Minggu, 14 Februari 2016

Kenapa Harus ber Capek-Capek di Dunia



Malam semakin larut, setelah saya mengerjakan beberapa power point untuk seminar proposal keesokan harinya, saya merebahkan tubuh yang dari tadi kelelahan, sambil berbring saya membuka Wa  yang ada di Ekaphone saya, ( phonenya  si Semart uda saya balikin Mas Ken) hehe sekarang pake phone saya sendiri... makasih suda mengingatkan barang orang harus segera di balaikin....
Lanjut yah,...

Jari jemari saya mulai membuka grup satu per satu, mencari-cari apalagi yang hari ini grup bahas.
Salah satu grup yang bertuliskan huruf kapital “GRUP SHARE ODOLA 47” ini adalah grup untuk share masalah menghafal  Al-Qur’an, dan juga tempat curhat, bercanda bareng  dan kadang tempat berbagi video, audio dan informasi seputar dakwah...

 ada beberapa grup yang saya ikut aktif didalam salah satunya adalah grup ODOP yang di buat bang syaiha  yang membuat saya harus menulis setiap harinya, meskipun kadang saya ngutang post, tapi percayalah bang saya sangat ingin setiap hari post tulisan dan saya sangat senang bisa ada di grup ODOP ini,....
Namun malam itu saya nga berniat membuka grup ini, karena hari itu saya belum post tulisan.
Akhir-akhir ini saya banyak ngutang karena kesibukkan...

Ibu jari saya berusaha manjat-manjat layar ekaphone saya, berusaha mencari kalau-kalau saya banyak percakapan yang ketinggalan, memang sih saya jarang ikut nimbrung kalau ada percakapan karena banyaknya tugas, sekalipun tidak sibuk saya hanya menyimak percakapan mereka di grup... 

Nah,.. ibu jari saya berhenti pada saat mata saya tertuju di sebuah kiriman salah satu akhwat, karena rasa penasaran, saya pun memutar Audio tersebut...

“ Bapak ibu Rahimakumullah, hidup ini capek pak, makanya, kita pilih mau capek bagaimana, kalau kita capek karena Allah, Capek dzikir, capek ibadah, capek istighfar, capek berdakwah, capek taklim, ini capeknya ada bonusnya, hidup dan surga..."

"Tapi klau capeknya maksiat dan dosa-dosa maka bapak-ibu ujungnya berbeda...."

Suara Ustadz terdengar serak, seolah tak mapu lagi bersuara namun memakas.beliaupun kedengaran tak sanggup lagi menyampaikan, seolah ada yang mengganjal di tenggorokannya...

" Sama ketika di akhirat para penghuni neraka akan capek, capek diseret, capek dibakar, capek dibantai..."

Ketika para ulama membaca hadist-hadist gambaran neraka yang sangat dahsyat, gambaran siksa yang sangat  pedih, dan sangat perih,  sebagaimana Al-Quran Surah an-Naba ayat : 40 “ bahwa pada saat adzab didekatkan kepada mereka, mereka orang kafir berkata alangkah baiknya jika aku dahulu menjadi tanah” sangking dahsyatnya siksaan neraka itu."

" Mereka berkata ini mereka di neraka capek, tapi capeknya tidak ada gunanya, ini mereka menderita tapi penderitaannya tidak ada gunanya. Alangkah enaknya kalau capeknya di pindahkan ke dunia..." lanjut sang Ustadz.

MasyaAllah suaranya menggetarkan jiwa yang kadang lali dan kadang merasa letih dan tak jarang berkeluh kesah dalam mencari Ilmu Islam begitu juga saat berdakwah...
 
Ayo kita bercapk-capek menderita di dunia, menderita baca qur’an, menderita  bedsikir, menderita cari ilmu, mending menderita di dunia karena beribadah kepada Allah dan bahagia di akhirat, daripada capek Diakhirat yang tiada habisnya....

Ya Allah Kuatkan Hati-Hati kami dalam meniti terjalnya Hidup ini,
wahai Dzat yang  membolak-balikkan hati, tetapkan hati-hati kami 
dalam tali agamamu... Amin

Wallahu A’lam...



