Jika para sahabat dijamin masuk syurga karena sumbangsinya terhadap islam kala itu maka hari ini Menulislah sebagai sumbangan peradaban yang akan datang, setidaknya untuk dunia saat ini....
Minggu, 14 Februari 2016
Kenapa Harus ber Capek-Capek di Dunia
Pesan Simpel Bang Syaiha
malam itu saya memberanikan diri ngeJapri Bang Syaiha, admin ODOP,
"Assalamualaikum Bang, saya minta maaf akhir-akhir ini saya nga aktif ngODOP, akhir-akhir ini sibuk banget bang, jujur saya kewalahan sendiri ngebayar hutang, ternyata utang nulis saya suda 9 di bulan februari, minggu pertama cuma sempat ngepost sehari.... bang gimana dong bang saya kadang malu kalau mau nimbrung di grup seblah, karena mereka pada aktif ".
karena saya orangnya paling hati-hati banget kalau ngirim pesan, biasanya saya akan membaca sampai berulang-ulang dan akan menghapus berulang-ulang pesan yang saya akan kirim, kemudian menulis yang baru dan mengirimnya setelah beberapa kali baca. namun malam ini saya dengan tanpa membaca apa yang saya tulis lagi saya menekan tombol kirim di aplikasi Wa malam itu setelah menulis, saya khawatir jika membaca satu kali saja maka saya yakin pesan itu tidak akan sampai karena rasa malu dan takut salah ngomong....
saya khawatir aja, sebagai admin bang syaiha akan merasa tidak dihargai jika saya seenaknya aja nga posting tulisan dan kemudian mau ikut nulis lagi....
saya merasa harus menghargai siapapun itu, walaupun kebanyakan orang mungkin menganggap hal itu nga penting, bagi saya saling menghargai, merupakan hal yang sangat penting.
menulis bagi saya memang sesuatu yang tidak mudah, sebagaimana dalam salah satu tulisan yang bunyinya " Untuk menulis 1 buku saja itu memang sulit, maka kalau hanya setengah atau 14 kalimat aja kita nga mau berusaha menulis apa lagi mau buat satu buku, mimpi kali yeeh..." entahla itu kata Bang Syaiha atau Mas Ken, kedua Orang Ini luar biasa banget dalam menulis, sampai tulisannya nga kelewat, sekalipun saya nga sempat nulis, saya berusaha selalu sempatkan membaca tulisan mereka, meskipun nga sempat komen....
"Smoga pekan ke tiga lebih komit." itu pesan Bang Syaiha yang super simpel namun sangat Serat dengan Makna. gaya bahasa yang mirip Bapak saya, beliau penuh wibawa, Jauh dengan sikap dan perkataan kasar namun penuh dengan ketegasan tapi tidak luput dari rasa tanggung jawab...
Trima kasih sudah memberi ruang blajar buat orang sperti saya Bang....
smoga bisa lebih Baik kedepannya Amin.....
Jumat, 05 Februari 2016
Siapa yang Lebih Saya Cintai
Kamis, 04 Februari 2016
Yang Tidak Kunjung Nikah
Rabu, 03 Februari 2016
Cobaan Meningkatkan Derajat
Karena Cobaan itu Meningkatkan derajat,Menghapus Dosa
Selasa, 02 Februari 2016
Salah Pengharapan Part 2
Harapan, kata ini membuatku bingung, entah bagaimana dan dari mana tulisan ini akan saya mulai, sejak saat itu saya membuka mesegger dari seseorang.
Saya mulai menyusun ingatan demi ingatan dikepala, mencari informasi bagaikan beselancar di om google.
Harapan. Apa yang salah dengan kata ini,
bukankah karena harapan seorang ibu tak berputus asa menyayangi dan merawat anaknya, meskipun ia tak tau apakah ia akan tumbuh menjadi anak manis yang sholeh/sholehah.
bagaimana jika ia belum sempat tumbuh menjadi anak yang manis lantas dipangil oleh Allah. Tidak. Harapan ibu membuat ibu semakin semangat.
Harapan, apa yang salah dengan kata ini?
Bukankah karna harapan ayah relah membanting tulang menguras keringat mulai menanam buah-buahan saat kita masih kecil?
Lantas apa yang salah dengan harapan? Yah! Saya mulai faham setelah mendapat pesan dari teman. Isi pesanya adalah gambar yang di edit dengan nasihat sang guru.
