yang menikah
Ketika teman SMP sudah melepas lanjangnya satu per satu
Teman SMA sudah banyak yang punya anak, bahkan sahabat seperjuangan sudah mendahului kita dalam hal pernikahan, ehh kita malah jadi laper.... eh maksudnya Baper...

Yuuk jangan sibuk bapar.

Sibukkanlah dirimu dalam taat
Sibukkan dalam perbaikan
Sibukkan dalam berbakti kepada Ayah dan Bunda
Karen mereka menghawatirkan kita dalam tangis dan senyumnya.

Kau mungkin belum dipertemukan dengan pasangan hidupmu
Karena Allah memberi waktu untuk melejitkan diri, dan menemani orang tuamu lebih sering.

Jangan sibuk baper (Bawa perasaan)
Sibuklah dalam taat dan bakti kepada orang tua

Salam Jofisah

#30DWC
#Day4
#Squad9
#MuslimahPenaPeradaban

Jumat, 13 Oktober 2017

Kekasihku Cacat bag3

Ini kali ketiganya Musafir pulang ke kampungnya untuk menengok ibunya, Hartina dan kakaknya.

Setiap tahun Musafir pulang untuk hanya melepas rindu kepada keluarga dan kampung halaman juga sahabatnya.

"Assalamualaikum, hei Musafir" seru seseorang dari depan teras rumah tempat Musafir duduk.

"Waalaikumussalam, silahkan duduk Amir, sudah lama kita tidak bertemu kawan," Jawab Musafir disertai senyum.

"Bagaimana kabar kandungan istrimu? Dengar-dengar dari kak Tiya, istrimu sekarang tengah hamil yah?" Musafir mebuka pembicaraan

"Alhamdulillah Fir, sebentar lagi Aku akan jadi Bapak seperti kawan kita Ali," mata Amir berbinar-binar menceritakan kehamilan istrinya. Ia tamoak bahagia.

"Ada kabar baik juga dari Ali, sekarang ia di promosikan jadi kepala sekolah di tempatnya mengajar!" sambung Amir

"Alhamdulillah, dia pasti punya prestasi sehingga diusulkan jadi kepala sekolah, padahal ia masih terbilang muda" Jawab Amir

"Dengar-dengar Ali memang sangat disiplin dan rajin masuk ke sekolah, oantas saja ia mendapat itu semua," Jelas Amir

"Teman kita satu ini sangat baik dalam hal ini, sudah punya istri dan anak, juga kerjaan yang bagus hehe,"

Bersambung....

Mendidik Anak Usia Dini

Terkadang saya mendengar perkataan orang tua yang mengatakan otak anak saya belum siap menempuh pendidikan dan belajar. Padahal ...