Sabtu, 14 Oktober 2017

Jangan Sibuk Baper

Hari ini saya menghadiri acara pernikahan teman saya.

Saya memasuki ruangan dimana pasangan pengantin duduk bersanding.

Saya mengambil posisi duduk di pojok ruangan sebelah kanan dimana kursi tamu wanita disiapkan.

Dari kejauhan saya memandangi teman dekat saya sewaktu SMA, senyumnya selalu tersungging, ia tampak bahagia, betapa tidak ia telah menemukan pendamping hidupnya.

Namun ada pemandangan yang berbeda di atas pelaminan, dari sekian teman saya yang menikah memang hampir kejadian ini selalu saya temukan. Dari balik kelopak mata sang Ayah terlihat embun-embun bening dipelupuk matanya, ia berusaha menahan air mata yang akan jatuh di pipinya itu, itu tampak membuatnya sesak di dada.

Ia berusah sekuat mungkin menyembunyikan kesedihan itu, namun tidak lama kemudian ia akhirnya menunduk dan mengangkat tangan untuk menyeka bulir-bulir air mata di pipinya. Entah hanya saya yang menyaksikan itu atau orang disekitar saya juga melihat.

Entah apa yang ada dikepala seorang ayah ketika melihat anak gadisnya menikah.

Ada dua kemungkinan yang membuat sang Ayah meneteskan air mata dihari bahagia putrinya.

Pertama, bisa jadi air matanya adalah tanda kebahagiaanya dan kedua, bisa jadi  ia menangis bersedih khawatir apakah lelaki yang mempersunting anaknya bisa menyayangi anak gadisnya sebagaimana ia menyayangi anaknya

Saya teringat sebuah tulisan oleh Ustadz Felix

"sayangnya ayah pada putrinya itu sepenuh jiwa tak mampu dilukiskan ataupun diwakilkan kata-kata"

bagi ayah, senyum putrinya itu penghapus murka dan letih lelah airmata putrinya jadi siksa baginya dan sedih putrinya jadi musibah

"seorang ayah punya sejuta impian untuk putrinya walau harus mengorbankan dirinya dia selalu rela

Saat putrinya ia nikahkan, dipandanginya putrinya dalam-dalam dengan tatapan mengharu biru terbayang jelas semua kenangan mulai putrinya lahir hingga saat itu

segala bentak dan tawa, segala bahagia dan kecewa, semuanya  mendadak terpampang jelas, melekat tak mau lepas, semuanya

bertahun-tahun ingatan itu menjadi satu, mendadak ayah sesalkan  tentang apa yang tak sempat ia lakukan, tentang apa yang ia lewatkan

dan saat itu dia menyadari dalam hidupnya sampai masa ini tak ada pelepasan yang lebih berat melebihi hari ini, saat anak gadisnya telah bersanding

mungkin saja seorang ayah takkan pernah siap untuk menikahkan anaknya dan tamkan pernah siap untuk melepaskan bagian dari darah juga jiwanya

bila bukan karena perintah Allah dan sunnah Rasulullah tentu selama-lamanya ia ingin bersama putrinya

tapi putrinya juga harus bercerita, harus berkeluarga dan melaksanakan ajaran ayahnya dalam realita nyata

kini tangan lelaki lain yang diridhai putrinya sedang ia genggam dan hati sang ayah masih gundah, matanya terpejam

yang ayahnya pikirkan "akankah lelaki ini tepat bagi putriku? akankah ia bisa menjaga putriku sebagaimana aku?"

yang ayahnya pikirkan "akankah lelaki ini memperlakukan putriku seperti aku? menyayanginya tanpa syarat, mengajarinya tanpa penat?"

yang ayahnya pikirkan "akankah lelaki ini menyayangi putriku seperti aku? rela berkorban seperti aku pada putriku?"

yang ayahnya pikirkan "adakah lelaki ini mencintai Allah diatas segala-galanya? adakah dia mampu mengawal putriku menuju surga Allah?"

seribu tanya berlanjut, dan mungkin tiada jawaban sebagaimana kasih seorang ayah pada putrinya, yang mungkin takkan pernah terjelaskan

bila ada yang paling berhak untuk dimintai izin akan anaknya  maka yakinlah itu jelas ayahnya, pasti ayahnya!"