Pesan Simpel Bang Syaiha

Waktu terus berlalu dan sayapun sudah memiliki beberapa utang Post di grup ODOP, memang karena alasannya adalah sibuk, kadang tidur jam 2 tapi tugas belum kelar-kelar, ditambah lagi setelah beberapa hari nga most rasanya malu aja sama temen-temen ODOP.

malam itu saya memberanikan diri ngeJapri Bang Syaiha, admin ODOP,

"Assalamualaikum Bang, saya minta maaf akhir-akhir ini saya nga aktif ngODOP, akhir-akhir ini sibuk banget bang, jujur saya kewalahan sendiri ngebayar hutang, ternyata utang nulis saya suda 9 di bulan februari, minggu pertama cuma sempat ngepost sehari....  bang gimana dong bang saya kadang malu kalau mau nimbrung di grup seblah, karena mereka pada aktif ".

karena saya orangnya paling hati-hati banget kalau ngirim pesan, biasanya saya akan membaca sampai berulang-ulang dan akan menghapus berulang-ulang pesan yang saya akan kirim, kemudian menulis yang baru dan mengirimnya setelah beberapa kali baca. namun malam ini saya dengan tanpa membaca apa yang saya tulis lagi saya menekan tombol kirim di aplikasi Wa malam itu setelah menulis, saya khawatir jika membaca satu kali saja maka saya yakin pesan itu tidak akan sampai karena rasa malu dan takut salah ngomong....

saya khawatir aja, sebagai admin bang syaiha akan merasa tidak dihargai jika saya seenaknya aja nga posting tulisan dan kemudian mau ikut nulis lagi....

saya merasa harus menghargai siapapun itu, walaupun kebanyakan orang mungkin menganggap hal itu nga penting, bagi saya saling menghargai, merupakan hal yang sangat penting.

menulis bagi saya memang sesuatu yang tidak mudah, sebagaimana dalam salah satu tulisan yang bunyinya " Untuk menulis 1 buku saja itu memang sulit, maka kalau hanya setengah atau 14 kalimat aja kita nga mau berusaha menulis apa lagi mau buat satu buku, mimpi kali yeeh..." entahla itu kata Bang Syaiha atau Mas Ken, kedua Orang Ini luar biasa banget dalam menulis, sampai tulisannya nga kelewat, sekalipun saya nga sempat nulis, saya berusaha selalu sempatkan membaca tulisan mereka, meskipun nga sempat komen....

"Smoga pekan ke tiga lebih komit." itu pesan Bang Syaiha yang super simpel namun sangat Serat dengan Makna. gaya bahasa yang mirip Bapak saya, beliau penuh wibawa, Jauh dengan sikap dan perkataan kasar namun penuh dengan ketegasan tapi tidak luput dari rasa tanggung jawab...

Trima kasih sudah memberi ruang  blajar buat orang sperti saya Bang....

smoga bisa lebih Baik kedepannya  Amin.....

Jumat, 05 Februari 2016

Siapa yang Lebih Saya Cintai



Minggu lalu saya kembali tergopoh-gopoh keluar dari kampus . 
Saya hampir lupa saya harus ke jl.Sungai pareman.

Saya dan beberapa teman memang punya jadwal kajian kitab pilar-pilar pengokoh Nafsiyah Islamiyah (Kepribadian Islam) hari selasa sore di rumah salah satu kakak yang mengisi kajian kami setiap pekannya.