Iya Ibu pecaya bahwa anak-anak adalah titipan dari sang khaliq, ia pecaya bahwa Allah mempercayakan kami kepada ibu, sehinggah ketika ibu berusaha merawat kami, entah kami akan tumbuh ataukah Allah memanggil kita ibu tak pernah putus asa, karena Allahlah yang mengatur segalanya Ibu sandarkan kepada Allah, begitu juga dengan Ayah, Ayah tau Kami dititip oleh Allah, maka Allah tidak akan membiarkan kami kelaparan, yang Ayah tau adalah berusaha menyandarkan semua kepada Allah, karena Dialah sang pemilik rezeki.
Seharusnya begitupun bagi yang lagi gunda gulana, galau merana, maratap merayap (kayak cicak aja merayap hehe) lebay deh muda-mudi sekarang.
Yah banyak orang yang hari ini terlalu berharap kepada manusia dan khawatir atas rezeki, keturunan dan pastinya jodoh.
Nah berbicara masalah jodoh, (sok tau amat) hari itu saya menyempatkan untuk jalan-jalan ke kampus 2, kebetulan kampus UNCP itu ada 3, biasanya saya kuliah di kampus 1, tapi karena hari itu saya ada janjian dengan adik junior jadi saya harus ke kampus 2, kebetulan kami janjian di mushaAllah....
Sesampainya di Mushallah kampus, adik yang saya temani janjian tiba-tiba nga ada hujan dan badai dia berhalangan datang, dengan berusaha sedikit tenang saya membalas pesan singkatnya "oi tidak masalah dik, tapi dipindahkan ke hari yang lain yah, sms aj hari dan jamnya, saya tunggu minggu ini yah,".
"Duh Eka, Seorang muslim itu bersaudara, kalau ia orang yang faham, ia akan menjawab salam dari kamu, bukankah selama ini kamu sendiri yang selalu menyampaikan bahwa kita harus menyambung tali silah ukhuwah, persaudaraan diantara kita tidak diukur dari pakaian, karena masalah kerudung yang engkau fahami dalam Qs.An-nur:31 dan jalabah atau baju kurung yang kamu jadikan dalil atau pegangangan ada dalam Qs Al-Ahzab 59, jadi pakaian yang dia kenakan itu juga pasti ada dalilnya, InsyaAllah semua akan Allah tanyai di akhirat kelak, ingat loh berbuat karena Allah yah, bukan pakai standar manusia," hmm, saya kembali menghela nafas panjang setelah menasihati diri sendiri.
Dengan langkah tenag dan senyum, saya menyapa mereka,
"Assalamualaikum ukhti". "Waalaikumussalam" jawaban yang juga cukup ramah.
Setelah agak lama berbincang dan mengetahui kalau ia adalah adik junior. Sampailah pada sebuah pertanyaan yang membuat saya tercengang, pertanyaan sekaligus curhatan.
Yah entah apa yang membuat ia begitu percaya kepada saya yang baru kali ini dipertemukan, semoga jawaban saya dapat memberi manfaat dan tak meleset dari apa yang pernah saya baca dan pelajari.
Ia bercerita tentang seorang keluarganya namun saya minta agar tak usah disebut namanya,cukup menjadi pelajaran kataku. Akhirnya ia bercerita panjang lebar yang inti pertanyaanya bagaimana jika seorang wanita atau laki-laki saling berharap akan berjodoh, bahkan ia kadang telponan agar orang yang ia dambakan tak diambil orang lain, ia tak pacaran, tak pernah ketemuan, pegangan tangan tidak pernah ia lakukan, tapi satu hal ia sering ditelpon dan dijanji akan dilamar...ngeh hati saya mendengarnya, so sweet yah, kata orang, tapi tidak bagi saya..
Saya kemudian menjawab pertanyaan ukhti tadi, afwan (maaf) dek, untuk menjawab pertanyaan adek saya sebenarnya sangat minim ilmu, tapi Alhamdulillah sebelum dipertemukan adik, Allah perkenankan saya membaca buku judulnya udah putusin Aja, bukunya keren dik, disana dibahas tuntas masalah kegalauan dan sbagainya plus didukung dalil Al-Quran dan Hadis
lelaki sejati itu yang langsung datangi walinya, bukan pada si A. Nah lebih ngena lagi nih, ini untuk saya juga yah jawaban ini, memiliki cinta itu luar biasa, namun sebelum akad semua bisa jadi berbahaya. Bisa mencintai itu sebuah anugrah, tapi sebelum pernikahan itu sesuatu yang salah.