Itulah sepenggal isi hati dari seorang ayah.

Dalam kebahagiaanya ia juga selipkan keresahan atas diri kita yang sudah mulai berkeluarga sekalipun.

Yang saya ingin kita semua garis bawahi

Makanya bagi para jomblo dan jomblowati jangan hanya sibuk baper (bawa perasaan)
Ketika teman SD sudah banyak yang menikah
Ketika teman SMP sudah melepas lanjangnya satu per satu
Teman SMA sudah banyak yang punya anak, bahkan sahabat seperjuangan sudah mendahului kita dalam hal pernikahan, ehh kita malah jadi laper.... eh maksudnya Baper...

Yuuk jangan sibuk bapar.

Sibukkanlah dirimu dalam taat
Sibukkan dalam perbaikan
Sibukkan dalam berbakti kepada Ayah dan Bunda
Karen mereka menghawatirkan kita dalam tangis dan senyumnya.

Kau mungkin belum dipertemukan dengan pasangan hidupmu
Karena Allah memberi waktu untuk melejitkan diri, dan menemani orang tuamu lebih sering.

Jangan sibuk baper (Bawa perasaan)
Sibuklah dalam taat dan bakti kepada orang tua

Salam Jofisah

#30DWC
#Day4
#Squad9
#MuslimahPenaPeradaban

Jumat, 13 Oktober 2017

Kekasihku Cacat bag3

Ini kali ketiganya Musafir pulang ke kampungnya untuk menengok ibunya, Hartina dan kakaknya.

Setiap tahun Musafir pulang untuk hanya melepas rindu kepada keluarga dan kampung halaman juga sahabatnya.

"Assalamualaikum, hei Musafir" seru seseorang dari depan teras rumah tempat Musafir duduk.

"Waalaikumussalam, silahkan duduk Amir, sudah lama kita tidak bertemu kawan," Jawab Musafir disertai senyum.

"Bagaimana kabar kandungan istrimu? Dengar-dengar dari kak Tiya, istrimu sekarang tengah hamil yah?" Musafir mebuka pembicaraan

"Alhamdulillah Fir, sebentar lagi Aku akan jadi Bapak seperti kawan kita Ali," mata Amir berbinar-binar menceritakan kehamilan istrinya. Ia tamoak bahagia.

"Ada kabar baik juga dari Ali, sekarang ia di promosikan jadi kepala sekolah di tempatnya mengajar!" sambung Amir

"Alhamdulillah, dia pasti punya prestasi sehingga diusulkan jadi kepala sekolah, padahal ia masih terbilang muda" Jawab Amir

"Dengar-dengar Ali memang sangat disiplin dan rajin masuk ke sekolah, oantas saja ia mendapat itu semua," Jelas Amir

"Teman kita satu ini sangat baik dalam hal ini, sudah punya istri dan anak, juga kerjaan yang bagus hehe,"

Bersambung....

Jumat, 28 April 2017

InsyaAllah atau InshaAllah












Ding...dung...ding....dung
Hari masih menunjukkan jam enam pagi ponsel di dekat saya berbunyi, sepucuk surat, eh maksudnya sebuah pesan singkat yang masuk di Whatsapp
membuat saya melirik ke arah ponsel itu.
Biasanya waktu subuh di pondok masih digunakan untuk menghafal Qur'an dan saling setor hafalan. Saya hanya melirik kemudian melanjutkan pekerjaan saya.

Setelah saya selesai mengerjakan pekerjaan, saya membuka ponsel dan segera membuka pesan yang ada di Whatsapp. Ternyata Whatsapp dari salah satu sahabat saya.

" Assalamualaikum, InsyaAllah atau Insha Allah?, Mana yang benar ukhti?." 

Tanyanya dengan singkat.

Pertanyaan ini sering kita dengar dan faktanya banyak orang yang mempertanyaklan penggunaan kata  InsyaAllah ini. Penulisan kata InsyaAllah kadang menimbulkan perdebatan dan tanda tanya diantara kebanyakan orang yang tidak mengetahui.

Sebenarnya jika kita menulis pakai "InsyaAllah", atau "In Syaa Allah" atau "In Shaa Allah" cara membacanya sama saja begitupula dengan artinya sama saja, yakni "Jika Allah menghendaki" tidak ada arti lainnya. 