Di kampus
Semua teman-teman suda pada sibuk untuk mendaftar seminar proposal, 
namun saya hampir terlupa dengan agenda kajian saya lantaran kesibukan di kampus
bersama teman-teman, “ ah ini nga lebih penting”. Gumamku,

sperti biasa saya suda di kenal teman-teman orang yang paling menganggap biasa urusan pelajaran dan seklimet tugas-tugas kampus (tapi bukan berarti menyepelehkan dan tidak menghiraukan yah..),

Alhamdulillah saya tidak pernah ketinggalan mengumpul tugas,
saya pun selalu mengerjakan UAS dan Final tanpa bantuan dari teman-teman apalagi yang namanya nyontek, oh NO, yah, pemahaman ini saya dapat dari tempat kajian, bukan karena ia jatuh dari langit yah, saya kadang bebas final, juga pernah dalam satu kelas ada 40 oarang hanya saya yang bebas final, tapi itu bukan suatu kebanggaan yah, saya hanya mencoba memahamkan kalau saya ini bukan mahasiswa yang  gini ceritanya...eh stop dulu, cerita yang ini lain kali yah kalau masih ingat...soalnnya ini cerita pas semester 2,3,4,5,6 sekarang saya suda hampir semester 8...(hehe kok jadinya curhat yah...)

Kita fokus dulu lagi yah di jl.sungai Pareman tadi (ih namanya serem yah...)

Sehabis pamitan dengan teman-teman, saya berlari menuju kost untuk shalat dan bergegas mencari angkutan umum. Untunglah saat saya keluar dari kost, kebetulan ada mobil yang singgah.
Setelah sampai diujung  jembatan “Daeng kiri-kiri” kataku terburu-buru lalu mengeluarkan uang  dari saku dan memberikannya ke pak sopir...

Saya buru-buru turun dari mobil dan berlari-lari memasuki lorong dekat sungai, dengan menenteng buku,dan menjinjing tas ransel yang tidak terlalu berat, saya berlari-lari kecil takut kalau-kalau saya akan terlambat.
Dan benar aja, sampai dirumah tempat kajian semua teman-teman telah siap, mereka duduk melingkar dengan buku tebal ditangannya.
Dengan nafas yang belum bisa diatur saya memberi salam, Alhamdulillah semua menjawab. Seperti biasa saya selalu mengambil posisi duduk didepan musyrifah saya, karena bagi saya satupun ilmu tak boleh saya lewatkan dan itu bisa saya lakukan kalau duduk didepan, saya akan merasa diperhatikan, jadi tidak ada kesempatan mata saya untuk mengantuk.

Saya mengambil posisi sambil menatap mata musyrifah saya, semoga saja beliau faham, saya mencoba membaca raut muka kakak yang ada dihadapan saya sambil membuka-buka halaman.

Salah satu teman membacakan isi kitab (buku) yang ada ditangannya dan yang lain kembali serius menyimak dan memperhatikan ayat yang dibaca..

Saya melirik halaman yang dibaca  salah satu teman....
sambil mendengar saya membuka halaman dan oh saya tertuju pada Ayat yang dibacakan, “ini dia ayat yang dibaca” gumamku dalam hati.

Katakanlah “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, istri- istri, kaum keluargamu, Harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad dijalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya. “Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (TQS. At-Taubah [9]: 24).

Dillanjutkan dengan dalil dari as-Sunnah diantaranya adalah:

Dari Anas ra. Sesungguhnya Nabi saw, bersabda:

Ia membacakan Hadist dan artinya . yang artinya “ Ada 3 perkara siapa saja yang memilikinya  ia telah merasakan manisnya iman. Yaitu orang yang mencintai Allah dan Rosulnya lebih dari yang lainnya; orang yang mencintai seseorang hanya karena Allah; dan orang yang tidak suka kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke Neraka (Muttafaq ‘alaih).

Dan satu hadist lagi yang menambah ketegangan saya pada saat itu, satu tamparan telak yang membuat saya menatap dalam-dalam buku tersebut. 

“Tidak beriman seorang hamba hingga aku lebih dicintai daripada keluarganya, hartanya, dan seluruh manusia yang lainnya (Muttafaq ‘alaih).