Setiap lelaki dan wanita pasti memiliki nafsu. Itu adalah fitrah dan manusiawi. karenanya Islam mengatur agar lelaki tidak melakukan interaksi yang melewati batas sebelum mereka siap menikah, sebab interaksi yang dilakukan terus menerus pasti akan lahirkan rasa. Bila belum siap pemenuhannya bisa fatal.
Bagaikan kupu-kupu yang memaksa keluar dari kepompong sebelum waktunya. Begitulah cinta bisa dibunuh sebelum waktunya. Bertamabah umur memang tidak menjamin benarnya amal, tapi cinta punya guru terbaik yang bisa mengajarinya yakni waktu.
Kalau laki-laki tadi suda siap menikah datangi walinya saja, jangan mengumbar janji.
Nah pernah nonton film 7 petala cinta?
Sebenarnya saya nga suka nonton tapi kalau yang bisa kita petik hikmahnya apalagi film islam yah saya akan luangkan sedikit waktu.
Nah di sana ada pesan yang amat dalam dan saya sengaja mendownload pas pesan itu saja dan saya akan putar sampai saya merasa bosan.
Semoga saya tidak lupa pesannya seperti ini
"Bila awak mau cinta saya, carilah dulu cinta Allah. Bila awak mau rindu saya, rinduilah dulu Allah dan Rosulnya,j ika awak mau sayang saya, sayangilah dulu agama lebih daripada diri saya."
Senin, 01 Februari 2016
Salah Pengharapan
Salahkah...
Saat aku menatap langit yang biru
aku selalu berharap ada kedamaian disana.
salahkah....
Saat diri ini mulai merangkak,
belajar berjalan, kuharap ada
tangan-tangan siap menjagaku
saat hendak terjatuh...
Terkadang kita terlau berharap pada seseorang, kadang sangat menghormati seseorang, bahkan sangat mengagumi sosoknya.
Saya teringat dengan perkataan guru saya, beliau berkata "Tolong jangan engkau memuji dan terlalu berharap bantuanku nak, karena sesungguhnya jika Allah menampakkan kekurangan dan kelalaianku, maka ananda akan kecewa pada diri bapak yang lemah ini".
saat setumpuk amanah dan seabrek tugas sedang kita hadapi, saat itulah kita mengharap arahan, bimbingan, bahkan hanya sekedar basa-basi dari seseorang, untuk melepaskan kepenatan otak.
Namun ini yang akan membuat kita kecewa, sebagaimana Pak Guru katakan, ketika manusia-manusia yang kita harapkan terlanjur sibuk dengan urusannya, tak sempat hanya sekedar mau mendengarkan ocehan dan rengekan sikecil ini, maka saat itulah kekecewaan akan timbul...
Manusia memang lemah, tempatnya salah, apatahlagi saat ini banyak manusia-manusia individualis ( siapa loe, siapa gue, loe gue end.)
Islam mengajarkan agar berbaik sangka,
Mungkin Allah mengingatkan kita
akan dzat yang hanya kepadanyalah segala pengharapan itu ditumpuhkan.
Ya! Dialah Allah SWT, dzat yang tidak pernah luput, sebanyak dan seluas apapun kesalahan kita, jika kita kembali kepadanya, maka rahmatnya dan kasihnya lebih luas ia berikan pada kita....
wallahu a'lam....
Mendidik Anak Usia Dini
Terkadang saya mendengar perkataan orang tua yang mengatakan otak anak saya belum siap menempuh pendidikan dan belajar. Padahal ...
-
Akhir-akhir ini dunia remaja Indonesia di hebohkan dengan sebuah film bioskop yang mengangkat tema percintaan anak SMA dengan judul "Di...
-
kami menempuh perjalanan dari kota palopo menuju ke rumah kak sri di daerah selatan palopo salah satu daerah kabupaten luwu tepatnya di daer...
-
Terkadang saya mendengar perkataan orang tua yang mengatakan otak anak saya belum siap menempuh pendidikan dan belajar. Padahal ...