  
Dalam bahasa arab kata "Insya Allah" ditulis dengan   
                
                            إِنْ شَاءَ اللَّهُ                       
Yang artinya "Jika Allah menghendaki

Sedangkan dalam penulisan dalam bahasa indonesia huruf
  ditulisnya dengan tulisan syin.

Jika menggunakan literasi,
sebenarnya transliterasi tidak bisa dijadikan acuan benar dan salahnya tulisan tersebut. Karena tidak ada aturan yang disepakati di sana. 

Semua kembali kepada selera penulis. Yang lebih penting adalah bagaimana cara pengucapannya yang tepat.
Karena penulisan dengan menggunakan bahasa indonesia hanya selah satu cara untuk mempermudah dalam pengetikan, seperti dalam surat menyurat atau pesan singkat melalui Handphone yang tidak mendukung 
pengetikan bahasa arab.

Jadi ketika kita menulis memakai “InsyaAllah”, atau “In Syaa Allah”, atau “In Shaa Allah” bacanya sama saja dan artinya sama saja, yaitu “jika Allah menghendaki”, jadi tidak ada arti lainnya.

Yang paling bagus, ya udah, nulis dan ngomong pake bahasa Arab saja sekalian, lebih aman hehe..

Sehingga tidak mengubah makna.

Wallahu 'Alam bishawab.





Selasa, 25 April 2017

TAK DITUNDA DAN TIDAK DIPERCEPAT

Tiba-tiba saja suaranya terdengar menjauh dan volume suaranya mengecil,
Awalnya laki-laki itu melantunkan ayat suci Al-Quran surah Mulk dengan
indahnya.

Di awal ayat, suara itu kedengaran baik-baik saja,
hadirin pun begitu khusyu mendegarkan lantunan ayat suci Al-Quran yang begitu merdu
dari mulut seorang laki-laki yang dikenal dengan pangilan ustdz Jakfar Abdurrahman itu.


Namun siapa yang menyangka,
ustdz yang awalnya kelihatan baik-baik saja dan begitu menghayati bacaanya,
memasuki ayat ke tiga suaranya semakin mengecil sambil menutup mata berusaha melafaskan bacaanya, namun perlahan suaranya menjauh, microfon ditangannya tiba-tiba terjatuh.
 Badannya roboh dan menghembuskan nafas terakhir.

Video yang berjudul "detik-detik qori meninggal saat baca quran" yang berdurasi  4 menit itu segera saya tutup. Dada ini terasa sesak. berusaha memendung butiran bening yang jatuh dari pelupuk mata ini .

Betapa tidak, kematian demi kematian mengingatkan diri ini akan giliran yang entah kapan menjemput.






kematian tidak pernah menunggu seseorang bertaubat
kematian tidak memandang tua atau muda
kematian tidak pernah bisa dipercepat atau diperlambat waktunya
jika waktunya telah tiba
ia datang begitu saja

baik ditengah kesunyian maupun ditengah keramaian
baik saat kita siap maupun belum siap sekalipun

ya Allah trima kasih engkau memberi kami waktu untuk banyak belajar
dan memberi kami kesempatan untuk memperbaiki kesalahan kami

semoga kami menjadi orangh yangt senantiasa bersyukur atas nikmatmu
dan mengilhamkan kepada kami untuk senantiasa memperbaiki diri...

Betapa beruntung orang-orang yang diwafatkan dalam kebaikan,
semoga mereka khusnul khotimah.

benarlah kata sebuah pepatah
"akhir hidup seseorang berdasarkan kebiasaanya di dunia"

bagaimanakah akhir hidup kita, kita tak ada yang tau
namun tak ada salahnya kita meminta untuk di istiqomahkan dalam kebaikan
dan diakhir hidup mendapatkan khusnul khatimah.

                                                             (gambar: dpunik.com)

Rabu, 04 Januari 2017

Kekasihku Cacat2

....

Musafir melangkah ke salah satu ruangan kamar tepat didepan kamar Kak Tiya, sambil membawa semangkuk bubur dan segelas air, setelah sampai di depan pintu itu, ia dekatkan telinga ke pintu

Tok,tok,tok....