MasyaAllah... Saya melirik teman-tema disamping saya. Mereka terlihat sangat serius begitupun dengan saya, entah apa yang membuat mereka begitu serius. 
Entahlah, saya sendiri merasa sedih dengan diri saya yang hampir saja lebih mencintai dunia yang kadang melalaikan saya dari mengingat Allah, tugas-tugas hampir membuat saya kekurangan istirahat, bahkan shalat lail kadang tak saya kerjakan karena harus tidur larut malam. Ditambah lagi sewaktu belum ikut kajian seperti ini, saya ingat dengan kebiasaan saya dengan teman-teman, jika kami diburu tugas-tugas dari dosen atau jam kuliah yang bertepatan dengan waktu shalat dan sebagainya, sehingga hampir semua memilih untuk mementingkan urusan kuliah, ditambah lagi sikap seperti menduakan kewajiban ini kadang tak digubris oleh pengajar, ia bahkan melanjutkan pelajaran... Naudzubillah....


Saya berusaha menyembunyikan kesedihan saya, namun berbeda dengan salah satu teman yang duduk di sebelah kanan saya, ia tak mampu menyembunyikan air matanya....
Ia begitu menghayati apa yang dibacakan terlebih ketika sang musyrifah menjelaskan maksud dari hadist tersebut.... 

Saya sendiri merasa sedih dengan diri saya sendiri, akankan saya yang baru hijrah ini ketika mati,besok, nanti, atau jam ini, akan masuk kedalam syurganya Allah, apakah saya telah lebih mencintai Allah dan rosulnya ketimbang diri saya atau keluarga saya. Apaka rasa cinta saya terhadap Allah dan Rasul-Nya sudah melebihi rasa cinta saya terhadap Titel yang selama ini saya Buru, Apakah rasa Cinta  saya terhadap Allah dan Rasulnya sudah melebihi rasa cinta saya terhadap Pujian. Apakah rasa Cinta  saya terhadap Allah dan Rasulnya sudah melebihi rasa cinta saya terhadap Dunia dan Isinya.

Ya Allah, jangan-jangan saya tidak lebih mencintai Allah dan Rasulullah... jangan-jangan saya merasa saya telah beriman lantas saya akan diseret kelak ke Nerak.. Naudzubillah...
Astagfirullahal ghofururrohim...hamba mohon ampun kepadamu Ya Allah.
Ya Allah yang maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati-hati kami diatas Jalanmu

Wallahu ‘alam bissawab..


Kamis, 04 Februari 2016

Yang Tidak Kunjung Nikah

kata bang felix,

Memang betul,  tiada kunjung menikah itu menggelisahkan,  tetapi menikahi seseorang yang tak faham agama juga merupakan bukan kebahagiaan yang dinanti,  melainkan sebuah penderitaan hidup. walapun mungkin benar jumlah aktifis muslim tidak sebanyak aktifitas muslimah. menikah bukan sesuatu yang dilakukan tanpa perhitungan yang cukup,  bahkan dipaksain dengan seseorang yang nga faham itu bunuh diri namanya... 

kata pak ustadz,  carilah yang sholeh dan sholehah,  agar tujuan nikah yakni ibadah akan terpenuhi.

Rabu, 03 Februari 2016

Cobaan Meningkatkan Derajat



Saat  Diri kita Dalam kesedihan karena Masalah yang kita Hadapi, yakinlah bahwa Allah ingin kita lebih dekat denganya, saat yang lain  tidak  melihat permaslahn dan kesedihan kita hanya Allah satu-satunya yang tau akan hal itu
                Saat yang lain tidak empati kepada kita
                Ternyata Allahlah satu-satunya yang selalu mengawasi kita
                Saat yang lain  tidak bisa mendengakan kita
                Hanya Allah yang selalu ada mendengar curhatan bahkan semua cerita kita
Saat yang lain terlelap
Menikmati indahnya bunga tidur
Hanya Allah yang selalu siap mendengar dan mengabulkan meprmintaan kita
Meskipun itu Ditengah malam
                Ketahuilah bahwa masalh itu  berasal dari Allah Agar kita bersimpuh dihadapanya memohon kepadanya karena hanya dia yang maha bijaksana,maha,mendengar,maha melihat dan penyayang diantara yang penyanyang.
                Ketahulah bahwa jka orang-orang Quraisy tidak menyiksa keluarga Yasir RA. Apakah keluarga yasir akan mendaptkan kehormatan . “Sabarlah  keluarga Yasir,sesungguhnya tempat kalian kelak di surga.”

                               Allah Menguji kekuatanmu dalam meminta kepada Kepadanya.
                                Karena Cobaan itu Meningkatkan derajat,Menghapus Dosa

Selasa, 02 Februari 2016

Salah Pengharapan Part 2

Harapan,
entah bagaimana bentuk harapan itu,
saat ia berputar-putar di benak seseorag.

Harapan, kata ini membuatku bingung, entah bagaimana dan dari mana tulisan ini akan saya mulai, sejak saat itu saya membuka mesegger dari seseorang.

Saya mulai menyusun ingatan demi ingatan dikepala, mencari informasi bagaikan beselancar di om google.

Harapan. Apa yang salah dengan kata ini,
bukankah karena harapan seorang ibu tak berputus asa menyayangi dan merawat anaknya, meskipun ia tak tau apakah ia akan tumbuh menjadi anak manis yang sholeh/sholehah.

Karena harapan ibu tidak pernah mengeluh
bagaimana jika ia belum sempat tumbuh menjadi anak yang manis lantas dipangil oleh Allah. Tidak. Harapan ibu membuat ibu semakin semangat.

Harapan, apa yang salah dengan kata ini?
Bukankah karna harapan ayah relah membanting tulang menguras keringat mulai menanam buah-buahan saat kita masih kecil?

Karena harapan anaknya akan tumbuh dan menikmati buah yang ayah tanam. bahkan saat menanam sering pohon ini mati karena kekeringan,  tapi ayah tak pernah mengeluh. Sungguh ayah kembali menanam pohon yang baru, hinggah sekarang kita bisa menikmati buah yang ayah tanam,  itulah kekuatan harapan.

Lantas apa yang salah dengan harapan? Yah! Saya mulai faham setelah mendapat pesan dari teman. Isi pesanya adalah gambar yang di edit dengan nasihat sang guru.

Dari imam Syafi'e
"Ketika Hatimu terlalu berharap pada seseorang, maka Allah timpahkan atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain kepada Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu berharap kepadanya. "

Iya Ibu pecaya bahwa anak-anak adalah titipan dari sang khaliq, ia pecaya bahwa Allah mempercayakan kami kepada ibu,  sehinggah ketika ibu berusaha merawat kami,  entah kami akan tumbuh ataukah Allah memanggil kita ibu tak pernah putus asa, karena Allahlah yang mengatur segalanya Ibu sandarkan kepada Allah,  begitu juga dengan Ayah,  Ayah tau Kami dititip oleh Allah, maka Allah tidak akan membiarkan kami kelaparan, yang Ayah tau adalah berusaha menyandarkan semua kepada Allah,  karena Dialah sang pemilik rezeki.

Seharusnya begitupun bagi yang lagi gunda gulana,  galau merana,  maratap merayap (kayak cicak aja merayap hehe) lebay deh muda-mudi sekarang.

Yah banyak orang yang hari ini terlalu berharap kepada manusia dan khawatir atas rezeki, keturunan dan pastinya jodoh.

Nah berbicara masalah jodoh,  (sok tau amat) hari itu saya menyempatkan untuk jalan-jalan ke kampus 2, kebetulan kampus UNCP itu ada 3, biasanya saya kuliah di kampus 1, tapi karena hari itu saya ada janjian dengan adik junior jadi saya harus ke kampus 2, kebetulan kami janjian di mushaAllah....

Sesampainya di Mushallah kampus, adik yang saya temani janjian tiba-tiba nga ada hujan dan badai dia berhalangan datang,  dengan berusaha sedikit tenang saya membalas pesan singkatnya "oi tidak masalah dik,  tapi dipindahkan ke hari yang lain yah, sms aj hari dan jamnya, saya tunggu minggu ini yah,".

Dengan menghela nafas panjang,  saya kembali melihat mahasiswa yang ada disekeliling mushallah, sifat sok kenal sok dekat saya terpancing ketika melihat sosok muslimah dipojok mushallah dengan seorang temannya, sebenarnya saya agak minder sih karena kerudungnya lebih besar dari saya, tapi saya perhatikan ia menggunakan baju potongan, kacamatanya membuat saya semakin tidak percaya diri, yang awalnya semangat menjadi ciut....