"Buu, ini Musafir Bu, Aku buka pintu yah Bu!" Suaranya begitu lembut kepada Hartina, ibunya.

Sekalipun ibunya sekarang tidak memperdulikan apa yang ia katakan juga tak menjawab apapun yang Musafir tanyakan, Musafir selalu hormat dan setia merawat ibunya.

” …Hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

Salah satu ayat Al Quran Al -Isra Ayat 23 yang pernah disampaikan guru mengaji Musafir tentang kewajiban berbakti dan bersikap baik kepada kedua orang tua, selalu teringat olehnya dan berusaha ia amalkan.

"Bu, ini bubur buatan kak Tiya, dimakan yah! dia tidak sempat membawakannya pada Ibu karena harus berangkat kerja, takut nanti Kak Tiya akan telat" Musafir menyuapi ibunya yang hanya terdiam sambil berusaha mengobrol layaknya kepada orang normal.

Matahari masih malu-malu menampakkan cahayanya dan embunpun masih bermanja dengan dedaunan, namun Musafir telah siap di depan pintu.

Shalat, beres-beres tempat tidur dan menyuapi ibunya telah ia lakukan. Seragam putih abu-abu serta ransel biru tua, tepatnya tas ransel hitam yang sudah memudar setiap hari terpapar matahari itu telah gagah terpasang dipundaknya pertanda Ia telah siap berangkat ke sekolah

Musafir menuju rumah sahabatnya, Amir dan Gali. Mereka selalu berangkat bertiga menuju sekolah.

Musafir terlahir dengan kondisi berbeda dengan teman-temannya yang lain. Kaki kirinya lebih lecil dari kakinya yang kanan, saat ia mengenakan seragam sekolah, paha sebelah kirinya terlihat tak berdaging, itu karena ukuran tulang paha sebelah kirinya memang lebih kecil, Musafir cacat sejak ia lahir.

Namun ke dua sahabatnya tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Bahkan jika berangkat sekolah sesekali  Ali dan Amir mengendong Musafir saat lelah menggunakan tongkat, terkadang Amir menggendong Musafir dan tugas Ali memegang tas Musafir dan Amir.

Salah satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri bagi Musafir adalah dipertemukan teman sebaik mereka.

Bersambung....

#30DCW day 2
#Squad9


Kamis, 27 Oktober 2016

Lelaki itu


Langit kota palopo tiba-tiba mendung, saat itu juga suara air diatas genteng mulai terdengar riang . Sore itu hujan turun membasahi kota palopo. Langit yang cerah sejak pagi berganti awan kelabu. Namun dibalik kelabunya tuhan sedang menyirami kota kecil itu dengan rahmatnya.

Saya dan sahabat saya, masih sibuk mengemasi barang-barang. Rencananya kami akan pulang ke kampung masing-masing. Sore itu kami berencana pulang bersamaan sekalipun kami tidak satu jalur. saya ke Selatan sementara Lilis di Utara.

"Allahu Akbar, Allahu Akbar..." Suara adzan dari mesjid yang hanya berjarak dua ratus meter dari rumah kontrakan kami mulai berkumandang.

"Wah sudah adzan, dan hujan sudah mulai reda!" Tukas saya, sambil melihat keluar jendela.

"Setelah beres, ayo kita shalat ashar berjamaah dan langsung berangkat agar tidak kemalaman"

Beberapa saat setelah selesai shalat, Lilis menyampaikan tidak jadi pulang sore ini, ia baru ingat besok harus bertemu dengan dosen perihal penelitian tugas akhirnya. Lilis kemudian membantu saya mengangkat barang keatas motor.

Saya langsung mengangguk, berusaha memahami masalahnya. 

"Ayo ikut pulang kerumah saja!" Pintaku menawari Lilis.

"Hehe, tidak, kapan-kapan lagi saja, besok saya masih mau ke kampus soalnya" Jawabnya sambil tersenyum.

Setelah bersalaman dan pamit, saya langsung meluncur ke arah selatan, mengendarai motor Beat berwarna biru. Satu kardus di depan yang sudah terbungkus rapi dengan kantong palstik, juga tas ransel biru dipundak, saya juga telah memakai jas hujan yang kebetulan berwarna biru, helm biru diatas kepala saya juga sudah siap.