"Duh Eka, Seorang muslim itu bersaudara,  kalau ia orang yang faham,  ia akan menjawab salam dari kamu, bukankah selama ini kamu sendiri yang selalu menyampaikan bahwa kita harus menyambung tali silah ukhuwah, persaudaraan diantara kita tidak diukur dari pakaian,  karena masalah kerudung yang engkau fahami dalam Qs.An-nur:31 dan jalabah atau baju kurung yang kamu jadikan dalil atau pegangangan ada dalam Qs Al-Ahzab 59, jadi pakaian yang dia kenakan itu juga pasti ada dalilnya, InsyaAllah semua akan Allah tanyai di akhirat kelak, ingat loh berbuat karena Allah yah,  bukan pakai standar manusia," hmm, saya kembali menghela nafas panjang setelah menasihati diri sendiri.

Dengan langkah tenag dan senyum, saya menyapa mereka,
"Assalamualaikum ukhti". "Waalaikumussalam" jawaban yang juga cukup ramah.

Setelah agak lama berbincang dan mengetahui kalau ia adalah adik junior. Sampailah pada sebuah pertanyaan yang membuat saya tercengang, pertanyaan sekaligus curhatan.

Yah entah apa yang membuat ia begitu percaya kepada saya yang baru kali ini dipertemukan, semoga jawaban saya dapat memberi manfaat dan tak meleset dari apa yang pernah saya baca dan pelajari.

Ia bercerita tentang seorang keluarganya namun saya minta agar tak usah disebut namanya,cukup menjadi pelajaran kataku.  Akhirnya ia bercerita panjang lebar yang inti pertanyaanya bagaimana jika seorang wanita atau laki-laki saling berharap akan berjodoh,  bahkan ia kadang telponan agar orang yang ia dambakan tak diambil orang lain, ia tak pacaran, tak pernah ketemuan,  pegangan tangan tidak pernah ia lakukan,  tapi satu hal ia sering ditelpon dan dijanji akan dilamar...ngeh hati saya mendengarnya, so sweet yah, kata orang, tapi tidak bagi saya..

Saya kemudian menjawab pertanyaan ukhti tadi,  afwan (maaf)  dek,  untuk menjawab pertanyaan adek saya sebenarnya sangat minim ilmu, tapi Alhamdulillah sebelum dipertemukan adik,  Allah perkenankan saya membaca buku judulnya udah putusin Aja,  bukunya keren dik,  disana dibahas tuntas masalah kegalauan dan sbagainya plus didukung dalil Al-Quran dan Hadis

lelaki sejati itu yang langsung datangi walinya,  bukan pada si A. Nah lebih ngena lagi nih, ini untuk saya juga yah jawaban ini, memiliki cinta itu luar biasa, namun sebelum akad semua bisa jadi berbahaya. Bisa mencintai itu sebuah anugrah,  tapi sebelum pernikahan itu sesuatu yang salah.

Setiap lelaki dan wanita pasti memiliki nafsu. Itu  adalah fitrah dan manusiawi. karenanya Islam mengatur agar lelaki tidak melakukan interaksi yang melewati batas sebelum mereka siap menikah, sebab interaksi yang dilakukan terus menerus pasti akan lahirkan rasa. Bila belum siap pemenuhannya bisa fatal.

Bagaikan kupu-kupu yang memaksa keluar dari kepompong sebelum waktunya. Begitulah cinta bisa dibunuh sebelum waktunya. Bertamabah umur memang tidak menjamin benarnya amal, tapi cinta punya guru terbaik yang bisa mengajarinya yakni waktu.

Kalau laki-laki tadi suda siap menikah datangi walinya saja,  jangan mengumbar janji.

Nah pernah nonton film 7 petala cinta?
Sebenarnya saya nga suka nonton tapi kalau yang bisa kita petik hikmahnya apalagi film islam yah saya akan luangkan sedikit waktu.