"Bismillahirrahmanirrahim, lahaula wala kuata illa billah"

Motor itu melaju dengan kecepatan empat puluh kilo meter perjam. Kecepatan yang sedang. 

Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, kendaraan disamping kiri dan kanan sperti sedang beradu. Sebenarnya mereka takut kehujanan. 

Saya menunduk melihat bawahan baju saya, basah kuyup seperti habis berenang. Sayapun mencari tempat berteduh, takutnya jika melanjutkan perjalanan, buku dan baju didalam tas akan ikut basah.

Derasnya hujan diikuti angin kencang membuat jalanan hampir tidak jelas saat mengendarai. Dengan pelan dan sangat hati-hati, saya memingggirkan motor dan mencari tempat untuk berteduh.

Setelah mendapat tempat yang pas, sayapun memarkir motor didepan rumah warga yang cukup luas dan berteduh. Kebetulan rumah itu sudah tertutup, sepertinya sejak gerimis tadi sudah sengaja ditutup.

Sudah satu setengah jam sudah saya duduk menunggu hujan reda. Tiba-tiba motor dari arah kanan singgah ditempat yang sama.
Lelaki itu turun dari motor sambil memaki.

"Waduh semuanya basah, di kantor tadi saya mengetik, dan hanya gerimis di luar, setelah saya dijalan, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya" curhat Lelaki yang kira-kira berumur dua puluh tujuh itu.

Saya hanya diam mendengar sambil menarik bibir berusaha senyum dan tetap mebelakangi Lelaki itu.

Suasana seketika senyap, sekalipun saya agak takut, tapi ketakutan itu sesikit berkurang setelah mendengar keramahannya dan juga wajahnya yang bersahabat. Warung disamping toko yang kami tempati berteduh juga masih buka. Kalaupun ada apa-apa saya bisa berteriak dan pasti akan terdengar oleh orang yang berada didalam sana. saya mengadu dalam hati.

"Kenapaki kita tidak basah?" Tanya lelaki itu memecah kesunyian. Ia tampak keheranan.

"Dari tadi saya disini, sekitar jam empat" saya menjawab sambil mengangkat kepala memandangi hujan.

Lelaki itu banyak bertanya dan saya berusaha menjawab seadanya, tiba-tiba hujan sedikit reda. Sayapun merasa legah bisa cepat-cepat pergi dari tempat itu.
Cepat-cepat saya menghubungi Lilis.

Setelah Lilis mengangkat, saya langsung menyampaikan maksud saya menelpon.

"Lis saya tidak jadi pulang, besok pagi saja, karna sudah sangat sore kalau saya pulang, sepertinya saya akan kemalaman"  

"Oh iya, besok saja pulang" Jawab Lilis.

"Sudah redah, saya duluan" Saya pamit sambil menunduk.

"Ia hati-hatiki, licin itu jalan karna sudah hujan, pelan-pelanki saja" Jawabnya dengan senyum, saya langsung menunduk dan sibuk memakai jas hujan.

Malam itu setelah shalat magrib, saya dan Lilis makan malam di warung Panyingkul tepat di samping kampus Cokro. 

"Inimi hikmahnya , sebenarnya tadi siang dalam hatiku mau sekalika makan mie ayam, tapi tadi siang tidak sempat"  saya berujar ke Lilis sambil mengajak dia duduk di kursi paling pojok yang kebetulan kosong.

"Hehe, bisa saja" Lilis menjawab dengan senyum.


Ditulis saat perjalanan menuju halaqah 
28 Oktober 2016

Jumat, 20 Mei 2016

YUK HIJRAH

YUK HIJRAH

Oleh: Eka Trisnawati Anwar

Beberapa minggu lalu, saya dan beberapa teman akhwat mengikuti sebuah acara, Tablig Akbar yang di adakan di Islamic Center Kota Palopo.

Kebetulan sore itu, Ba'da ashar materi yang di bawakan oleh sang ustadz adalah Urgensitas Dakwah.

Tapi kali ini tulisan saya tidak memuat tentang ulasan pentingnya Dakwah, doakan dikesempatan lain.

Melihat kondisi anak-anak dibawah umur dan gadis remaja yang menjadi korban kekerasan seksual hari ini membuat banyak mata yang terbelalak.

Bibir berdecak geram dan kepala menggeleng tidak menyangka.

Serta tak sedikit lisan dan tulisan-tulisan yang ikut membahas permasalah ini, sebagai bentuk prihatin atas kondisi yang menimpa negeri muslim terbesar ini.

Negeri ini sudah darurat, itulah gelar yang pantas untuk negeri terkasih ini, iya DARURAT. Mulai dari darurat korupsi, Narkoba, LGBT, Sodomi, Pembunuhan, Mutilasi, Mucikari sampai Pemerkosaan...

saya tidak akan menyebutkan contoh kasusnya satu per satu, karna saya rasa sudah sangat jelas diberbagai tulisan yang sudah Anda baca.

Saya pada kesempatan ini hanyabingin menyampaikan bahwa
Kejadian-kejadian di atas menyita banyak perhatian dan prihatin. 

Pasalnya dari tahun ke tahun pergantian rezim tidak dapat merubah kondisi menjadi lebih baik.

Bukannya jadi lebih baik malah menambah banyak masalah.

Tentu ada yang salah dengan semua ini. Betullah kata sang Ustadz , kita maunya kebaikan, tapi usaha kita untuk kebaikan itu sangat minim dan bahkan tidak sama sekali.  Kebanyakan kita pasrah dengan peraturan2 yang ada tanpa mau kritis dan ambil pusing.

"Maunya hasil maksimal, tapi usahanya minimalis, maunya masuk syurga, tapi usahanya kesana minimalis, "  mau hidup bahagia dunia, akhirat, tapi usaha menerapkan islam dalam hidupnya tak menyeluruh. Naudzubillah...

Contoh, pemerintah menghalalkan khamer hanya sebahagian masyarakat yang protes. 

Kondom dijual bebas, tak banyak yang menggubris. 

Siswa di didik dengan tegas malah marah bukan kepalang.

Pornografi tidak ditindak dengan keras. Perzinahan (baca:pacaran) malah dianggap keren dan dibolehkan. 

Media menayangkan berbagai tayangan yang merusak otak malah dianggap biasa.

Ckck pantas saja, bagaimana tidak...? Pemerkosaan, pembunuhan, dan tindakan tak bermoral lainnya terjadi di negeri ini.. 

Pasalnya sebagian besar hanya ingin hidup baik, tapi enggan memperjuangkan dan hidup dengan aturan dari sang maha baik.

Iya yang maha baik itu Allah... syariat Islam yang di bawah oleh Rasulnya bukan aturan manusia...

"Dan apa yang dibawah oleh Rasul, maka ambillah! Dan apa yang dilarang bagimu, maka tinggalkanlah!" (QS Al-Hasyr: 7)

Rasulullah saw tidak pernah mencontohkan dan bahkan Allah SWT dengan tegas melarang perzinahan, Pornografi, minuman keras, narkoba dan semua jenis perbuatan pelanggaran dalam Islam lainnya.

Namun manusia berani menentang dan membuat hukum sendiri, menghalalkan khamer, perzinahan di tempat yang di legalkan.

Tontonan porno  dibiarkan, wanita lalu lalang berpakaian tapi telanjang.

Maka jangan  heran, jika tingkat pelecehan seksual akan meningkat dari tahun ke tahun. 

Inilah akibat jika Agama dipisahkan dari kehidupan (baca: Sekulerisme) baik  Pribadi, Keluarga, Masyarakat dan Negara.

"Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki,  dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin" (QS. Al-Maidah: 50)

Sudah saatnya kita kembali kepada Islam, melanjutkan kembali kehidupan syariah islam yang kaaffah dalam bingkai Khilafah agar kerahmatan Islam bisa kita rasakan bersama...

Dengan begitu perempuan akan mulia dan dimuliakan baik oleh pencipta begitupula oleh manusia...

Wallahu 'Alam

#Yuk Ngaji
#Yuk Hijrah
#Muslimah Pena Peradaban

Mendidik Anak Usia Dini

Terkadang saya mendengar perkataan orang tua yang mengatakan otak anak saya belum siap menempuh pendidikan dan belajar. Padahal ...