Nah di sana ada pesan yang amat dalam dan saya sengaja mendownload pas pesan itu saja dan saya akan putar sampai saya merasa bosan.

Semoga saya tidak lupa pesannya seperti ini
"Bila awak mau cinta saya, carilah dulu cinta Allah. Bila awak mau rindu saya, rinduilah dulu Allah dan Rosulnya,j ika awak mau sayang saya, sayangilah dulu agama lebih daripada diri saya."

Pesan ini sangat dalam dik, cinta dan mencintai itu fitrah tapi ingat ada yang sepatuntya kita cintai dulu sebelum makhlunya, yakni Allah sang pemilik cinta, sang pemilik hati dan Sang pemilik makhluk.

Jika Kita mencintai Allah lebih dari siapapun, maka yakin Allah akan mengirimkan hambanya yang juga mencintai Allah dan Rosulnya. Sehingga ketika cinta yang dibangun dan dipertemukan karena Allah, maka cinta itu akan abadi karena Allahlah sang pemilik keabadian yang menjadikannya abadi, InshaAllah.

Kita menahan rasa karena Allah, kita menanti karena Allah. Kita dipertemukan karena Allah, dan kita akan dipisahkan karena Allah.

Jangan gantungkan harapan kecuali kepada Allah. Allah mengingatkan kita semua dalam firmanNya "Berdoalah kepada-ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu, sesungguhnya orang yang menyombongkan diri dari menyembah-ku, akan masuk neraka dalam
keadaan hina dina." (TQS. Al-Mu'min:60)

Mintalah kepada Allah dengan rasa rendah.rasa takut tidak akan diterima doa-doa kita, dan juga dengan harapan diterima doa kita, mintalah dengan penuh penghambaan. Allah maha mendengar. bila itu adalah urusannya orang-orang yang beriman Allah tidak akan menelantarkan mereka. Allah pasti akan menolong setiap hamba yag menolong agamanya (QS. Muhammad :7)

wallahu A'lam...

Senin, 01 Februari 2016

Salah Pengharapan

Salahkah...
Saat aku menatap langit yang biru
aku selalu berharap ada kedamaian disana.

salahkah....
Saat diri ini mulai merangkak,
belajar berjalan,  kuharap ada
tangan-tangan siap menjagaku
saat hendak terjatuh...

Terkadang kita terlau berharap pada seseorang, kadang sangat menghormati seseorang, bahkan sangat mengagumi sosoknya.

Saya teringat dengan perkataan guru saya, beliau berkata "Tolong jangan engkau memuji  dan terlalu berharap bantuanku nak, karena sesungguhnya jika Allah menampakkan kekurangan dan kelalaianku, maka ananda akan kecewa pada diri bapak yang lemah ini".

saat setumpuk amanah dan seabrek tugas sedang kita hadapi,  saat itulah kita mengharap arahan, bimbingan, bahkan hanya sekedar basa-basi dari seseorang,  untuk melepaskan kepenatan otak.

Namun ini yang akan membuat kita kecewa,  sebagaimana Pak Guru katakan,  ketika manusia-manusia yang kita harapkan terlanjur sibuk dengan urusannya, tak sempat hanya sekedar mau mendengarkan ocehan dan rengekan sikecil ini, maka saat itulah kekecewaan akan timbul...

Manusia memang lemah, tempatnya salah,  apatahlagi saat ini banyak manusia-manusia individualis ( siapa loe,  siapa gue, loe gue end.)

Islam mengajarkan agar berbaik sangka,
Mungkin Allah mengingatkan kita
akan dzat yang hanya kepadanyalah segala pengharapan itu ditumpuhkan.

Ya! Dialah Allah SWT,  dzat yang tidak pernah luput,  sebanyak dan seluas apapun kesalahan kita,  jika kita kembali kepadanya, maka rahmatnya dan kasihnya lebih luas ia berikan pada kita....

wallahu a'lam....

Mendidik Anak Usia Dini

Terkadang saya mendengar perkataan orang tua yang mengatakan otak anak saya belum siap menempuh pendidikan dan belajar. Padahal ...